Ilustrasi orang yang terlalu lama duduk, punya risiko alami serangan jantung kedua.
INDOZONE.ID - Mengurangi waktu duduk selama 30 menit setiap hari dengan aktivitas fisik ringan, sedang, hingga berat, atau bahkan tidur, dapat secara signifikan menurunkan risiko serangan jantung kedua.
Hal ini terungkap dalam sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Circulation: Cardiovascular Quality and Outcomes.
Menurut American Heart Association (AHA), sekitar satu dari lima orang yang pernah mengalami serangan jantung, akan mengalami serangan kedua dalam lima tahun.
Serangan jantung juga meningkatkan risiko gangguan jantung lainnya, seperti aritmia, gagal jantung, dan henti jantung mendadak.
“Risiko tetap tinggi bagi penyintas serangan jantung, meskipun mereka telah mendapatkan pengobatan dan terapi terbaik,” ucap Pakar Fisiologi Olahraga dan Penulis Utama Studi, Dr. Keith Diaz, seperti dikutip dari Medical News Today.
“Karena itu, penting untuk menemukan cara tambahan dalam menurunkan risiko ini,” sambungnya.
Baca Juga: Perhatian untuk Perempuan! Hati-hati Nyeri Leher Mengintai Akibat Duduk Lebih dari Enam Jam Sehari
Dalam studi ini, para peneliti merekrut lebih dari 600 orang dewasa berusia 21 hingga 96 tahun yang baru saja dirawat, karena serangan jantung atau nyeri dada.
Setelah keluar dari rumah sakit, mereka diminta mengenakan alat akselerometer di pergelangan tangan selama rata-rata 30 hari, untuk mengukur tingkat aktivitas dan waktu duduk.
Dr. Diaz mengungkapkan, banyak penyintas serangan jantung yang takut berolahraga. Sebab, sensasi tubuh saat beraktivitas intens, bisa mengingatkan mereka pada pengalaman serangan jantung sebelumnya.
Akibatnya, banyak dari mereka menghabiskan lebih dari 13 jam per hari untuk duduk diam.
Hasil studi menunjukkan, peserta yang menghabiskan lebih dari 14 jam sehari dalam kondisi duduk, memiliki risiko dua kali lipat mengalami serangan jantung kedua, atau harus kembali dirawat dalam waktu satu tahun setelah kejadian pertama.
“Ini membuktikan bahwa perilaku sedenter adalah kebiasaan berbahaya yang berdampak negatif terhadap pemulihan dan kesehatan jangka panjang,” ujar Diaz.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Medical News Today