INDOZONE.ID – Seorang pria dewasa di zaman modern ini sangat rentan mandul karena gaya hidupnya. Masalah ini tak bisa dibiarkan karena menimbulkan dampak buruk yang serius.
Dalam acara Eka Hospital PIK dan Eka Hospital Pluit Media Meet Up, seorang ahli di bidang andrologi, dr. Christian Christoper Sunnu, Sp.And, membahas tentang Azoospermia, penyakit yang menjadi penyebab kemandulan pria. Ia mengungkapkan kekhawatiran serius mengenai penurunan kualitas sperma laki-laki secara global.
Baca juga: Peternak Susu Sapi Perah di Jatim Diajari Cara Jaga Kualitas Susu Bergizi Tinggi
Mengupas Tuntas Azoospermia
dr. Sunnu menyoroti kondisi paling parah pada laki-laki, yaitu Azoospermia. Penyakit ini adalah tidak ditemukannya satu pun sperma pada cairan mani.
Cairan mani umumnya mengandung sperma dan cairan ejakulat, di mana aja banyak nutrisinya seperti gula, fruktosa, protein, dan vitamin C.
“Di sana ada banyak nutrisi untuk membuat sperma bisa bertahan hidup di dalam saluran kewanitaan. Semacam makanan agar dia bisa survive selama lebih dari 48 jam di saluran kewanitaan.” ungkap dr. Sunnu kepada wartawan di Jakarta, Selasa (16/12/2025).
Namun, dalam beberapa kasus, terkadang hanya ada makanannya saja tanpa mengandung sperma. Hal ini membuat kehamilan secara otomatis tidak akan terjadi.
“Ini yang sering disebut sama orang-orang awam mandul. Nah, bahasa medisnya itu Azoospermia,” jelasnya.
Baca juga: Heboh Video Dharma Pongrekun Sebut Vaksin HPV Bikin Mandul, Cek Fakta Medisnya Yuk!
Dr. Sunnu menjelaskan Azoospermia (Indozone/Salsabila Az Zahra)
Faktor yang Merusak Kualitas Sperma Pria
Penyebab utama dari masalah kualitas sperma sangat beragam, antara lain mencakup polusi yang semakin tak terhindarkan dan gaya hidup modern.
1.Gaya Hidup Instan
Seperti kurang bergerak, konsumsi alkohol, dan makanan tinggi gula atau ultra processed food, sangat merusak hingga ke tingkat DNA sperma.
2. Stres
Faktor stres tinggi dan kurang tidur (rata-rata 6-7 jam, padahal disarankan minimal 8,5 jam) juga turut memperburuk kondisi.
3.Merokok
“Fakta menariknya, pasien saya kebanyakan paling susah berhenti merokok. Karena rokok itu mengandung nikotin yang mengandung sifat anti-cemas. Kalau berhenti merokok, kecemasannya jadi tinggi, susah untuk konsentrasi," tuturnya.
Padahal, dengan berhenti merokok selama dua bulan saja dapat meningkatkan jumlah sperma dua hingga empat kali lipat.
4. Penggunaan Steroid
Penyebab lain yang sering ditemui adalah infeksi saluran sperma yang tidak diobati (seperti gonore atau klamidia) atau penyalahgunaan testosteron atau steroid oleh atlet atau penggemar gym.
Baca juga: Awas! Paparan Pestisida Sehari-hari Diduga Turunkan Kualitas Sperma Pria Sehat
Solusi Medis untuk Mengatasi Azoospermia
Meskipun Azoospermia dianggap sebagai situasi yang "paling parah" pada pria, dr. Sunnu menjelaskan bahwa kemajuan teknologi kini dapat dimanfaatkan.
Salah satunya adalah dengan menggunakan program bayi tabung dan stem sel, yang dapat memberikan harapan bagi laki-laki yang mengalami kondisi ini.
“Jadi paling gampang itu sebenarnya liat dari ukurannya. Kalau ukuran buah zakarnya itu kecil, di bawah 4 cc, itu agak susah memang. Dia harus suntik hormon dulu sekitar 6 sampai 1 tahun, baru dia ada harapan untuk produksi sperma," tambahnya.
Terapi dapat dimulai dengan suntik hormon atau pemberian antioksidan. Jika ukuran buah zakar masih optimal (8-12 cc), prosedur operasi kecil (sekitar 15 menit) dapat dilakukan untuk mengambil sperma langsung dari buah zakar.
Sperma yang didapat kemudian dibekukan dan digunakan untuk In Vitro Fertilization (IVF) atau bayi tabung.
Baca juga: Evolusi Dunia Fashion di Indonesia, Desainer Musa Widyatmodjo Soroti Efisiensi Produksi dan Promosi
dr. Sunnu juga menekankan pentingnya kesadaran bahwa masalah kesuburan kini dominan 50% disebabkan oleh faktor pria dan 50% faktor wanita.
Ia menyarankan, pasangan yang sudah satu tahun rutin berhubungan seksual tanpa kontrasepsi namun belum memiliki keturunan, harus segera menjalani pemeriksaan kesuburan, baik pria maupun wanita.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan