Rabu, 10 JUNI 2026 • 11:00 WIB

Diam-Diam Jadi Pemicu Stres: Kebiasaan Ini Bikin Banyak Orang Hidup dalam Kecemasan Tanpa Sadar

Author

Ilustrasi mencoba meredakan overthinking. (Magnific)

INDOZONE.ID - Pernah nggak sih, tiba-tiba kepikiran hal buruk padahal semuanya baik-baik saja? Baru baca pesan singkat dari atasan, langsung panik. Teman belum membalas chat, langsung merasa ada masalah. Kesalahan kecil yang terjadi bertahun-tahun lalu pun tiba-tiba muncul lagi di kepala saat mau tidur.

Kalau hal seperti ini sering terjadi, bisa jadi sumber stresmu bukan hanya karena banyaknya masalah yang sedang dihadapi. Ada faktor lain yang sering luput dari perhatian: cara kita memperlakukan pikiran sendiri.

Tanpa sadar, banyak orang terjebak dalam kebiasaan mempercayai setiap pikiran yang muncul di kepala. Padahal, tidak semua isi pikiran adalah fakta.

Mengenal Metakognisi: Kemampuan yang Jarang Dibahas

Dalam dunia psikologi, ada istilah yang disebut “metakognisi”. Sederhananya, ini adalah kemampuan untuk menyadari dan memahami bagaimana cara kita berpikir.

Bukan sekadar berpikir, tetapi menyadari bahwa kita sedang berpikir.

Kemampuan ini membuat seseorang mampu mengambil jarak dari isi kepalanya sendiri. Jadi, ketika muncul pikiran seperti, “Aku pasti gagal,” atau “Semua orang pasti menilaiku buruk,” kita tidak langsung menerimanya sebagai kebenaran mutlak.

Sebaliknya, kita mulai bertanya:

“Apa yang membuatku berpikir seperti ini?”
“Apakah reaksiku sebanding dengan situasinya?”
“Benarkah hal yang kutakutkan akan terjadi?”

Pertanyaan sederhana seperti itu ternyata bisa menjadi langkah awal untuk mengurangi stres yang berlebihan.

Baca juga: Sering Merasa Capek dan Overthinking? Coba Mulai Kebiasaan Ini, Efeknya Bisa Bikin Hidup Lebih Tenang

Kenapa Kita Mudah Terjebak dalam Overthinking?

Masalahnya, sebagian besar dari kita menjalani hari dengan mode otomatis. Saat menghadapi kritik, konflik, atau situasi yang membuat tidak nyaman, otak langsung bereaksi. Jantung berdebar lebih cepat, pikiran dipenuhi skenario terburuk, dan kecemasan mengambil alih.

Kita jarang berhenti untuk mengecek apakah respons tersebut benar-benar diperlukan. Akibatnya, pikiran negatif terus berputar tanpa henti. Semakin dipikirkan, semakin besar kekhawatiran yang dirasakan.

Inilah yang membuat stres terasa seperti lingkaran yang sulit diputus.

Bertanya pada Diri Sendiri Bisa Mengubah Cara Otak Bekerja

Ilustrasi zodiak yang overthinking (Pexels/Tess Emily Seymour)

Menariknya, saat seseorang mulai mengamati pikirannya sendiri, ada perubahan dalam cara otak memproses informasi.

Ketika kita berhenti sejenak dan bertanya, “Kenapa aku bereaksi seperti ini?” perhatian otak dapat bergeser dari respons emosional yang impulsif menuju area yang berperan dalam refleksi dan evaluasi.

Bagian otak tersebut membantu kita untuk mempertimbangkan berbagai sudut pandang, menilai situasi dengan lebih jernih, dan mengambil keputusan yang tidak semata-mata didorong oleh emosi sesaat.

Artinya, kebiasaan merefleksikan pikiran bukan sekadar “berpikir lebih dalam”, tetapi juga menjadi salah satu cara melatih pengendalian diri.

Tidak Semua Pikiran Harus Dipercaya

Salah satu kesalahan terbesar yang sering dilakukan banyak orang adalah menganggap setiap pikiran sebagai kenyataan. Padahal, pikiran hanyalah pikiran.

Merasa takut bukan berarti bahaya benar-benar ada. Merasa tidak mampu bukan berarti kita benar-benar tidak kompeten. Dan merasa ditolak bukan berarti semua orang memang tidak menyukai kita.

Metakognisi mengajarkan bahwa kita tidak harus mengikuti semua isi kepala kita. Kita bisa mengamati, mengevaluasi, lalu memutuskan apakah pikiran tersebut layak dipercaya atau justru perlu dilepaskan.

Baca juga: Sering Overthinking Sampai Capek Sendiri? Ini 4 Hal yang Harus Kamu Ikhlaskan Biar Hidup Lebih Tenang

Mungkin Selama Ini yang Perlu Diubah Bukan Situasinya

Saat stres datang, banyak orang langsung fokus mencari cara untuk mengubah keadaan di sekitarnya. Padahal, terkadang yang lebih penting adalah memahami apa yang sedang terjadi di dalam diri sendiri.

Belajar mengenali pola pikir bukan berarti menghilangkan emosi negatif sepenuhnya. Tujuannya adalah agar kita tidak terus-menerus dikendalikan oleh reaksi otomatis yang justru memperparah kecemasan.

Jadi, kalau akhir-akhir ini kamu merasa mudah cemas, sulit tenang, atau sering overthinking tanpa alasan yang jelas, mungkin ini saatnya berhenti sejenak. Bukan untuk membungkam pikiranmu, tetapi untuk mendengarkannya dengan lebih sadar. Karena terkadang, sumber stres terbesar bukan berasal dari dunia luar. Melainkan dari cerita-cerita yang tanpa sadar terus kita ulang di dalam kepala sendiri.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Psychologytoday.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU