Selasa, 21 OKTOBER 2025 • 18:10 WIB

Menyusui Setelah Kanker Payudara Aman atau Berisiko? Ini Penjelasannya

Author

Ilustrasi Ibu Menyusui.

INDOZONE.ID - Menjadi ibu adalah momen berharga yang penuh makna bagi setiap perempuan. Namun, bagi mereka yang pernah melawan kanker payudara, muncul pertanyaan besar, apakah menyusui setelah kanker payudara aman dilakukan?

Apakah aktivitas ini bisa memicu kekambuhan atau membahayakan kondisi tubuh?

Kabar baiknya, hasil dua penelitian besar yang dipresentasikan dalam Kongres European Society for Medical Oncology (ESMO) 2024 menunjukkan, menyusui aman bagi penyintas kanker payudara.

Terlebih bagi mereka yang memiliki mutasi gen BRCA1/2 atau kanker dengan reseptor hormon positif.

Penelitian mengenai Penyintas Kanker dan Menyusui

Ilustrasi wanita kena kanker payudara (Freepik/diana.grytsku)

Penelitian pertama, POSITIVE Trial, melibatkan 518 perempuan penyintas kanker payudara stadium I–III dengan reseptor hormon positif.

Peserta berusia di bawah 42 tahun dan telah menjalani terapi endokrin selama 18-30 bulan, sebelum menghentikan sementara untuk hamil dan menyusui.

Baca juga: 8 Ciri Kanker Payudara yang Sering Diabaikan Perempuan, Waspada!

Dari 317 perempuan yang berhasil melahirkan, sebanyak 196 di antaranya mampu menyusui dengan durasi rata-rata 4,4 bulan.

Hasil penelitian ini menunjukkan, menyusui setelah kanker payudara tidak meningkatkan risiko kekambuhan kanker. 

Dalam masa pemantauan selama 41 bulan, angka kekambuhan antara kelompok yang menyusui dan yang tidak hampir sama, yakni 1,1 persen vs 1,9 persen setelah satu tahun, serta 3,6 persen vs 3,1 persen setelah dua tahun.

Profesor Fedro Peccatori dari European Institute of Oncology di Italia menjelaskan, sebagian besar pasien yang ingin menyusui ternyata bisa melakukannya, dan hasilnya membuktikan hal itu aman.

Aman Juga bagi Penyintas dengan Mutasi BRCA1/2

Penelitian kedua, BRCA BCY Collaboration, melibatkan 4.904 perempuan penyintas kanker payudara yang memiliki mutasi gen BRCA1 atau BRCA2, semuanya didiagnosis sebelum usia 40 tahun.

Temuan ini menunjukka,n tidak ada perbedaan signifikan dalam risiko kekambuhan kanker maupun tingkat kesintasan antara ibu yang menyusui dan yang tidak selama tujuh tahun pengamatan. 

Dari 110 perempuan yang menyusui dan 68 yang tidak, angka kejadian kanker baru di area payudara juga nyaris sama, yaitu 29 persen vs 37 persen.

Temuan ini menegaskan bahwa kanker payudara dan ASI bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Menyusui bisa dilakukan tanpa mengorbankan keamanan onkologis,” ujar Dr. Eva Blondeaux dari Ospedale San Martino, Italia.

Tantangan Menyusui Pasca Operasi dan Terapi

Bagi sebagian perempuan, menyusui usai operasi kanker payudara bisa menjadi tantangan tersendiri. Produksi ASI dari payudara yang terkena operasi atau terapi radiasi mungkin berkurang.

Kadang, perubahan bentuk atau jaringan membuat bayi sulit menempel dengan baik atau menyebabkan nyeri pada ibu.

Meski demikian, banyak penyintas tetap berhasil menyusui, meskipun hanya dari satu sisi payudara. Dengan dukungan medis dan lingkungan yang positif, proses ini tetap bisa berjalan dengan lancar dan bermakna.

Ilustrasi ibu menyusui. (Ilustrasi/bellybelly.com)

Sebelum memutuskan untuk menyusui, penting untuk memahami risiko menyusui setelah terapi kanker. Jika kamu masih menjalani terapi hormon atau pengobatan tertentu, konsultasikan dengan dokter terlebih dahulu.

Beberapa obat kanker dapat terserap ke dalam ASI, dan berpotensi memengaruhi kesehatan bayi.

Namun, dengan pengawasan tenaga medis, menyusui tetap bisa dilakukan dengan aman. Aktivitas ini bukan hanya memberi nutrisi terbaik untuk bayi.

Namun, juga menjadi bagian dari proses pemulihan fisik dan emosional bagi ibu setelah melewati masa pengobatan kanker.

Jadi, menyusui setelah kanker payudara aman dilakukan dan tidak meningkatkan risiko kekambuhan. Bahkan, bagi mereka yang menjalani operasi atau terapi, menyusui tetap memungkinkan selama mendapat bimbingan dari tenaga medis.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Betterhealthfacts.com

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU