Minggu, 07 JUNI 2026 • 13:15 WIB

Dari Mual hingga Perdarahan Internal, Ini Gejala Penyakit Radiasi yang Perlu Diwaspadai

Author

Ilustrasi pengecekan penyakit radiasi. (Freepik)

INDOZONE.ID - Penyakit radiasi merupakan kondisi serius, yang bisa menyerang ketika tubuh terpapar radiasi dalam intensitas tinggi dalam waktu singkat.

Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai acute radiation sickness (ARS) atau sindrom radiasi akut

Tingkat keparahan penyakit bergantung pada jumlah radiasi yang diserap tubuh. Kondisi itu dikenal sebagai absorbed dose atau dosis serap.

Meski sering dikaitkan dengan bencana nuklir, penyakit radiasi tergolong langka. Pemeriksaan medis yang menggunakan radiasi dosis rendah, seperti rontgen (X-ray), CT scan, dan pemindaian kedokteran nuklir, tidak menyebabkan penyakit radiasi.

Kasus penyakit radiasi paling terkenal terjadi setelah pengeboman atom di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang, pada Perang Dunia II.

Setelah itu, sebagian besar kasus muncul akibat kecelakaan industri nuklir, termasuk insiden reaktor nuklir Chernobyl di Ukraina pada tahun 1986.

Baca juga: Radiasi di Sekitar Kita: Berbahaya atau Aman? Ini Kata Kemenkes

Apa Itu Penyakit Radiasi?

Dikutip dari Mayo Clinic, radiasi merupakan energi yang dilepaskan atom dalam bentuk gelombang atau partikel kecil. Ketika seseorang terpapar radiasi berenergi tinggi dalam jumlah besar, radiasi tersebut dapat merusak atau menghancurkan sel-sel tubuh.

Bagian tubuh yang paling rentan terhadap kerusakan akibat radiasi adalah:

  • Sumsum tulang.
  • Saluran pencernaan, terutama lapisan usus.
  • Sistem kekebalan tubuh.

Kerusakan pada jaringan-jaringan tersebut dapat menyebabkan berbagai gejala yang berpotensi mengancam jiwa.

Gejala Penyakit Radiasi

Tingkat keparahan gejala sangat bergantung pada jumlah radiasi yang diserap tubuh. Faktor lain yang memengaruhi antara lain, kekuatan sumber radiasi, lama paparan, jarak dari sumber radiasi, serta apakah paparan terjadi pada seluruh tubuh atau hanya sebagian tubuh.

Ilustrasi radiasi (freepik).

Gejala Awal

Gejala pertama yang biasanya muncul pada kasus penyakit radiasi yang masih dapat ditangani adalah:

  • Mual
  • Muntah

Waktu munculnya mual dan muntah setelah paparan, sering digunakan sebagai petunjuk untuk memperkirakan jumlah radiasi yang diterima. Semakin cepat gejala muncul, semakin tinggi dosis radiasi yang kemungkinan diserap.

Setelah gejala awal mereda, penderita dapat mengalami periode tanpa keluhan yang jelas sebelum gejala yang lebih berat berkembang.

Gejala Lanjutan

Pada paparan ringan, gejala dapat muncul beberapa jam hingga beberapa minggu setelah kejadian. Namun pada paparan berat, gejala dapat muncul hanya dalam hitungan menit hingga beberapa hari.

Gejala yang mungkin terjadi meliputi:

  • Mual dan muntah.
  • Diare.
  • Sakit kepala.
  • Demam.
  • Pusing dan kebingungan.
  • Kelemahan tubuh.
  • Kelelahan berat.
  • Kerontokan rambut.
  • Muntah darah akibat perdarahan internal.
  • Tinja berdarah.
  • Infeksi berulang.
  • Tekanan darah rendah.

Baca juga: Gak Harus Operasi! Radiasi Dosis Rendah Ternyata Bisa Ringankan Osteoartritis

Kapan Harus Mencari Pertolongan Medis?

Apabila terjadi kecelakaan atau serangan yang melibatkan bahan radioaktif, masyarakat disarankan untuk mengikuti informasi resmi dari radio, televisi, atau sumber daring terpercaya, mengenai langkah darurat yang harus dilakukan.

Seseorang yang mengetahui atau mencurigai dirinya telah terpapar radiasi dosis tinggi, harus segera mendapatkan pertolongan medis darurat.

Penyebab Penyakit Radiasi

Penyakit radiasi terjadi akibat paparan radiasi dosis tinggi yang merusak atau menghancurkan sel-sel tubuh.

Sumber paparan radiasi dosis tinggi dapat berasal dari:

  • Kecelakaan di fasilitas industri nuklir.
  • Serangan terhadap fasilitas nuklir.
  • Ledakan perangkat radioaktif berukuran kecil.
  • Ledakan yang menyebarkan material radioaktif (dirty bomb).
  • Ledakan senjata nuklir.

Faktor Risiko

Risiko penyakit radiasi meningkat pada individu yang berada dekat dengan sumber radiasi berenergi tinggi, terutama saat terjadi:

  • Kecelakaan reaktor nuklir.
  • Kebocoran bahan radioaktif.
  • Serangan teroris menggunakan bahan radioaktif.
  • Ledakan nuklir

Semakin dekat seseorang dengan sumber radiasi dan semakin lama durasi paparannya, semakin besar risiko mengalami kerusakan organ yang serius.

Ilustrasi seseorang terkena penyakit radiasi. (Freepik)

Komplikasi yang Dapat Terjadi

Selain dampak fisik, penyakit radiasi juga dapat memicu masalah kesehatan mental jangka pendek maupun jangka panjang.

Beberapa komplikasi psikologis yang umum meliputi:

  • Kesedihan akibat kehilangan orang terdekat.
  • Ketakutan dan kecemasan setelah kecelakaan atau serangan radioaktif.
  • Stres akibat ketidakpastian kondisi kesehatan.
  • Kekhawatiran terhadap risiko kanker di masa depan.

Cara Mencegah Paparan Radiasi

Dalam situasi darurat radiasi, masyarakat harus mengikuti instruksi dari otoritas setempat. Secara umum, tindakan perlindungan biasanya berupa berlindung di tempat (shelter in place) atau evakuasi.

Jika Diminta Berlindung di Tempat

Langkah-langkah yang dianjurkan meliputi:

  • Menutup dan mengunci seluruh pintu serta jendela.
  • Mematikan kipas angin, AC, dan sistem ventilasi yang mengambil udara dari luar.
  • Menutup cerobong perapian.
  • Membawa hewan peliharaan ke dalam rumah.
  • Berpindah ke ruangan bagian dalam atau ruang bawah tanah.
  • Terus mengikuti informasi dari saluran darurat dan berita lokal.
  • Tetap berada di lokasi setidaknya selama 24 jam atau sesuai instruksi pihak berwenang.

Jika Diminta Evakuasi

Saat melakukan evakuasi, bawalah perlengkapan penting seperti:

  • Senter.
  • Radio portabel.
  • Baterai cadangan.
  • Kotak P3K.
  • Obat-obatan yang diperlukan.
  • Makanan kemasan.
  • Air minum dalam botol.
  • Pembuka kaleng manual.
  • Uang tunai dan kartu pembayaran.
  • Pakaian cadangan

Diagnosis Penyakit Radiasi

Untuk menentukan tingkat keparahan penyakit radiasi, tenaga medis akan melakukan berbagai pemeriksaan, antara lain:

Riwayat Paparan

Informasi mengenai jarak dari sumber radiasi dan lamanya paparan membantu memperkirakan dosis yang diterima.

Evaluasi Gejala

Waktu munculnya muntah setelah paparan merupakan indikator penting untuk memperkirakan tingkat paparan radiasi.

Tes Darah 

Pemeriksaan darah berulang dilakukan untuk menilai:

  • Penurunan jumlah sel darah putih.
  • Kerusakan sumsum tulang.
  • Perubahan DNA pada sel darah.

Dosimeter

Alat ini digunakan untuk mengukur jumlah radiasi yang diserap jika alat tersebut turut terpapar dalam kejadian yang sama.

Geiger Counter

Perangkat tersebut  membantu mendeteksi lokasi partikel radioaktif pada tubuh seseorang.

Identifikasi Jenis Radiasi

Menentukan jenis radiasi yang terlibat penting untuk memilih terapi yang paling tepat.

Pengobatan Penyakit Radiasi

Tujuan utama pengobatan adalah:

  • Mencegah kontaminasi radioaktif lebih lanjut.
  • Mengatasi cedera yang mengancam nyawa.
  • Mengurangi gejala.
  • Mengendalikan nyeri.
  • Menangani kerusakan organ.

1. Dekontaminasi

Dekontaminasi bertujuan menghilangkan partikel radioaktif dari permukaan tubuh.

Langkah-langkahnya meliputi:

  • Melepaskan pakaian dan alas kaki, yang dapat menghilangkan sekitar 90 persen kontaminasi eksternal.
  • Membersihkan tubuh secara perlahan menggunakan air dan sabun.

2. Pengobatan Kerusakan Sumsum Tulang

Dokter dapat memberikan obat yang merangsang produksi sel darah putih, seperti:

  • Filgrastim.
  • Sargramostim.
  • Pegfilgrastim.

Pada kasus berat, pasien mungkin memerlukan:

  • Transfusi sel darah merah.
  • Transfusi trombosit.

3. Penanganan Kontaminasi Internal

Beberapa obat digunakan untuk membantu mengeluarkan zat radioaktif dari tubuh.

Kalium Iodida

Kalium iodida merupakan bentuk iodin nonradioaktif yang membantu melindungi kelenjar tiroid dari penyerapan iodin radioaktif. Obat ini paling efektif jika diberikan dalam waktu 24 jam setelah paparan.

Prussian Blue

Zat ini dapat mengikat unsur radioaktif seperti sesium dan talium sehingga lebih cepat dikeluarkan melalui feses.

DTPA (Diethylenetriamine Pentaacetic Acid)

DTPA membantu mengikat unsur radioaktif seperti plutonium, amerisium, dan kurium agar dapat dikeluarkan melalui urine.

4. Perawatan Pendukung

Pasien juga dapat menerima terapi tambahan untuk mengatasi:

  • Infeksi bakteri.
  • Sakit kepala.
  • Demam.
  • Diare.
  • Mual dan muntah.
  • Dehidrasi.
  • Luka bakar.
  • Luka terbuka dan ulkus.

5. Perawatan pada Stadium Akhir

Paparan radiasi dalam dosis yang sangat tinggi, sering kali menyebabkan kerusakan organ yang tidak dapat dipulihkan. Dalam kondisi tersebut, peluang bertahan hidup menjadi sangat kecil.

Kematian dapat terjadi dalam waktu dua hari hingga dua minggu, tergantung pada besarnya dosis radiasi yang diterima.

Fokus perawatan biasanya beralih pada pengendalian gejala melalui:

  • Obat pereda nyeri.
  • Obat antimual dan antimuntah.
  • Pengobatan diare.
  • Dukungan psikologis.
  • Pendampingan spiritual.

Oleh karena itu, pencegahan melalui perlindungan diri saat keadaan darurat radiasi, dan kepatuhan terhadap instruksi otoritas, menjadi langkah paling efektif untuk mengurangi risiko dampak kesehatan akibat paparan radiasi.



Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Mayo Clinic

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU