INDOZONE.ID - Banyak orang pernah mengalami kejadian setelah makan, justru masih merasa ingin melahap sesuatu. Entah ingin menikmati makanan manis, asin, atau renyah.
Kejadian ini membuat banyak orang bertanya-tanya, ‘Mengapa kita masih ingin makan padahal perut sudah kenyang?’
Dikutip dari Medical Daily, secara teknis, tubuh sebenarnya sudah mendapatkan energi yang cukup dari makanan yang dikonsumsi.
Namun, para peneliti menjelaskan, keinginan untuk makan setelah kenyang, dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Mulai dari biologi, psikologi, hingga lingkungan.
Ilmu tentang food cravings atau keinginan kuat terhadap makanan, menunjukkan rasa lapar dan keinginan makan bukanlah hal yang sama.
Baca juga: Banyak Makan tapi Tetap Kurus? Ini Rahasia Medis di Baliknya!
Lapar merupakan sinyal tubuh yang membutuhkan kalori. Sedangkan keinginan makan, sering kali berkaitan dengan sistem penghargaan di otak, kebiasaan, atau pemicu emosional.
Memahami alasan di balik keinginan makan saat sudah kenyang, dapat membantu seseorang membedakan antara lapar yang sebenarnya, dan dorongan makan karena faktor lain.
Apa Itu Food Cravings?
Food cravings adalah keinginan kuat terhadap jenis makanan tertentu, bukan sekadar kebutuhan umum untuk makan.
Seseorang yang benar-benar lapar, biasanya dapat menerima berbagai jenis makanan. Sebaliknya, ketika mengalami food cravings, seseorang cenderung menginginkan makanan yang sangat spesifik, seperti cokelat, keripik, atau es krim.
Penelitian mengenai fenomena ini menunjukkan, beberapa karakteristik utama, yaitu:
- Keinginan biasanya muncul pada makanan yang sangat lezat dan tinggi gula, lemak, atau garam
- Cravings sering muncul secara tiba-tiba
- Keinginan tersebut bisa terjadi meskipun perut sudah kenyang
Lantaran dorongan ini berasal dari sinyal otak, bukan kebutuhan energi tubuh, cravings dapat muncul bahkan tidak lama setelah seseorang selesai makan.
Peran Otak dalam Keinginan Makan
Otak memiliki peran penting dalam munculnya keinginan melahap sesuatu setelah makan. Beberapa jenis makanan dapat mengaktifkan jalur penghargaan (reward pathways) di otak, yang memicu pelepasan dopamin (rasa senang).
Ketika seseorang mengonsumsi makanan tinggi gula atau lemak, otak akan mencatat pengalaman tersebut sebagai sesuatu yang menyenangkan.
Seiring waktu, kondisi ini dapat membentuk pola di mana otak mengharapkan sensasi menyenangkan yang sama. Meskipun, tubuh sebenarnya tidak memerlukan tambahan kalori.
Beberapa proses biologis yang memengaruhi food cravings antara lain:
- Pelepasan dopamin yang mendorong seseorang mencari makanan yang memberikan rasa senang
- Ingatan dan asosiasi yang mengaitkan makanan tertentu dengan kenyamanan atau perayaan
- Kebiasaan yang dipelajari, misalnya kebiasaan ngemil pada waktu tertentu
Karena sinyal ini berasal dari otak, keinginan makan tetap dapat muncul walaupun tubuh sudah merasa kenyang.
Baca juga: Sering Craving Makanan Asin? Ternyata Ini Penyebabnya Menurut Ahli
Mengapa Kita Ingin Makan Saat Sudah Kenyang?
Para ilmuwan mengidentifikasi beberapa alasan utama atau penyebab, kenapa seseorang masih ingin makan setelah selesai makan.
1. Makanan yang Sangat Lezat Kalahkan Sinyal Kenyang
Banyak produk makanan modern dirancang agar sangat menggugah selera. Kombinasi gula, lemak, dan garam dapat merangsang sistem penghargaan di otak.
Akibatnya, meskipun tubuh sudah cukup makan, makanan tersebut tetap dapat memicu keinginan tambahan. Hal itu karena pusat kesenangan di otak menjadi aktif.
Contohnya antara lain:
- Makanan penutup manis
- Camilan asin
- Makanan ultra-proses dengan rasa yang kuat
Jenis makanan ini, dapat merangsang nafsu makan dengan cara yang berbeda dibandingkan makanan alami.
2. Peran Hormon Pengatur Lapar dan Kenyang
Hormon juga berperan penting dalam mengatur rasa lapar dan kenyang. Dua hormon utama yang terlibat adalah:
- Ghrelin, yang memberi sinyal rasa lapar
- Leptin, yang memberi sinyal kenyang dan membantu menghentikan makan
Ketika seseorang kurang tidur, mengalami stres tinggi, atau menjalani diet yang terlalu ketat, keseimbangan hormon ini dapat terganggu. Akibatnya, otak tetap mencari makanan meskipun seseorang sudah makan.
3. Faktor Emosional dan Psikologis
Emosi juga memiliki pengaruh besar terhadap perilaku makan. Banyak orang mengalami cravings ketika sedang stres, bosan, atau lelah.
Dalam situasi ini, otak sebenarnya tidak membutuhkan energi tambahan, tapi mencari kenyamanan atau distraksi.
Beberapa kondisi yang sering memicu keinginan makan antara lain:
- Hari kerja yang penuh tekanan
- Rasa lelah atau kewalahan
- Keinginan mencari kenyamanan setelah pengalaman sulit
Pada kondisi ini, makan sering menjadi cara untuk mengatur suasana hati.
4. Pengaruh Lingkungan
Lingkungan sekitar juga dapat memicu keinginan makan meskipun tidak lapar.
Contohnya:
- Mencium aroma makanan yang baru dipanggang
- Melihat iklan makanan
- Menonton orang lain makan
- Melewati restoran favorit
Isyarat lingkungan tersebut, dapat mengaktifkan ingatan dan harapan akan rasa nikmat. Sehingga, seseorang bisa tiba-tiba ingin makan, meskipun sudah kenyang.
Baca juga: 5 Efek Samping Terlalu Banyak Makan Makanan Pedas, Salah Satunya Kenaikan Berat Badan
5. Kebiasaan dan Rutinitas
Kebiasaan juga berperan besar dalam munculnya cravings. Banyak orang terbiasa makan makanan penutup, setelah makan malam atau ngemil saat menonton televisi.
Seiring waktu, otak mengaitkan situasi tertentu dengan makanan. Ketika situasi tersebut muncul kembali, keinginan makan pun muncul secara otomatis.
Contohnya:
- Menonton televisi di malam hari
- Istirahat saat bekerja
- Berkumpul bersama teman
Dalam kondisi ini, keinginan makan lebih berkaitan dengan konteks kebiasaan dibandingkan rasa lapar.
Mengapa Dessert Selalu Menggoda Setelah Makan?
Keinginan menyantap dessert setelah makan, sering menjadi contoh jelas perbedaan antara lapar dan cravings.
Para ilmuwan menyebutkan, fenomena tersebut sebagai reward-driven appetite, yaitu nafsu makan yang dipicu oleh sistem penghargaan otak.
Meskipun perut sudah penuh, makanan manis tetap dapat mengaktifkan pusat kesenangan di otak. Selain itu, otak cenderung menyukai variasi rasa baru, sehingga makanan manis terasa menarik setelah hidangan utama.
Makanan manis juga memicu pelepasan dopamin lebih kuat, dibandingkan banyak makanan gurih. Sehingga, keinginan terhadap dessert menjadi sangat umum.
Faktor yang Dapat Memperkuat Food Cravings
Sesekali mengalami cravings merupakan hal yang normal. Namun beberapa faktor dapat membuatnya terjadi lebih sering, seperti:
- Kurang tidur yang memengaruhi hormon lapar
- Tingkat stres yang tinggi
- Diet yang terlalu ketat
- Fluktuasi gula darah setelah makan makanan tinggi karbohidrat olahan
Mengenali pola tersebut, dapat membantu seseorang memahami sinyal yang diberikan tubuh.
Cara Mengurangi Keinginan Makan Setelah Kenyang
Penelitian mengenai food cravings menunjukkan beberapa strategi yang dapat membantu mengelola keinginan makan, antara lain:
- Mengonsumsi makanan seimbang yang mengandung protein, serat, dan lemak sehat
- Mendapatkan tidur yang cukup
- Menerapkan mindful eating atau makan dengan penuh kesadaran
- Mengurangi paparan terhadap makanan yang sangat menggoda
- Tetap menikmati camilan sesekali tanpa pembatasan yang terlalu ketat
Pendekatan ini dapat membantu mengatasi faktor biologis maupun psikologis yang memicu cravings.
Memahami Sinyal Tubuh
Keinginan makan tidak hanya berkaitan dengan kemauan atau pengendalian diri. Fenomena ini merupakan hasil interaksi kompleks antara kimia otak, hormon, lingkungan, dan kebiasaan.
Ilmu tentang food cravings menunjukkan, otak dapat mencari kenikmatan atau kenyamanan, bahkan ketika tubuh sebenarnya sudah memiliki energi yang cukup.
Dengan memahami alasan di balik keinginan makan saat kenyang, seseorang dapat lebih mudah membedakan antara rasa lapar yang nyata, dan dorongan makan yang dipicu oleh kebiasaan atau sistem penghargaan otak.
Kesadaran ini, membantu seseorang merespons keinginan makan secara lebih bijak, bukan sekadar secara otomatis.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Medical Daily