Minggu, 09 NOVEMBER 2025 • 11:15 WIB

Kenali Strabismus, Kondisi Mata Juling yang Bisa Sebabkan ‘Mata Malas’ Permanen

Author

Ilustrasi anak yang mengalami mata juling atau strabismus. (Freepik)

INDOZONE.ID - Strabismus atau dikenal sebagai mata juling, merupakan gangguan pada koordinasi otot mata yang menyebabkan posisi kedua mata tidak sejajar. 

Kondisi ini dapat membuat salah satu mata tampak mengarah ke dalam, ke luar, ke atas, atau ke bawah. Sementara mata lainnya, tetap fokus ke satu titik.

Dikutip dari American Optometric Association, normalnya, enam otot yang melekat pada setiap bola mata bekerja secara sinkron di bawah kendali otak. Sehingga, kedua mata bergerak bersamaan dan memandang ke arah yang sama. 

Namun, ketika koordinasi otot terganggu, terjadilah penyimpangan posisi mata atau strabismus.

Baca juga: Waspada Retinoblastoma, Kanker Mata pada Anak yang Umum Terjadi

Mengapa Mata Juling Bisa Terjadi

Mata juling dapat terjadi karena gangguan pada otot mata, saraf yang mengatur gerakan mata, atau pusat kendali di otak. Beberapa kondisi kesehatan umum seperti sindrom Down, cerebral palsy, stroke, atau cedera kepala juga dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan ini.

Faktor risiko lainnya meliputi:

  • Riwayat keluarga dengan kondisi serupa.
  • Rabun dekat yang tidak dikoreksi, karena mata bekerja lebih keras untuk memfokuskan pandangan.

Mata juling biasanya muncul pada bayi dan anak-anak di bawah usia tiga tahun, meskipun orang dewasa pun bisa mengalaminya. 

Banyak orang tua salah mengira, anak akan ‘sembuh dengan sendirinya’. Padahal tanpa penanganan, kondisi ini bisa memburuk.

Ilustrasi seseorang mengalami gejala mata juling. (Freepik)

Jenis-jenis Mata Juling

Mata juling dibedakan berdasarkan arah pergerakan mata:

  • Esotropia: mata berputar ke dalam.
  • Exotropia: mata berputar ke luar.
  • Hypertropia: mata bergerak ke atas.
  • Hypotropia: mata bergerak ke bawah.

Selain itu, mata juling juga dapat diklasifikasikan berdasarkan frekuensi munculnya (terus-menerus atau sesekali), serta apakah selalu terjadi pada mata yang sama atau bergantian antara kanan dan kiri.

Dua jenis mata juling yang paling sering dijumpai adalah:

  • Accommodative Esotropia, biasanya terjadi akibat rabun dekat yang tidak dikoreksi, menyebabkan mata bekerja ekstra keras untuk fokus hingga akhirnya berputar ke dalam.
  • Intermittent Exotropia, ketika seseorang tidak dapat mengoordinasikan kedua mata dengan baik, menyebabkan salah satu mata melihat ke arah luar.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Beberapa tanda umum strabismus meliputi:

  1. Mata tampak tidak sejajar.
  2. Kedua mata tidak bergerak bersamaan.
  3. Sering menyipit atau berkedip berlebihan, terutama di bawah sinar terang.
  4. Kepala sering dimiringkan saat melihat.
  5. Penglihatan ganda atau persepsi jarak yang buruk.

Pada anak-anak, gejala ini bisa sulit disadari karena otak beradaptasi dengan mengabaikan penglihatan dari salah satu mata. Kondisi ini berisiko menyebabkan amblyopia atau mata malas, di mana penglihatan pada mata yang juling menjadi lemah secara permanen.

Diagnosis Mata Juling

Pemeriksaan mata juling dilakukan melalui pemeriksaan mata menyeluruh oleh dokter optometri atau dokter mata. Tes biasanya meliputi:

  • Riwayat medis dan gejala pasien.
  • Pemeriksaan ketajaman visual (visual acuity).
  • Tes refraksi, untuk mengetahui apakah pasien mengalami rabun jauh, rabun dekat, atau astigmatisme.
  • Pemeriksaan pergerakan dan fokus mata, untuk menilai kerja sama antar mata.
  • Pemeriksaan kesehatan mata secara menyeluruh, guna memastikan tidak ada penyakit lain yang mendasari.

Pemeriksaan sedini mungkin penting dilakukan, terutama bagi bayi di atas usia empat bulan yang matanya tampak tidak sejajar secara konsisten.

Baca juga: Kenali Retinal Detachment: Ketika Retina Mata Terlepas dan Terancam Buta Permanen

Pilihan Pengobatan

Mata juling dapat ditangani dengan berbagai cara, tergantung pada penyebab dan tingkat keparahannya. Beberapa metode yang umum dilakukan antara lain:

  • Kacamata atau lensa kontak, terutama jika disebabkan oleh rabun dekat.
  • Lensa prisma, yang membantu mengoreksi arah cahaya dan mengurangi pergeseran posisi mata.
  • Terapi penglihatan (vision therapy), berupa latihan mata terstruktur untuk meningkatkan koordinasi antara otak dan otot mata.
  • Operasi otot mata, untuk memperbaiki posisi otot yang tidak seimbang.

Jika dideteksi dan ditangani lebih awal, mata juling dapat dikoreksi dengan hasil yang sangat baik, dan penglihatan normal bisa kembali.

Pencegahan dan Deteksi Dini

Meskipun mata juling tidak dapat dicegah sepenuhnya, komplikasi serius dapat dihindari bila dideteksi sejak dini. Para ahli menyarankan agar anak diperiksa kesehatannya sebelum usia 6 bulan, dan kembali pada usia 3 hingga 5 tahun untuk memastikan perkembangan penglihatan normal.

Oleh karena itu, mata juling bukan sekadar masalah penampilan, tetapi juga dapat berdampak besar pada fungsi penglihatan jangka panjang. Pemeriksaan rutin dan deteksi dini oleh tenaga medis, menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan mata sejak dini. 

Dengan penanganan tepat, penderita mata juling dapat menikmati kualitas penglihatan yang baik dan hidup dengan lebih percaya diri.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: American Optometric Association

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU