Minggu, 26 OKTOBER 2025 • 13:15 WIB

Vitamin D3 dan D2, Mana yang Lebih Efektif Tingkatkan Kadar Vitamin D? Ini Kata Ahli

Author

Ilustrasi vitamin D. (FREEPIK/muravev)

INDOZONE.ID - Kekurangan vitamin D menjadi masalah kesehatan global. Di Amerika Serikat saja, sekitar 1 dari 4 orang mengalami defisiensi vitamin D sedang hingga berat. 

Padahal, vitamin D berperan penting dalam menjaga kesehatan tulang, metabolisme kalsium, serta imunitas tubuh.

Penurunan kadar vitamin D, juga dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung, kanker, diabetes, bahkan gangguan suasana hati seperti depresi.

Namun, tidak semua vitamin D punya efektivitas yang sama. Suplemen vitamin D tersedia dalam dua bentuk utama, yakni vitamin D2 (ergokalsiferol) dan vitamin D3 (kolekalsiferol). 

Para peneliti pun, masih memperdebatkan mana yang lebih efektif dalam meningkatkan kadar vitamin D dalam darah.

Kini, hasil meta-analisis terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Nutrition Reviews menunjukkan, vitamin D3 lebih unggul dibandingkan D2, dalam menjaga kadar vitamin D, sekaligus mendukung kesehatan secara keseluruhan.

Baca juga: Yuk, Kenali Gejala Kurang Vitamin D pada Anak Muda

Vitamin D3 Lebih Efektif dan Menguntungkan

Penelitian yang dilakukan tim dari University of Surrey, Inggris, menganalisis 11 uji klinis acak yang melibatkan peserta sehat. 

Hasilnya, peserta yang mengonsumsi vitamin D2 mengalami penurunan kadar vitamin D3 dalam darah lebih besar, dibandingkan kelompok yang tidak mengonsumsi suplemen sama sekali.

Vitamin D2 ternyata dapat menurunkan kadar vitamin D3 di tubuh, efek yang sebelumnya belum diketahui,” jelas Emily Brown, Ph.D., peneliti utama studi ini, dikutip dari Medical News Today.

Temuan kami menunjukkan, dengan mempertimbangkan faktor individu, suplemen vitamin D3 mungkin lebih bermanfaat bagi kebanyakan orang dibandingkan D2,” tambahnya.

Brown menjelaskan, vitamin D3 tidak hanya lebih efektif meningkatkan kadar vitamin D secara keseluruhan, tapi juga dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh terhadap infeksi bakteri dan virus, serta membantu menjaga kesehatan mental.

Ilustrasi pemakaian sunscreen yang berpengaruh pada penyerapan vitamin D. (freepik.com)

Mengapa Vitamin D Sangat Penting?

Vitamin D membantu tubuh menyerap kalsium dan mineral penting lainnya, untuk menjaga tulang kuat dan sehat. Kekurangan vitamin D, dapat menyebabkan rakhitis pada anak-anak dan osteoporosis pada orang dewasa.

Selain itu, vitamin D juga berperan dalam mengatur fungsi sel imun, sehingga kekurangannya dapat meningkatkan risiko infeksi dan penyakit autoimun. 

Penelitian juga mengaitkan kadar vitamin D yang rendah, dengan risiko penyakit jantung, kanker, dan diabetes.

Vitamin D terbagi menjadi dua jenis:

  • Vitamin D3: diproduksi secara alami oleh kulit melalui paparan sinar matahari, serta dapat diperoleh dari sumber hewani seperti ikan berlemak, kuning telur, dan produk susu.
  • Vitamin D2: berasal dari sumber nabati seperti jamur, ragi, dan beberapa jenis tanaman.

Mengapa Banyak Orang Kekurangan Vitamin D?

Kekurangan vitamin D bisa terjadi karena kurangnya paparan sinar matahari, penggunaan tabir surya berlebih, atau faktor lingkungan seperti musim dingin. 

Kondisi medis tertentu—termasuk penyakit hati, ginjal kronis, dan obesitas—juga dapat mengganggu penyerapan vitamin D.

Orang lanjut usia, individu dengan kulit gelap, atau yang jarang berada di luar ruangan, memiliki risiko lebih tinggi mengalami defisiensi vitamin D.

Baca juga: 3 Manfaat Vitamin D yang Wajib Diketahui Pelari Biar Tubuh Tetap Prima!

Pendapat Ahli: D3 Lebih Disarankan

Menurut Lina Begdache, Ph.D., RDN, profesor di Universitas Binghamton, dokter sebaiknya memprioritaskan suplementasi vitamin D3, karena D2 cenderung kurang efektif.

Vitamin D3 harus menjadi pilihan utama karena D2 dapat menurunkan kadar D3 dalam darah. D2 hanya sebaiknya diberikan bagi mereka yang menghindari produk hewani,” katanya kepada Medical News Today.

Sementara itu, Ahli Endokrinologi di MedStar Health, Dr. Malek Cheikh, menegaskan, temuan ini menjadi pengingat penting bagi dunia medis.

Selama ini kami menganggap D2 dan D3 sama efektif. Namun penelitian ini menunjukkan bahwa tidak semua suplemen vitamin D bisa saling menggantikan,” ucap Cheikh.

Meskipun demikian, Cheikh menekankan, penelitian lanjutan dengan jangka waktu lebih panjang, masih dibutuhkan untuk memastikan efek perbedaan keduanya terhadap kesehatan tulang dan sistem imun.

Para ahli pun mengingatkan, agar konsumsi suplemen dilakukan sesuai kebutuhan dan rekomendasi dokter, karena kelebihan vitamin D juga bisa menimbulkan efek samping.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Medical News Today

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU