INDOZONE.ID - Pernah tiba-tiba blank beberapa detik saat bekerja atau menyetir? Bisa jadi itu adalah microsleep. Kondisi ini sering terjadi tanpa disadari, terutama saat tubuh terlalu lelah atau kurang tidur.
Meski hanya berlangsung beberapa detik, microsleep bisa sangat berbahaya, apalagi jika terjadi saat berkendara. Karena itu, penting untuk mengenali penyebab, tanda-tanda, dan cara mengatasinya.
Baca juga: Ciri-ciri Janin Tidak Berkembang di Awal Kehamilan, Apa Saja?
Apa Itu Microsleep?
Microsleep adalah kondisi ketika seseorang tertidur singkat secara tiba-tiba, biasanya selama 1–30 detik.
Saat microsleep terjadi, otak masuk ke mode istirahat walaupun tubuh masih terlihat sadar. Itulah kenapa banyak orang tidak sadar kalau dirinya sempat tertidur sesaat.
Kondisi ini biasanya terjadi saat menyetir jarak jauh, menonton layar terlalu lama, bekerja monoton, mengikuti rapat atau kelas panjang, hingga kurang tidur.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Microsleep memang sering sulit disadari, tapi ada beberapa tanda yang cukup umum, seperti:
- Mata tiba-tiba terpejam beberapa detik
- Fokus mendadak hilang
- Kepala mengangguk tanpa sadar
- Sering menguap
- Respons melambat
- Sulit mengingat informasi yang baru diterima
- Tiba-tiba merasa seperti baru bangun
Jika tanda-tanda ini sering muncul, bisa jadi tubuh sedang terlalu lelah dan butuh istirahat.
Baca juga: Hal yang Harus Disiapkan Sebelum Persalinan Normal, Jangan Sampai Terlewat
Penyebab Microsleep
1. Kurang Tidur
Kurang tidur jadi penyebab paling umum microsleep. Tidur kurang dari 6–7 jam per malam bisa membuat otak kehilangan fokus dan lebih mudah down sesaat.
2. Kelelahan Fisik dan Mental
Aktivitas berat, stres, atau terlalu banyak berpikir juga bisa membuat otak cepat lelah. Saat tubuh sudah terlalu capek, otak akan memaksa tubuh beristirahat meski hanya beberapa detik.
3. Gangguan Tidur
Beberapa gangguan tidur seperti insomnia, sleep apnea, atau narcolepsy juga bisa memicu microsleep karena kualitas tidur malam jadi terganggu.
4. Konsumsi Alkohol atau Obat Tertentu
Alkohol dan beberapa obat penenang dapat membuat rasa kantuk meningkat dan menurunkan konsentrasi.
5. Aktivitas Monoton
Melakukan aktivitas yang itu-itu saja, seperti menyetir di jalan lurus dalam waktu lama, bisa membuat otak kehilangan kewaspadaan.
Baca juga: Rekomendasi Obat Sakit Kepala untuk Ibu Menyusui, Aman dan Mudah Ditemukan
Bahaya Microsleep saat Berkendara
Microsleep saat menyetir termasuk kondisi yang sangat berbahaya. Bayangkan jika seseorang tertidur selama 3 detik saat mobil melaju 100 km/jam. Dalam waktu singkat itu, kendaraan bisa melaju puluhan meter tanpa kontrol.
Risiko yang bisa terjadi seperti keluar jalur, menabrak kendaraan lain, respons terlambat saat mengerem, hingga kecelakaan fatal. Karena itu, microsleep bukan sekadar mengantuk biasa.
Cara Mengatasi Microsleep
1. Tidur Cukup
Usahakan tidur 7–8 jam setiap malam agar tubuh dan otak mendapat waktu istirahat yang cukup.
2. Istirahat saat Perjalanan Jauh
Jika sedang menyetir jauh, sempatkan berhenti dan istirahat setiap 1–2 jam. Jangan memaksakan diri terus berkendara saat mata sudah terasa berat.
3. Lakukan Power Nap
Tidur singkat sekitar 10–20 menit bisa membantu meningkatkan fokus dan kewaspadaan.
4. Hindari Alkohol sebelum Berkendara
Alkohol dan obat tertentu bisa memperparah rasa kantuk dan membuat microsleep lebih mudah terjadi.
5. Buat Tubuh Tetap Aktif
Saat mulai mengantuk, coba lakukan peregangan ringan, buka jendela, atau dengarkan musik agar tubuh tetap terjaga.
Baca juga: Apa Obat Muntaber agar Cepat Sembuh? Cek Cara Penanganan Alami dan Medisnya
6. Periksa Gangguan Tidur
Jika sering mengalami microsleep meski sudah cukup tidur, sebaiknya konsultasikan ke dokter karena bisa jadi ada gangguan tidur tertentu.
Kapan Harus ke Dokter?
Segera periksa jika microsleep sering terjadi dan disertai gejala seperti mengantuk berlebihan di siang hari, mendengkur keras, napas berhenti saat tidur, sering terbangun di malam hari, hingga tubuh tetap lelah setelah tidur.
Pemeriksaan lebih lanjut penting untuk mengetahui apakah ada gangguan tidur yang perlu ditangani secara medis. Karena itu, penting untuk mengenali penyebab, tanda-tanda, dan cara mengatasinya sejak awal.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Persada Hospital