Sabtu, 06 DESEMBER 2025 • 15:40 WIB

Bukan Cuma Materi, Psikolog Sebut Korban Banjir Sumatra Butuh Dukungan Sosial & Emosional

Author

Ilustrasi korban banjir Sumatra butuh dukungan sosial dan emosional. (ANTARA FOTO/Yudi Manar)

INDOZONE.ID - Psikolog Klinis RSUD Wangaya Denpasar, Bali, Nena Mawar Sari menegaskan bahwa korban yang terdampak bencana ekologis di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat tidak hanya membutuhkan bantuan logistik, tetapi juga dukungan sosial dan emosional yang kuat.

Seperti dilansir Antara, Nena menjelaskan bahwa dukungan emosional adalah kebutuhan pertama yang harus diberikan kepada korban.

Layanan psikologis, berperan penting dalam menyediakan ruang aman bagi penyintas untuk bercerita, memvalidasi perasaan mereka, serta membantu memulihkan trauma yang muncul pascabencana. 

Baca juga: 7 Alasan Utama Terjadinya Perselingkuhan Menurut Psikolog Vasilkova

Selain dukungan emosional, bantuan praktis seperti makanan, pakaian, obat-obatan, dan kebutuhan logistik lainnya tetap menjadi elemen penting. 

Korban juga memerlukan informasi yang jelas mengenai lokasi posko bantuan, ketersediaan bahan pangan, hingga kontak darurat yang bisa dihubungi.

Tak kalah penting, Nena menyoroti perlunya dukungan komunitas, yang dapat membantu mengembalikan rasa memiliki di antara penyintas.

Aktivitas sederhana seperti memasak bersama, membersihkan area terdampak, atau saling membantu dapat membangun kembali kebersamaan dan mengurangi rasa kesepian. 

Waspadai Gejala Pascatrauma pada Korban Bencana

Nena menjelaskan bahwa gejala pascatrauma bisa muncul dalam berbagai bentuk, seperti:

  • Ingatan traumatis yang muncul berulang
  • Mimpi buruk
  • Sulit berkonsentrasi
  • Menghindari pembicaraan atau gambar terkait bencana
  • Gemetar, pusing, hingga sensasi seperti akan pingsan

Jika dibiarkan, kondisi ini dapat berkembang menjadi fobia, depresi, atau hambatan aktivitas sehari-hari lainnya.

Baca juga: Kenapa Ya Cowok Jarang Cuhat ke Teman Sendiri Dibanding Cewek? Psikolog Ungkap Jawabannya Pasti Relate!

Cara Penanganan Korban

Untuk penanganan awal, psikolog atau tenaga ahli biasanya memberikan teknik sederhana guna meredamkan gejala awal gangguan kesehatan mental.

Korban kemudian dapat mengikuti support group therapy, yaitu sesi berbagi pengalaman bersama penyintas lain agar tidak merasa sendirian dan saling menguatkan.

Pada anak-anak, pendekatannya berbeda. Terapi dapat dilakukan melalui bermain, bernyanyi, serta metode cognitive behaviour therapy (CBT) yang membantu anak mengekspresikan ketakutannya dan memproses trauma dengan cara yang aman dan menyenangkan.

Nena juga mengingatkan bahwa korban yang mengalami gejala seperti sulit tidur berhari-hari, menangis berlebihan, perubahan pola makan dan perilaku, hingga halusinasi akibat kehilangan anggota keluarga harus segera mendapatkan penanganan profesional.

"Gejala-gejala tersebut tidak boleh diabaikan karena membutuhkan intervensi cepat dari psikolog atau konselor terlatih," tandasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Antara

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU