Rabu, 11 MARET 2026 • 16:00 WIB

Glaukoma Sering Tidak Disadari, Kenali Penyebab, Gejala, dan Cara Penanganannya

Author

Potret lansia yang mengalami gejala penyakit glaukoma (paireyewear.com)

INDOZONE.ID - Setiap tahunnya, dunia memperingati Pekan Glaukoma Sedunia (World Glaucoma Week) untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penyakit mata yang sering berkembang tanpa disadari ini.

Glaukoma merupakan salah satu penyakit mata yang kerap berkembang tanpa disadari oleh penderitanya. Kerusakan pada mata dapat berlangsung perlahan dalam waktu lama hingga akhirnya mempengaruhi kemampuan melihat. Karena itulah penyakit ini kerap disebut sebagai “pencuri penglihatan.”

Secara global, jumlah penderita glaukoma juga terus meningkat. Pada tahun 2020 diperkirakan terdapat sekitar 76 juta orang di dunia yang hidup dengan glaukoma, dan angka tersebut diproyeksikan dapat mencapai lebih dari 100 juta pada tahun 2040. Penyakit ini juga menjadi salah satu penyebab kebutaan terbesar setelah katarak.

Apa Itu Glaukoma

Glaukoma adalah kondisi ketika saraf optik mengalami kerusakan sehingga dapat menyebabkan penurunan penglihatan hingga kebutaan. Saraf optik berfungsi mengirimkan informasi visual dari mata ke otak sehingga perannya sangat penting dalam proses melihat.

Menurut Mayo Clinic, kerusakan saraf optik pada glaukoma seringkali berkaitan dengan meningkatnya tekanan di dalam bola mata. Namun, pada beberapa kasus, glaukoma juga dapat terjadi meskipun tekanan mata masih berada dalam kisaran normal.

Glaukoma dapat terjadi pada siapa saja, tetapi lebih sering ditemukan pada kelompok usia lanjut. Penyakit ini juga menjadi salah satu penyebab kebutaan yang paling umum pada orang berusia di atas 60 tahun.

Dokter Mata Subspesialis Glaukoma dr. Zeiras Eka Djamal dari Jakarta Eye Center menjelaskan bahwa glaukoma berkaitan dengan kerusakan saraf optik yang berfungsi membawa informasi visual dari mata menuju otak.

“Glaukoma adalah penyakit saraf mata yang menyebabkan gangguan penglihatan yang bersifat progresif, kronis, dan permanen, biasanya disertai tekanan bola mata yang tinggi,” ujarnya.

Kerusakan pada saraf optik menjadi hal yang sangat penting diperhatikan karena saraf mata termasuk jaringan yang sangat sulit pulih jika sudah mengalami kerusakan. Akibatnya, gangguan penglihatan yang sudah terjadi umumnya tidak dapat kembali seperti semula.

Di dalam mata terdapat cairan yang diproduksi secara terus-menerus. Cairan tersebut mengalir melalui bilik mata dan keluar melalui saluran drainase tertentu. Jika keseimbangan antara produksi dan pengeluaran cairan terganggu, cairan dapat menumpuk dan meningkatkan tekanan di dalam bola mata.

Tekanan yang meningkat inilah yang kemudian dapat menekan dan merusak saraf optik secara perlahan.

Menurut dr. Zeiras, tekanan bola mata normal biasanya berada pada kisaran 10 hingga 21 mmHg. Namun, peningkatan tekanan yang berlangsung lama dapat memicu kerusakan saraf mata.

Kerusakan ini sering terjadi secara perlahan sehingga banyak penderita tidak menyadarinya. Pada tahap awal, gangguan biasanya terjadi pada lapang pandang tepi sehingga penglihatan tengah masih terasa normal.

“Pasien sering tidak menyadari karena lapang pandang yang hilang biasanya di bagian tepi. Penglihatan tengah masih baik sehingga terasa seperti tidak ada masalah,” jelasnya.

Jika kerusakan terus berlanjut, lapang pandang akan semakin menyempit hingga akhirnya dapat menyebabkan kebutaan permanen.

Baca juga: 4 Makanan yang Harus Dihindari oleh Penderita Glaukoma

Jenis-Jenis Glaukoma

Glaukoma memiliki beberapa jenis yang berbeda berdasarkan penyebab dan mekanismenya.

Jenis yang paling sering ditemukan adalah glaukoma primer sudut terbuka. Pada kondisi ini, saluran pembuangan cairan mata sebenarnya terbuka, tetapi jaringan drainase tidak bekerja secara optimal sehingga cairan tetap menumpuk dan meningkatkan tekanan mata.

Jenis lainnya adalah glaukoma sudut tertutup. Pada kondisi ini, sudut antara iris dan kornea menjadi sempit atau tertutup sehingga cairan tidak dapat mengalir dengan baik. Tekanan bola mata dapat meningkat dengan cepat dan menimbulkan gejala seperti nyeri mata hebat, mata merah, sakit kepala, mual, dan penglihatan kabur.

Selain itu, terdapat juga glaukoma sekunder yang terjadi akibat kondisi lain, seperti trauma pada mata, penggunaan obat yang mengandung steroid dalam jangka panjang, diabetes, atau penyakit mata tertentu.

