INDOZONE.ID – Menopause menandai berakhirnya masa reproduksi seorang perempuan. Biasanya, terjadi 12 bulan setelah menstruasi terakhir.
Pada masa transisi menuju maupun setelah menopause, banyak perempuan mengalami gejala. Mulai dari hot flashes (rasa panas mendadak), keringat malam, vagina yang terasa kering, penurunan gairah seksual, hingga kesulitan konsentrasi dan mengingat.
Untuk meredakan keluhan tersebut, sebagian perempuan menjalani terapi hormon dalam bentuk patch (tempelan), gel, atau obat oral. Terapi ini biasanya, mengandung estrogen, terutama estradiol, serta progestogen bagi mereka yang masih memiliki rahim.
Kini, suatu penelitian yang dikutip dari Medical News Today, menunjukkan, terapi estradiol bukan hanya bermanfaat meredakan gejala vasomotor, tetapi juga dapat berdampak positif pada daya ingat.
Baca juga: Menyingkap ‘Menopause Pria’: Fakta, Penyebab, dan Penanganannya
Efek Berbeda pada Jenis Memori
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Neurology, milik American Academy of Neurology itu, menemukan perbedaan pengaruh estradiol transdermal (patch atau gel) dengan estradiol oral terhadap fungsi memori.
Hasil penelitian menunjukkan, estradiol transdermal lebih efektif dalam meningkatkan memori episodik, yaitu kemampuan mengingat pengalaman masa lalu.
Sementara estradiol oral, lebih banyak membantu prospektif memori, yakni kemampuan mengingat tugas atau rencana di masa depan. Seperti, jadwal minum obat atau janji pertemuan.
Namun, kedua jenis terapi ini tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap fungsi eksekutif, yakni kemampuan otak dalam perencanaan dan pemecahan masalah.
“Studi ini menyoroti perbedaan pengaruh terapi hormon terhadap fungsi kognitif, terutama terkait jenis estrogen yang digunakan dan waktu dimulainya menopause,” kata pakar kesehatan perempuan dari Providence Saint John’s Health Center, Santa Monica, AS, Dr. Sherry Ross.
“Hal ini penting dalam memberikan konseling kepada pasien mengenai manfaat dan risiko terapi hormon terhadap daya ingat,” sambungnya.
Meski memberi dampak positif pada memori, para peneliti menegaskan, manfaat kognitif dari terapi estradiol masih tergolong modest atau terbatas.
Selain itu, studi ini memiliki keterbatasan, seperti mayoritas peserta berkulit putih dan berasal dari kelompok ekonomi lebih tinggi.
“Brain fog dan penurunan kognitif adalah keluhan umum pada menopause dan proses penuaan. Terapi hormon mungkin membantu memperlambat penurunan fungsi kognitif, meski manfaatnya masih spesifik pada jenis memori tertentu,” ujar Ross.
Ross menambahkan, estradiol transdermal lebih stabil dan efisien, karena tidak melewati metabolisme hati. Sehingga, lebih mendukung area otak yang berperan dalam memori.
Baca juga: 6 Cara Mempersiapkan Diri Menghadapi Menopause dengan Lebih Baik
Melibatkan Ribuan Perempuan
Penelitian ini menggunakan data dari 7.251 perempuan pascamenopause yang ikut dalam Canadian Longitudinal Study on Aging (CLSA). Rata-rata partisipan mengalami menopause pada usia 50,5 tahun, dan saat penelitian dimulai berusia sekitar 60,5 tahun.
Dari seluruh peserta, 6 persen menggunakan terapi estradiol, terdiri dari 4 persen transdermal dan 2 persen oral. Hasil tes menunjukkan:
- Perempuan pengguna estradiol transdermal tampil lebih baik dalam uji memori episodik.
- Pengguna estradiol oral menunjukkan, hasil lebih baik pada memori prospektif.
- Tidak ada perbedaan berarti pada fungsi eksekutif.
Menurut Konsultan Ginekologi di Cadogan Clinic, London, Dr. Anand Singh, hal ini bisa terjadi karena fungsi eksekutif bergantung pada jaringan kompleks di korteks prefrontal otak.
Kondisi tersebut mungkin kurang sensitif, terhadap estrogen dibandingkan area otak yang mengatur memori, seperti hipokampus.
Anand Singh menambahkan, terapi estradiol transdermal menunjukkan profil paling menjanjikan, untuk mendukung memori.
Namun, penelitian jangka panjang tetap dibutuhkan, untuk memastikan manfaatnya terhadap kesehatan otak dalam jangka panjang.
Patch vs Pil: Apa Bedanya?
Penulis utama studi dari Centre for Addiction and Mental Health, Toronto, Dr. Liisa A. M. Galea, menyampaikan, perbedaan efek ini berkaitan dengan cara tubuh memproses obat.
“Hormon yang diminum akan dipecah di hati, sehingga estradiol berubah menjadi estron, bentuk estrogen yang lebih lemah," ucap Galea.
"Sebaliknya, estradiol transdermal tidak melalui proses ini sehingga lebih efektif berinteraksi dengan reseptor estrogen di otak,” lanjutnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Medical News Today