Rabu, 23 JULI 2025 • 19:35 WIB

Sering Disalahpahami, Ini Perbedaan Burnout dan Depresi!

Author

Ilustrasi burnout. (freepik)

INDOZONE.ID - Di tengah meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental, banyak orang yang masih keliru membedakan antara burnout dan depresi

Dua hal tersebut kerap disamakan karena memiliki gejala yang serupa, seperti kelelahan ekstrim, kehilangan semangat, hingga kesulitan berkonsentrasi. 

Padahal, burnout dan depresi adalah dua hal yang berbeda baik secara medis maupun psikologis. 

Kesalahan dalam mendiagnosa diri sendiri bisa berujung pada penanganan yang tidak tepat dan lambat, dimana hal tersebut bisa berakibat fatal, lho!

Baca juga: 7 Manfaat Jus Blueberry untuk Kesehatan Tubuh, Terutama untuk Otak

Menurut WHO, burnout bukanlah gangguan medis, melainkan sebuah fenomena yang kadang terjadi karena pengerjaan sesuatu yang berlebihan dalam bekerja. 

Sementara itu, depresi adalah salah satu jenis penyakit mental yang mempengaruhi perasaan, cara berpikir, dan perilaku seseorang. 

American Psychiatric Association (APA) juga mengklaim bahwa burnout adalah pengalaman, bukan sebuah diagnosa medis.

Burnout biasanya dialami oleh sekelompok orang yang bekerja dalam lingkup pelayanan atau yang berada dalam dunia kerja dengan tekanan tinggi, seperti: pekerja sosial, guru, petugas pemasyarakatan, dokter, perawat, terapis, dan konselor trauma. 

Studi oleh Fischer et.al, pada tahun 2020 mengatakan bahwa gejalanya keduanya ternyata sangat berbeda ketika ditilik lebih dalam. 

Untuk mendapatkan penanganan yang tepat, penting untuk membedakan gejala antara burnout dan depresi dengan tepat.

Baca juga: Kenali Gejala Diseksi Aorta Sejak Dini untuk Cegah Komplikasi yang Berbahaya

Gejala Depresi 

Untuk benar-benar dapat didiagnosis sebagai depresi, seseorang harus mengalami setidaknya 5 gejala dibawah ini selama 2 minggu berturut-turut atau lebih.

  1. suasana hati yang murung atau sedih berkepanjangan
  2. kehilangan motivasi dalam kegiatan yang sebelumnya diminati
  3. meningkatnya rasa lelah dan kehilangan energi
  4. perubahan nafsu makan
  5. gerakan atau bicara lambat, aktivitas tidak terarah meningkat
  6. perasaan tidak berharga dan rasa bersalah yang berlebihan
  7. munculnya pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bahkan bunuh diri
  8. kesulitan berkonsentrasi, berpikir, atau mengambil keputusan

Baca juga: Mengintip Bagaimana Dokter Dilatih Menangani Pasien Gigitan Ular Berbisa

Gejala Burnout

Burnout memiliki beberapa gejala utama:

  1. perasaan lelah secara emosional, fisik dan mental
  2. keluhan fisik seperti nyeri atau masalah pencernaan
  3. menjadi sinis terhadap pekerjaan atau rekan kerja
  4. tidak peduli, menjauh dari lingkungan kerja
  5. tidak termotivasi, sulit fokus, kurang kreatif, kehilangan produktivitas

Dengan gejala yang berbeda, penanganan antar keduanya pun juga sangat berbeda. 

Baca juga: Dampak Konsumsi Gula Berlebih Ternyata Bisa Pengaruhi Kerja Otak hingga Kesehatan Mental!

Penangan Depresi

Depresi dapat ditangani oleh perawatan medis, namun penanganannya berbeda  tergantung tipenya. 

Treatment seperti konsumsi obat-obatan anti-depresan, psikoterapi, kombinasi terapi dan pengobatan, dan perubahan gaya hidup dapat membantu menangani depresi. 

ECT (Electroconvulsive Therapy) juga biasanya digunakan untuk kasus berat seperti yang sudah dalam tahap ingin mengakhiri diri, tidak mau makan, depresi saat hamil, dan seterusnya. 

Baca juga: Anak-anak Makan Telur Setiap Hari? Begini Efek yang Akan Ditimbulkan

Penanganan Burnout

Penanganan burnout dapat dilakukan dengan peningkatan self-care, seperti menjaga pola makan sehat, tidur cukup, dan rutin berolahraga. 

Selain itu, melakukan kegiatan menyenangkan di luar kerja, refleksi diri dan evaluasi pekerjaan, dapat mengembalikan energi dan semangat. 

Dukungan dari orang terdekat, baik keluarga maupun teman, juga sangat berperan dalam proses pemulihan.  

Baca juga: Bukan Cuma Sabar! Ini 7 Strategi Menghadapi Orang Negatif Tanpa Drama

Nah, itulah mengapa membedakan antara burnout dan depresi itu penting. Meski sekilas gejalanya mirip, keduanya punya ciri dan cara penanganan yang berbeda. 

Jangan sampai salah kaprah, ya! Salah mengenali kondisi mental dapat membuat kita mengambil langkah yang kurang tepat, bahkan memperburuk keadaan, lho!

Yuk, lebih peka terhadap diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita. Kalau kamu sudah terlalu lelah secara mental, kehilangan motivasi, atau mulai menarik diri dari kehidupan sehari-hari, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional!

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Medicalnewstoday.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU