Rabu, 01 OKTOBER 2025 • 19:10 WIB

Bagaimana Otak Memproses Emosi Negatif vs Positif?

Author

Ilustrasi cara otak memproses emosi (Freepik)

INDOZONE.ID - Bayangin deh, Kamu lagi scroll TikTok atau Reels, tiba-tiba nemu video sedih yang bikin Kamu ikut baper, mata sampai berkaca-kaca. 

Tapi besoknya, Kamu bisa nonton video lucu yang bikin ngakak, dan mood langsung cerah lagi, pikiran jadi plong.

Nah, apa sih yang sebenarnya terjadi di otak kita saat ngerasain emosi sedih atau senang? Kenapa emosi negatif seringkali terasa lebih kuat dan susah dilupain? Yuk, kita kulik bareng!

Baca juga: Jangan Tunggu Terlambat! Cara Mudah Cegah Kolesterol dan Jantung Sejak Usia Muda

1. Bagian Otak yang Kerja, Namanya Amigdala

Otak punya “tim khusus” yang jago ngurus emosi, namanya sistem limbik. Salah satu pemain utamanya adalah amigdala. Dia ini kayak sensor alarm, sekaligus sensor kebahagiaan.

Kalau ada hal yang bikin takut atau cemas (misalnya suara keras tiba-tiba), amigdala langsung nge-respon cepat.

Kalau Kamu lagi senang, amigdala barengan sama bagian lain di otak, kayak “sistem reward” yang bikin Kamu ngerasa nyaman dan bahagia.

Jadi, amigdala tuh kayak pengawas emosi yang cekatan banget buat jaga-jaga sama bahaya tapi juga bisa bikin Kamu happy.

Baca juga: Air Putih vs Infused Water: Mana Lebih Efektif untuk Diet?

2. Kenapa Emosi Negatif Lebih Nempel? Itu Karena “Negativity Bias”

Pernah nggak Kamu susah banget lupain hal sedih atau kesalahan, tapi gampang lupa hal lucu yang pernah Kamu alami? Itu wajar banget! 

Otak kita emang punya yang namanya “negativity bias” artinya otak lebih peka dan lebih ingat sama hal negatif.

Dulu zaman manusia purba, ini penting supaya kita bisa waspada sama bahaya. 

Makanya, sinyal negatif diproses lebih cepat dan seringkali bikin kita mikir terus-menerus tentang hal buruk itu.

Baca juga: Audy Item Ungkap Hidup dengan Obesitas Tidaklah Mudah

3. Otak “Membangun” Emosi, Nggak Cuma Reaktif

Emosi itu nggak cuma reaksi otomatis, tapi otak juga “ngolah” dari banyak hal. 

Misalnya dari detak jantung Kamu yang makin cepat, apa yang Kamu pikirkan, ingatan masa lalu, sampai harapan Kamu ke depan.

Makanya, kalau Kamu nangis karena sedih, itu bukan cuma karena ada hal sedih, tapi otakmu lagi nyusun cerita emosi dari berbagai “potongan” itu.

4. Emosi Positif: Charger Biar Semangat Lagi!

Emosi senang itu punya kekuatan unik. Ada teori yang bilang kalau emosi positif bisa memperluas cara Kamu mikir dan bangun kekuatan batin. 

Jadi pas Kamu senang, otak nggak cuma bikin Kamu happy, tapi juga bikin Kamu jadi lebih kreatif, sosial, dan tahan banting kalau ada masalah.

Baca juga: Mengubah Gaya Hidup Sehat untuk Mencegah Obesitas

Kalau emosi negatif itu alarm bahaya, emosi positif itu charger yang ngecas energi Kamu biar tetap kuat.

5. Kamu Bisa Mengatur Emosi, Lho!

Nggak semua emosi negatif harus ditolak. Ada bagian otak namanya prefrontal cortex yang kayak manajer emosi Kamu. 

Dia bantu Kamu mikir dulu sebelum bereaksi, misalnya nanya “Perlu nggak ya aku marah karena itu?”

Kalau Kamu latihan tarik napas, pikir ulang, atau kasih jarak dari emosi, Kamu bisa banget ngatur supaya perasaan negatif nggak bikin Kamu stres terus.

Baca juga: Jangan Anggap Remeh, Obesitas Bisa Rusak Jantung, Ginjal, hingga Mental

6. Singkatnya, Otak Itu DJ Emosi Kamu!

Bayangin otak Kamu kayak DJ yang mix lagu-lagu emosi. Beat cepat buat emosi negatif, beat slow buat emosi positif. 

Tapi Kamu yang jadi DJ-nya, yang pilih lagu mana yang mau Kamu putar lebih sering.

Emosi negatif muncul cepat dan susah diabaikan.

Emosi positif datang lebih pelan tapi bikin Kamu kuat dan bahagia.

Kamu bisa belajar mengatur “playlist” emosi Kamu supaya hidup makin balance

Otak manusia memproses emosi negatif dan positif dengan cara yang sangat berbeda. 

Baca juga: Mindset Bikin Gagal Diet Ternyata Jadi Pemicu Sulit Turunkan Obesitas

Emosi negatif seperti takut, marah, atau sedih biasanya diproses lebih cepat dan intens oleh amigdala, karena sifatnya yang berfungsi sebagai sistem pertahanan alami tubuh. 

Inilah alasan kenapa kita cenderung lebih gampang mengingat pengalaman buruk atau merasa overthinking terhadap hal-hal negatif. 

Sementara itu, emosi positif bekerja lebih lambat tapi punya efek yang membangun, seperti memperluas cara kita berpikir, memperkuat koneksi sosial, dan menambah ketahanan mental dalam jangka panjang.

Namun, kita bukan sekadar "korban" dari emosi. Otak punya sistem regulasi yang bisa dilatih agar kita nggak terus-terusan terjebak dalam perasaan negatif. 

Baca juga: Kok Bisa Nyetir Bikin Kebelet? Ini 4 Fakta dari Dokter

Dengan mengenali emosi, memberi jeda sebelum bereaksi, dan memperbanyak pengalaman positif, kita bisa membantu otak menciptakan keseimbangan emosional. 

Jadi, jangan takut sama emosi negatif. Cukup pahami, terima, dan atur dengan bijak. 

Karena di balik setiap perasaan, ada proses biologis yang bisa Kamu kendalikan perlahan-lahan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU