INDOZONE.ID - Pernah merasa hatimu tiba-tiba adem begitu kucingmu datang dan mulai menggesek manja, atau ketika anjingmu menyambut dengan ekor yang bergoyang semangat?
Percaya atau tidak, efek menenangkan itu bukan sekadar perasaan, ada sains yang mendukungnya. Dunia medis menyebutnya terapi hewan atau animal-assisted therapy.
Terapi ini memanfaatkan interaksi manusia dengan hewan yang sudah dilatih, seperti anjing, kucing, atau bahkan kuda, untuk membantu proses penyembuhan fisik dan emosional.
Tujuannya bukan cuma membuat hati senang, tapi juga membantu orang mengatasi tantangan mental: dari anak dengan autisme yang belajar berkomunikasi, hingga orang dewasa yang berjuang melawan stres, kehilangan, atau kesepian.
Baca juga: Bukan Sekedar Lucu! Ini Manfaat Memelihara Kucing Menurut Penelitian Ilmiah
Biasanya, terapi hewan bisa berdiri sendiri, tapi banyak juga yang menggabungkannya dengan pengobatan medis atau terapi psikologis.
Hasilnya luar biasa, banyak orang mengaku jadi lebih rileks, termotivasi, dan terbuka setelah sesi bersama hewan peliharaan mereka.
Bagaimana cara terapi hewan bekerja?
Nggak semua hewan bisa langsung jadi “dokter bulu.” Mereka menjalani pelatihan khusus agar bisa memberi rasa aman dan nyaman bagi manusia.
Namun, ada beberapa jenis hewan dengan peran berbeda :
- Hewan terapi: berinteraksi dengan banyak orang di rumah sakit, panti jompo, pusat rehabilitasi, atau tempat lain yang menyediakan program pendampingan bagi pasien.
Baca juga: Rahasia di Balik Memelihara Hewan: 10 Manfaat Luar Biasa untuk Kesehatanmu
- Hewan pendukung emosional: fokus mendampingi satu orang, tanpa butuh pelatihan khusus.
- Hewan penolong (service animal): membantu tugas tertentu, misalnya memandu penyandang disabilitas atau mendeteksi gejala medis seperti kejang.
Jadi, kalau kamu melihat seekor anjing duduk tenang di samping pasien rumah sakit, kemungkinan besar dia bukan sekadar peliharaan tapi rekan sejawat dalam proses penyembuhan.
Lebih dari sekadar menggemaskan
Di balik wajah lucu dan tingkah menghibur, hewan ternyata bisa membawa efek nyata bagi tubuh dan pikiran. Penelitian membuktikan bahwa terapi hewan dapat:
- Meningkatkan suasana hati
Baca juga: Pemkab Batang Gencar Pantau Gizi Ibu dan Anak demi Wujudkan Generasi Bebas Stunting
- Mengurangi kadar hormon stres
- Menurunkan tekanan darah dan detak jantung
- Membantu kemampuan komunikasi dan sosial
- Bahkan mempercepat pemulihan fisik serta emosional
Kehadiran hewan menciptakan ruang aman tanpa penilaian, hal yang sering kali sulit ditemukan dalam terapi konvensional.
Aman, tapi tetap ada batasnya
Secara umum, terapi hewan aman dan minim resiko. Tapi bukan berarti cocok untuk semua orang.
Baca juga: 5 Alasan Pria Sibuk Harus Coba Olahraga Padel, Wajib Tau!
Mereka yang punya alergi, fobia terhadap hewan, atau kondisi medis tertentu (seperti imun tubuh lemah atau luka terbuka) sebaiknya konsultasi dulu dengan dokter.
Karena meski terlihat bersih, hewan tetap bisa membawa kuman tanpa disadari.
Siapa yang bisa diuntungkan?
Interaksi lembut dengan hewan bisa memicu hormon “bahagia” seperti oksitosin dan serotonin, kombinasi yang bikin hati terasa lebih tenang dan hangat.
Karena itu, terapi hewan sering digunakan untuk membantu mereka yang mengalami:
Baca juga: 6 Alasan Mata Terasa Panas dan Perih Terus-Menerus, Jangan Anggap Remeh!
- Autisme
- Demensia
- Stres, kelelahan, dan kesepian
- Depresi dan gangguan kecemasan
- Penyakit kronis seperti kanker atau jantung
- PTSD (Post Traumatic Stress Disorder atau stres & trauma berat)
- Serta mereka yang dalam masa pemulihan dari kecanduan
Baca juga: Rahasia Tenang Tanpa Obat: Aromaterapi Terbukti Efektif Atasi Stres dan Cemas
Selain menenangkan pikiran, kehadiran hewan juga memberi dorongan emosional untuk terus semangat menjalani hari.
Hewan apa saja yang bisa jadi terapis?
Anjing memang hewan paling populer, tapi bukan satu-satunya super star.
Beberapa hewan lain, seperti kucing, kelinci, kuda, burung, marmut. Reptil kecil juga bisa ikut berperan, asalkan memiliki sifat tenang, ramah, dan sudah melalui pelatihan.
Terapi hewan kini semakin diakui sebagai metode pendamping yang efektif untuk mendukung kesehatan mental dan emosional.
Baca juga: Benarkah Daging Kambing Biang Kerok Hipertensi? Guru Besar Fakultas Peternakan IPB Buka Suara
Dengan pendekatan yang alami dan penuh empati, interaksi antara manusia dan hewan telah terbukti mampu menurunkan stres, memperbaiki suasana hati, dan mempercepat proses pemulihan.
Mungkin inilah saatnya kita melihat hewan bukan sekadar teman, tapi juga bagian penting dari perjalanan menuju kesejahteraan yang lebih utuh.
Tapi ingat, cara ini bukan berarti kita tidak membutuhkan bantuan profesional jika memang dibutuhkan, ya!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Verywellhealth.com