Ilustrasi obat terlarang rhino tranq, untuk penenang hewan yang dikenal di jalanan. (Freepik)
INDOZONE.ID – Krisis overdosis narkoba mulai memasuki babak baru yang lebih berbahaya. Selama ini, nalokson dikenal sebagai obat penyelamat yang mampu membalikkan efek overdosis opioid, seperti fentanyl.
Namun kini, para tenaga medis menghadapi ancaman baru yang tidak dapat diatasi dengan cara yang sama.
Zat tersebut adalah medetomidine, obat penenang hewan yang dikenal di jalanan dengan sebutan rhino tranq.
Dalam beberapa tahun terakhir, medetomidine semakin sering ditemukan dicampurkan ke dalam pasokan fentanyl ilegal di Amerika Serikat.
Yang mengkhawatirkan, zat ini tidak merespons nalokson, sehingga meningkatkan risiko kematian akibat overdosis.
Peringatan resmi bahkan telah dikeluarkan Centers for Disease Control and Prevention (CDC), dan White House Office of National Drug Control Policy (ONDCP) pada April 2026, terkait penyebaran medetomidine yang semakin luas.
Baca juga: Dari Rokok ke Narkoba: Bahaya Tersembunyi di Balik Asap yang Dianggap Sepele
Dikutip Medical Daily, medetomidine merupakan obat sedatif yang digunakan dalam dunia kedokteran hewan, untuk menenangkan hewan berukuran besar, termasuk badak dan gajah. Dari sinilah muncul julukan rhino tranq.
Secara farmakologis, medetomidine termasuk kelompok agonis alfa-2 adrenergik, serupa dengan xylazine dan clonidine.
Namun, para ahli menilai, medetomidine memiliki efek yang lebih kuat dan bertahan lebih lama dibandingkan kedua zat tersebut.
Ketika dicampurkan dengan fentanyl, medetomidine dapat menyebabkan:
Ilustrasi Narkoba. (photo/Ilustrasi/Pexels/Szymon Shields)
Data pengawasan CDC menunjukkan, peningkatan yang sangat tajam dalam temuan medetomidine pada sampel narkoba ilegal.
Pada tahun 2023, medetomidine ditemukan dalam 247 sampel narkoba. Angka tersebut melonjak menjadi 2.616 sampel pada 2024, dan mencapai 8.233 sampel pada 2025.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Medical Daily