INDOZONE.ID - Pernahkah kalian mengalami burnout akibat tekanan dalam pekerjaan atau hal lainnya? Jika pernah, maka kalian wajib menyimak penjelasan dan cara mengatasinya.
Apa Itu Burnout?
Menurut Dr. Lanchasak Akkayagorn, seorang dokter spesialis psikiatri, sindrom burnout yang sering dikenal dengan istilah job burnout (jika diakibatkan oleh pekerjaan) adalah suatu kondisi di mana seseorang mengalami penipisan emosi kronis akibat stres dan tekanan terkait pekerjaan yang berada di luar kendalinya.
Akibatnya, seseorang mungkin merasa lelah, lemah, putus asa, memiliki sikap negatif terhadap pekerjaannya, atau tidak puas dengan pekerjaannya. Kondisi ini dapat mengganggu kapasitas seseorang untuk bekerja secara efisien dan menjaga hubungan dengan orang lain.
Jika hal ini berlangsung lama, kelelahan jangka panjang dapat menimbulkan konsekuensi mental dan fisik, seperti stres berat, sulit tidur, depresi, penyakit lainnya, serta perasaan terisolasi dan perilaku antisosial.
Sindrom burnout juga disebabkan oleh penumpukan stres dari waktu ke waktu yang tidak dapat terluapkan, sehingga menyebabkan seseorang menjadi lelah dan berdampak pada kesehatan mental serta fisiknya.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengakui kelelahan sebagai suatu kondisi baru yang memengaruhi banyak orang saat ini, terutama dalam konteks pekerjaan yang serba cepat dan penuh tekanan. Akibatnya, banyak orang kehilangan dorongan untuk bekerja dan hidup dengan semangat.
Individu yang mengalami burnout sebaiknya mencari pengobatan atau terapi dari ahli untuk menentukan akar penyebab masalahnya dan menemukan solusi terbaik.
Baca juga: Rahasia Karyawan Sukses : Cara Efektif Mencegah Burnout dan Menjaga Kesehatan Mental di Kantor
Penyebab Burnout
Penyebab utama burnout adalah tekanan kerja berlebihan dan interaksi antarpersonal negatif yang menumpuk seiring waktu. Kondisi ini membuat seseorang tidak mampu menangani tugas dengan baik dan mengakibatkan stres emosional kronis.
Burnout juga dapat disebabkan oleh lingkungan kerja yang penuh tekanan, beban kerja berat, tanggung jawab besar, atau jam kerja yang terlalu panjang.
Sindrom burnout dikategorikan menjadi tiga rangkaian gejala utama, yaitu:
- Kelelahan emosional: Hilangnya energi dan rasa lelah setelah bekerja.
- Depersonalisasi: Rasa keterasingan dari orang lain, seperti hubungan yang renggang dengan kolega, supervisor, atau anggota tim. Penderita cenderung merasa acuh, “tidak bernyawa,” dan kehilangan ikatan dengan orang maupun organisasi di tempat kerja.
- Rendahnya rasa harga diri: Perasaan tidak mampu, tidak layak, tidak efisien, serta penurunan produktivitas di tempat kerja. Gejalanya meliputi sikap negatif terhadap pekerjaan, kesulitan memecahkan masalah, perasaan gagal, kurangnya motivasi, hingga kelelahan untuk terus bekerja.
Gejala dan Tanda Burnout
Ada tiga domain gejala dan tanda peringatan bagi penderita burnout, antara lain:
- Gejala emosional: Perasaan stres, lelah, lemah, tidak segar, kurang semangat, sedih, putus asa, mudah tersinggung, marah, merasa terabaikan, tidak puas dengan pekerjaan, dan kehilangan tujuan kerja.
- Sikap negatif: Pesimisme, paranoia, menyalahkan rekan kerja, kecemasan berlebih, menghindari masalah, dan merasa tidak kompeten serta tidak mampu mengatasi tantangan pekerjaan.
- Perilaku: Menyendiri, menarik diri dari hubungan sosial, paranoid terhadap orang lain, perubahan suasana hati, bertindak impulsif, kehilangan konsentrasi, datang terlambat, dan merasa lelah secara mental maupun emosional.
Komplikasi Burnout
- Pola tidur tidak teratur, insomnia, dan sulit tidur
- Perubahan berat badan signifikan
- Nyeri otot
- Penurunan daya tahan tubuh
- Stres berlebihan
- Risiko kecanduan alkohol atau narkoba
- Depresi
- Penyakit jantung
- Tekanan darah tinggi
- Diabetes tipe 2
- Risiko penyakit lainnya
Baca juga: Sering Lelah dan Gak Semangat Kerja? Ini 5 Cara Mengatasi Stress dan Burnout yang Wajib Kamu Tahu!
Cara Mengobati dan Mencegah Burnout
Pada tahun 1993, Miller dan Smith mengidentifikasi lima tahapan gejala kelelahan kerja, di mana burnout berkembang secara bertahap dari waktu ke waktu. Berikut langkah-langkah untuk mencegah dan mengatasinya:
- Pertimbangkan solusi: Diskusikan dengan supervisor atau rekan kerja tentang rencana menyeimbangkan beban kerja, kurangi tugas yang tidak perlu, dan tetapkan prioritas agar tujuan tercapai dengan sukses.
- Minta bantuan: Mintalah dukungan dari atasan, rekan, teman, atau orang terdekat. Dukungan sosial di tempat kerja dapat membantu mengatasi masalah dan melakukan penyesuaian tanggung jawab dengan lebih baik.
- Berolahraga atau lakukan aktivitas santai: Seperti meditasi, yoga, menonton film, atau mendengarkan musik. Olahraga teratur membantu mengalihkan fokus dari pekerjaan ke kegiatan yang menyegarkan energi tubuh dan mental.
- Tidur cukup: Tidur nyenyak di malam hari membantu tubuh pulih dari kelelahan, meningkatkan kesejahteraan, dan menjaga kesehatan jangka panjang.
- Meditasi dan perhatian penuh: Fokus pada pernapasan dan kesadaran diri membantu menenangkan pikiran, melepaskan stres, dan memperbaiki pola pikir. Ungkapkan stres kepada orang tepercaya agar emosi tidak menumpuk.
Pengembangan diri, menemukan inspirasi, serta berupaya mencapai tujuan hidup dapat membantu meredakan burnout.
Seorang profesional medis berpengalaman dapat membantu penderita burnout dengan mendengarkan keluhan dan mencari solusi sebelum gejala memburuk.
Mengendalikan stres, berpikir positif, mencari dukungan, serta menemukan tujuan sejati dalam hidup akan membantu seseorang memadamkan kelelahan dan menjalani hari-hari dengan kebahagiaan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Medparkhospital.com