Pada bayi dan anak-anak, glaukoma juga dapat terjadi akibat kelainan bawaan pada sistem aliran cairan mata yang dikenal sebagai glaukoma kongenital.

Faktor Risiko Glaukoma

Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami glaukoma. Faktor yang paling umum adalah usia dan riwayat keluarga.

Risiko glaukoma cenderung meningkat setelah usia 40 tahun. Seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan glaukoma juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi yang sama.

Selain itu, beberapa kondisi lain juga dapat meningkatkan risiko glaukoma, seperti diabetes, penggunaan obat yang mengandung steroid, rabun jauh dengan minus tinggi, rabun dekat dengan plus tinggi, katarak, serta riwayat cedera pada mata.

Karena faktor risiko tersebut, pemeriksaan mata secara rutin menjadi sangat penting untuk mendeteksi glaukoma sejak dini.

Gejala Glaukoma yang Perlu Diwaspadai

Ilustrasi penderita glaukoma (Freepik)

Sebagian besar kasus glaukoma tidak menunjukkan gejala pada tahap awal. Mata penderita sering terlihat normal sehingga banyak orang tidak menyadari adanya kerusakan pada saraf optik.

Pada kondisi tertentu, terutama pada glaukoma sudut tertutup yang terjadi secara mendadak, gejala dapat muncul dengan cepat. Beberapa gejala yang dapat terjadi antara lain nyeri mata hebat, mata merah, sakit kepala, mual, muntah, serta penglihatan yang menjadi kabur.

Dalam kasus lain, gangguan penglihatan berkembang secara perlahan. Penderita mungkin mulai kehilangan penglihatan di bagian samping atau tepi lapang pandang. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi penglihatan seperti melihat melalui terowongan sebelum akhirnya hilang sepenuhnya.

Cara Mendeteksi Glaukoma

Deteksi dini glaukoma dilakukan melalui beberapa pemeriksaan mata. Salah satu pemeriksaan yang paling umum adalah pengukuran tekanan bola mata atau tonometri.

Selain itu, dokter juga dapat memeriksa struktur saraf optik menggunakan teknologi pencitraan seperti Optical Coherence Tomography (OCT). Pemeriksaan ini membantu menilai ketebalan serabut saraf retina yang dapat menipis pada glaukoma.

Pemeriksaan lapang pandang juga dilakukan untuk melihat apakah terdapat gangguan pada penglihatan tepi. Dokter juga dapat memeriksa sudut drainase mata untuk menentukan jenis glaukoma yang dialami pasien. Berbagai pemeriksaan tersebut tersedia di berbagai fasilitas layanan kesehatan mata. 

Tujuan utama pengobatan glaukoma adalah mengontrol tekanan bola mata agar kerusakan saraf optik tidak semakin parah. Penanganan biasanya dilakukan melalui beberapa pendekatan, mulai dari obat hingga tindakan medis.

Baca juga: Rahasia Dibalik Manfaat Vitamin B dan Kolin: Senjata Baru Melawan Glaukoma

Pengobatan Glaukoma

Pengobatan paling awal biasanya menggunakan obat tetes mata yang berfungsi menurunkan tekanan bola mata. Obat ini bekerja dengan mengurangi produksi cairan mata atau membantu memperlancar aliran cairan keluar dari mata. Pada sebagian besar kasus, obat harus digunakan dalam jangka panjang.

Jika obat tidak cukup efektif, dokter dapat mempertimbangkan terapi laser. Salah satu tindakan yang dapat dilakukan adalah laser peripheral iridotomy, yaitu membuat lubang kecil pada iris agar cairan mata dapat mengalir lebih lancar pada glaukoma sudut tertutup.

Selain itu, terdapat juga selective laser trabeculoplasty yang digunakan pada glaukoma sudut terbuka untuk membantu memperbaiki fungsi jaringan drainase mata.

Dalam kondisi tertentu, tindakan operasi dapat menjadi pilihan. Salah satu prosedur yang umum dilakukan adalah trabekulektomi, yaitu membuat saluran kecil baru pada bola mata agar cairan dapat keluar sehingga tekanan menurun.

Pada kasus lain, dokter dapat memasang implan atau selang kecil di dalam mata untuk membantu mengalirkan cairan keluar dari bola mata. Terdapat pula teknik bedah minimal invasif yang dikenal sebagai Minimally Invasive Glaucoma Surgery (MIGS) yang bertujuan menurunkan tekanan mata dengan prosedur yang lebih ringan.

Glaukoma memang tidak selalu dapat disembuhkan, tetapi perkembangan penyakitnya dapat dikendalikan jika terdeteksi lebih awal. Dengan pengobatan dan pemantauan yang tepat, kerusakan saraf mata dapat diperlambat sehingga kualitas penglihatan tetap terjaga lebih lama.

Dengan diagnosis yang tepat serta pemantauan yang teratur, perkembangan penyakit dapat dikendalikan sehingga kualitas penglihatan pasien tetap terjaga.

Karena itulah pemeriksaan mata secara rutin menjadi langkah penting, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko. Deteksi dini dan penanganan yang tepat dapat membantu mencegah kerusakan penglihatan yang lebih serius akibat glaukoma.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Mayo Clinic

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU