Sabtu, 07 MARET 2026 • 18:15 WIB

Jangan Langsung Panik, Kenali Rabies dan Cara Pertolongan Pertama saat Digigit Hewan Liar

Author

Ilustrasi hewan penyebab rabies. (Eliani Kusnedi)

INDOZONE.ID - Kasus gigitan hewan, baik hewan liar maupun hewan peliharaan, masih cukup sering terjadi. Salah satu penyakit yang paling dikhawatirkan dari gigitan hewan adalah rabies, karena penyakit ini bisa menyerang sistem saraf dan berakibat fatal jika tidak segera ditangani.

Dengan memahami apa itu rabies, bagaimana gejalanya, serta langkah pertolongan pertama yang tepat, risiko penularan bisa ditekan sejak awal.

Mengenal Rabies dan Bahayanya

Rabies adalah penyakit infeksi serius yang menyerang sistem saraf pusat atau otak akibat virus dari kelompok Lyssavirus. Penyakit ini dapat menular ke manusia melalui gigitan atau cakaran hewan yang terinfeksi.

Baca juga: Sering Menguap Saat Tarawih? Ternyata Menu Buka Puasa Ini Biang Keroknya!

Ketika seseorang digigit hewan yang membawa virus rabies, virus tersebut bisa masuk ke dalam tubuh melalui luka dan kemudian menyebar ke sistem saraf. Jika tidak segera ditangani, infeksi ini berpotensi menyebabkan kondisi yang fatal hingga kematian.

Hewan yang paling sering menularkan rabies ke manusia adalah anjing, kucing, dan kera. Selain itu, beberapa hewan liar seperti rubah, musang, dan anjing liar juga bisa menjadi sumber penularan.

Di Indonesia sendiri, sekitar 98 persen kasus rabies pada manusia berasal dari gigitan anjing. Sementara sisanya berasal dari gigitan kucing dan kera.

Karena sifatnya yang sangat menular dan berbahaya, penting untuk mengenali rabies sejak dini serta memahami hewan-hewan yang berpotensi menyebarkannya.

Gejala Rabies Setelah Terjadi Gigitan

Gejala rabies pada manusia biasanya tidak muncul secara langsung. Penyakit ini memiliki masa inkubasi, yaitu periode ketika virus sudah masuk ke dalam tubuh tetapi belum menimbulkan gejala.

Masa inkubasi rabies umumnya berlangsung antara 1 hingga 3 bulan setelah gigitan hewan yang terinfeksi. Namun pada beberapa kasus, gejala bisa muncul lebih cepat atau justru lebih lama, tergantung lokasi gigitan dan kondisi tubuh seseorang.

Baca juga: Menkes dan Program Cek Kesehatan Gratis Raih Penghargaan Asia-Pasifik

Berikut beberapa tahapan gejala rabies yang perlu dikenali.

1. Masa Inkubasi

Pada tahap ini, biasanya belum ada gejala yang terlihat. Masa inkubasi rabies umumnya berlangsung antara 1 hingga 3 bulan, tetapi bisa juga lebih cepat atau lebih lama.

Lokasi gigitan sangat berpengaruh terhadap penyebaran virus. Semakin dekat lokasi gigitan dengan otak, biasanya gejala akan muncul lebih cepat.

2. Gejala Awal (Prodromal Stage)

Pada tahap awal, gejala rabies sering kali mirip dengan gejala flu. Kondisi ini biasanya berlangsung selama 2 hingga 10 hari.

Beberapa gejala yang dapat muncul antara lain:

  • Demam ringan hingga tinggi
  • Tubuh terasa lemas dan mudah lelah
  • Sakit kepala
  • Hilangnya nafsu makan
  • Rasa tidak nyaman atau kesemutan di sekitar luka gigitan

3. Gejala Lanjutan (Neurologis)

Jika infeksi terus berkembang, penderita bisa memasuki tahap gangguan saraf yang lebih serius.

Gejala pada tahap ini antara lain:

  • Takut minum air karena kesulitan menelan dan otot tenggorokan kaku (hidrofobia)
  • Takut terhadap angin atau hembusan udara karena saraf sangat sensitif (aerofobia)
  • Kebingungan, gelisah, dan perubahan perilaku
  • Halusinasi dan kejang-kejang
  • Produksi air liur berlebihan
  • Otot menjadi kaku dan sulit bergerak hingga berujung kelumpuhan

Baca juga: Cara Mencegah Campak pada Anak, dari Vaksin hingga Jaga Kebersihan

4. Tahap Akhir (Paralytic Stage)

Rabies dapat berdampak fatal jika tidak segera ditangani. Pada tahap akhir ini, kondisi penderita biasanya semakin memburuk.

Gejala yang dapat terjadi antara lain:

  • Kelumpuhan total
  • Koma dalam beberapa hari
  • Kegagalan organ, terutama pernapasan, yang dapat menyebabkan kematian
  • Pertolongan Pertama Saat Digigit Hewan

Jika kamu baru saja tergigit hewan peliharaan atau hewan liar, langkah pertama yang dilakukan sangat penting untuk mencegah risiko infeksi rabies.

Langkah Pertolongan Pertama Rabies

Berikut beberapa langkah pertolongan pertama yang bisa dilakukan:

  1. Segera cuci luka gigitan atau cakaran dengan sabun dan air mengalir selama sekitar 15 menit agar kotoran dan kuman hilang
  2. Setelah itu, oleskan antiseptik pada luka untuk membantu mencegah infeksi
  3. Segera pergi ke puskesmas atau rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut
  4. Laporkan hewan yang menggigit ke dinas peternakan agar bisa ditindaklanjuti dan diperiksa kesehatannya

Untuk mencegah infeksi rabies secara efektif, biasanya dokter akan memberikan Post-exposure Treatment (PET). Penanganan ini umumnya meliputi pembersihan luka, pemberian Human Rabies Immune Globulin (HRIG), serta rangkaian Vaksin Anti Rabies (VAR).

Tindakan Pencegahan Rabies

Karena rabies merupakan penyakit yang sangat berbahaya, pencegahan tentu menjadi langkah yang paling penting.

Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah rabies antara lain:

  1. Memberikan vaksin rabies secara rutin pada hewan peliharaan
  2. Menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal hewan
  3. Waspada terhadap gigitan hewan dan segera membersihkan luka jika terjadi gigitan
  4. Menghindari kontak dengan hewan liar yang berpotensi membawa rabies
  5. Tidak mendekati hewan yang terlihat sakit atau berperilaku tidak normal
  6. Segera mencari bantuan medis jika mengalami gigitan atau cakaran hewanVaksin Rabies Setelah Gigitan (Rabies Post Exposure Prophylaxis / PEP)

Baca juga: Sering Alami Keringat Berlebih, Apakah Normal atau Tanda Masalah Kesehatan?

Rabies memang termasuk penyakit serius, tetapi bukan berarti setiap kasus gigitan hewan harus langsung membuat panik. Kamu cukup tahu langkah pertolongan pertama yang tepat dan segera mencari penanganan medis.

Dengan rutin memvaksinasi hewan peliharaan, berhati-hati saat berinteraksi dengan hewan, serta memahami prosedur penanganan setelah gigitan, risiko rabies sebenarnya bisa dicegah sejak awal.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Klik Dokter

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU