Minggu, 12 APRIL 2026 • 11:40 WIB

7 Daerah di Sulsel Ditetapkan KLB Campak, Kasus Terus Meningkat

Author

Pelaksanaan imunisasi pada program ORI yang dilakukan salah satu puskesmas secara mobile di akhir pekan guna menekan kasus campak di Makassar. (ANTARA/Nur Suhra Wardyah)

INDOZONE.ID - Kementerian Kesehatan menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di tujuh daerah di Provinsi Sulawesi Selatan, yakni Kota Makassar, Kabupaten Luwu, Wajo, Sinjai, Bulukumba, Jeneponto, dan Luwu Timur.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Sulsel, Muhammad Yusri Yunus, menjelaskan penetapan tersebut dilakukan karena penyebaran kasus campak yang terjadi secara nasional, sehingga pemerintah pusat meminta dilakukan pemetaan di berbagai daerah, termasuk Sulsel.

"Kemudian ditetapkanlah tujuh daerah KLB campak, meski sebenarnya status KLB ini ditetapkan kabupaten/kota masing-masing, tapi kasusnya telah menyebar secara nasional," kata Yusri di Makassar, Minggu (12/4/2026).

Data Dinkes Sulsel hingga 8 April mencatat sebanyak 169 anak terkonfirmasi positif campak berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium.

Baca juga: 100 Anak Tewas dalam Sebulan, Bangladesh Gelar Vaksinasi Darurat Hadapi Wabah Campak

Yusri menjelaskan, peningkatan kasus sebenarnya sudah mulai terlihat sejak akhir 2025. Pada Desember tahun lalu, kasus masih terbatas di tiga kabupaten dan sebagian besar baru berstatus suspek.

"Desember 2025 itu baru tersebar di tiga kabupaten, itu pun baru diagnosis dalam bentuk suspek. Nanti pada saat uji klinik, diperiksa di lab dinyatakan positif, tapi semenjak ada diagnosis suspek, kita melakukan upaya pencegahan," ujarnya.

Memasuki awal 2026, tren kasus terus meningkat dari Januari hingga Maret. Menyikapi hal tersebut, Dinkes Sulsel telah lebih dulu mengeluarkan edaran kesiapsiagaan kepada seluruh kepala daerah sejak akhir 2025.

Baca juga: Kapan Bayi Perlu Vaksin Campak? Simak Jadwal dan Efek Sampingnya

Edaran tersebut berisi langkah-langkah pencegahan, termasuk menjaga layanan kesehatan tetap berjalan, menerapkan pola hidup bersih, serta menjaga protokol kesehatan.

Selain itu, dilakukan pula kegiatan imunisasi darurat melalui program Outbreak Response Immunization (ORI) campak yang menyasar anak usia 9 hingga 59 bulan guna menekan penyebaran.

Yusri menyebut sebagian besar kasus terjadi pada anak yang belum mendapatkan imunisasi, sehingga upaya membangun kekebalan kelompok perlu diperkuat.

"Tidak adanya kekebalan tubuh secara menyeluruh, sehingga yang terkena bisa yang sudah imunisasi dan yang belum kalau virus ini menyebar, artinya semua bisa kena," kata M Yusri Yunus.

Dinas Kesehatan Sulsel pun mengimbau masyarakat untuk aktif membawa anak menjalani vaksinasi, baik bagi yang belum maupun yang belum lengkap imunisasinya, guna mencegah penyebaran lebih luas.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: ANTARA

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU