INDOZONE.ID - Sebuah riset terbaru menunjukkan bahwa orang yang menguasai dua bahasa atau lebih memiliki risiko lebih rendah mengalami percepatan penuaan. Bahkan, semakin banyak bahasa yang dikuasai, semakin besar pula manfaatnya.
Para peneliti internasional menganalisis data 86.149 orang usia 51–90 tahun dari 27 negara Eropa. Hasilnya, mereka yang hanya fasih satu bahasa memiliki risiko dua kali lebih tinggi mengalami penuaan yang lebih cepat. Sebaliknya, para poliglot menunjukkan kemungkinan sekitar setengahnya untuk mengalami hal tersebut.
Apa yang membuat kemampuan berbahasa banyak begitu berpengaruh? Dugaan utamanya adalah bahwa rutin menggunakan berbagai bahasa menjaga ketajaman sistem saraf, memperlambat penurunan fisik dan kognitif. Sama seperti gaya hidup sehat lain, misalnya hubungan sosial yang kuat atau aktivitas fisik rutin.
Baca juga: Gak Heran Kalau Orang Jakarta Banyak yang Diabetes dan Obesitas, Ternyata Ini Pemicunya!
Menggunakan banyak bahasa tampaknya menjadi cara efektif untuk menjaga otak tetap aktif dan tubuh tetap bertenaga seiring bertambahnya usia.
Namun keterkaitan ini tidak selalu sederhana. Budaya yang mendukung pembelajaran banyak bahasa mungkin juga memiliki pola hidup yang lebih sehat atau lingkungan sosial lebih aktif. Sementara masyarakat yang hanya menggunakan satu bahasa bisa saja cenderung kurang bersosialisasi di usia lanjut.
Penelitian ini juga membedakan antara orang yang hanya mempelajari bahasa asing di sekolah dan mereka yang benar-benar menggunakan beberapa bahasa dalam kesehariannya.
Baca juga: 6 Makna Mendalam di Balik Perayaan Hari Guru Nasional 25 November 2025
Meski demikian, para peneliti menemukan bahwa manfaat protektif ini tetap terlihat bahkan setelah memperhitungkan faktor usia, kondisi fisik, lingkungan, serta konteks sosial-politik. Ini juga bukan penelitian pertama yang menghubungkan kemampuan multilingual dengan kesehatan kognitif yang lebih baik di usia tua.
Kabar ini cukup menggembirakan untuk banyak wilayah dunia, di mana 50–70 persen masyarakatnya berbicara lebih dari satu bahasa. Sebaliknya, ini menjadi peringatan bagi negara-negara berbahasa Inggris, di mana mayoritas hanya menggunakan bahasa ibu mereka.
Lebih jauh lagi, negara-negara berbahasa Inggris seperti Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Australia, Selandia Baru, dan Irlandia kini menghadapi populasi yang menua dengan cepat disertai meningkatnya kasus penurunan kognitif, yang memberi tekanan besar pada sistem kesehatan.
Baca juga: 3 Kesalahan Sepele yang Bikin Perempuan Lebih Cepat Tua, Salah Satunya Diet IF Lho
Karena itu, memperluas kemampuan bahasa mungkin semakin penting bagi negara-negara tersebut. “Sekitar 50–75 persen penduduk dunia berbicara lebih dari satu bahasa. Artinya, bilingualisme dan multibahasa adalah norma global.
Sebaliknya, hingga 75 persen penutur asli bahasa Inggris hanya berbicara satu bahasa. Temuan mengenai manfaat kognitif dan kesehatan dari bilingualisme ini mungkin mengejutkan mereka,” ujar Profesor Stephen May, ahli bahasa dari University of Auckland, yang tidak terlibat dalam penelitian ini.
Para penulis studi menambahkan bahwa hasil ini dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan publik. Mulai dari pendidikan hingga kesehatan masyarakat, terutama untuk negara dengan populasi menua.
“Selain manfaat kognitif jangka panjang terkait penuaan, 80 tahun penelitian pendidikan telah menunjukkan keuntungan sosial, kognitif, dan akademik dari menjadi bilingual atau multilingual,” tambah May.
*Studi ini dipublikasi di jurnal Nature Aging
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Iflscience.com