Minggu, 14 JUNI 2026 • 11:15 WIB

Berat Badan Enggak Kunjung Turun Meski Pakai Wegovy? Ini Kemungkinan Penyebabnya

Author

Ilustrasi berat badan turun (Unsplash/I yunmai)

INDOZONE.ID - Penelitian terbaru dari Stanford Medicine mengungkap, alasan kenapa obat populer penurun gula darah dan berat badan seperti Ozempic dan Wegovy, tidak memberikan hasil optimal pada sebagian pasien. 

Temuan tersebut menunjukkan, sekitar 10 persen populasi memiliki variasi genetik tertentu, yang membuat tubuh mereka kurang responsif terhadap obat golongan GLP-1 receptor agonist.

DIkutip dari Medical Daily, pada penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Genome Medicine pada April 2026 ini memberikan pemaparan ilmiah pertama yang jelas, mengenai kenapa sebagian pasien gagal memperoleh manfaat maksimal dari terapi GLP-1, meskipun telah menggunakan obat sesuai anjuran dokter.

Obat GLP-1 Semakin Populer dalam Pengobatan Diabetes dan Obesitas

Dalam beberapa tahun terakhir, obat-obatan GLP-1 seperti Ozempic, Wegovy, Mounjaro, dan Zepbound menjadi bagian penting dalam pengobatan diabetes tipe 2 dan obesitas.

Baca juga: 4 Faktor yang Mempengaruhi Penurunan Berat Badan

Obat ini bekerja dengan meniru hormon alami tubuh yang disebut GLP-1 (glucagon-like peptide-1), yang berperan dalam:

  • Merangsang pelepasan insulin.
  • Memperlambat pengosongan lambung.
  • Menekan nafsu makan.
  • Membantu mengontrol kadar gula darah.

Berkat efektivitasnya, penggunaan obat GLP-1 terus meningkat di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat. Namun, dokter telah lama mengamati, respons pasien terhadap obat ini sangat bervariasi.

Variasi Gen PAM Jadi Kunci Jawaban

Tim peneliti Stanford menemukan, penyebab utama perbedaan respons tersebut berkaitan dengan variasi pada gen yang disebut PAM (Peptidyl-glycine Alpha-amidating Monooxygenase).

Gen PAM berperan penting dalam mengaktifkan sejumlah hormon peptida, termasuk hormon GLP-1.

Ilustrasi obat penurun berat badan. (freepik.com)

Ketika gen ini tidak berfungsi secara optimal akibat variasi genetik tertentu, hormon GLP-1 memang tetap diproduksi oleh tubuh, tetapi aktivitas biologisnya menjadi berkurang.

Akibatnya, sinyal yang dikirimkan hormon tersebut kepada tubuh menjadi lebih lemah.

Dua variasi gen yang menjadi perhatian dalam penelitian ini adalah:

  • p.S539W
  • p.D563G

Menurut para peneliti, individu yang membawa variasi gen tersebut, justru memiliki kadar GLP-1 dalam darah yang lebih tinggi dibandingkan normal. Namun, hormon tersebut tidak bekerja secara efektif.

Kenapa Obat Ozempic dan Wegovy Menjadi Kurang Efektif?

Karena jalur sinyal GLP-1 dalam tubuh sudah mengalami gangguan, penggunaan obat GLP-1 receptor agonist seperti Ozempic dan Wegovy menghasilkan respons yang lebih lemah.

Artinya, meskipun pasien mendapatkan dosis yang tepat dan mematuhi pengobatan, tubuh mereka tetap tidak merespons sebaik pasien lain yang tidak memiliki variasi gen PAM.

Kondisi ini dapat menyebabkan:

  • Penurunan gula darah yang kurang optimal.
  • Respons insulin yang lebih rendah.
  • Efek penurunan nafsu makan yang berkurang.
  • Hasil terapi yang tidak sesuai harapan.

Temuan Didukung Berbagai Uji Penelitian

Para peneliti mendukung temuannya melalui berbagai pendekatan penelitian. Pada percobaan menggunakan tikus yang gen PAM-nya dinonaktifkan, hewan tersebut menunjukkan tanda-tanda resistensi terhadap GLP-1.

Sementara itu, pada manusia yang memiliki variasi gen p.S539W, kadar gula darah menurun lebih lambat setelah mengonsumsi glukosa dibandingkan individu tanpa variasi gen tersebut.

Analisis gabungan terhadap 1.119 peserta dalam berbagai uji klinis obat GLP-1 juga menunjukkan, pembawa variasi gen PAM memiliki peluang lebih rendah untuk mencapai pengendalian gula darah yang optimal.

Baca juga: Kenapa Makin Umur Bertambah Berat Badan Susah Turun? Ternyata Ini Alasannya

Lebih Umum Ditemukan pada Penderita Diabetes Tipe 2

Penelitian menunjukkan, variasi gen PAM ditemukan pada sekitar 10 persen populasi umum. Namun yang menarik, variasi ini ditemukan lebih sering pada penderita diabetes tipe 2 dibandingkan populasi secara keseluruhan.

Menurut peneliti, hal ini mungkin terjadi karena gangguan aktivasi GLP-1 membuat kemampuan alami tubuh dalam mengontrol kadar gula darah setelah makan menjadi berkurang, bahkan sebelum seseorang didiagnosis diabetes.

Dengan kata lain, variasi gen PAM tidak hanya memengaruhi efektivitas obat, tetapi juga berpotensi meningkatkan risiko seseorang mengalami diabetes tipe 2.

Pentingnya Pendekatan Pengobatan yang Lebih Personal

Temuan ini memperkuat konsep precision medicine atau pengobatan presisi, yaitu pendekatan yang menyesuaikan terapi berdasarkan karakteristik genetik dan metabolisme setiap individu.

Dalam pengobatan diabetes, pendekatan ini dianggap sebagai masa depan terapi karena tidak semua pasien memberikan respons yang sama terhadap obat yang identik.

Menurut para peneliti, pasien yang menggunakan Ozempic atau Wegovy selama tiga hingga enam bulan, namun tidak memperoleh hasil yang diharapkan sebaiknya tidak langsung dianggap tidak patuh menjalani pengobatan.

Kemungkinan lain yang perlu dipertimbangkan adalah adanya variasi gen PAM yang menyebabkan tubuh kurang responsif terhadap terapi GLP-1.

Tes Genetik Berpotensi Membantu Menentukan Terapi

Penelitian Stanford mengindikasikan bahwa pemeriksaan genetik untuk mendeteksi variasi gen PAM dapat membantu dokter mengidentifikasi pasien yang kemungkinan tidak akan merespons terapi GLP-1 secara optimal.

Jika kondisi tersebut diketahui lebih awal, dokter dapat mempertimbangkan pilihan terapi lain, seperti:

  • Obat golongan SGLT2 inhibitor.
  • Kombinasi terapi berbasis tirzepatide dengan dosis tertentu.
  • Kelas obat diabetes lainnya yang lebih sesuai dengan kondisi pasien.

Dengan demikian, pasien tidak perlu menjalani terapi yang kurang efektif dalam waktu lama.

Masih Dibutuhkan Penelitian Lanjutan

Meski hasil penelitian ini menjanjikan, para peneliti menegaskan, mekanisme resistensi GLP-1 masih belum sepenuhnya dipahami.

Selain itu, penelitian ini lebih berfokus pada pengendalian gula darah dan belum secara khusus mengevaluasi dampak variasi gen PAM terhadap keberhasilan penurunan berat badan.

Oleh karena itu, penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memahami seluruh pengaruh gen PAM terhadap efektivitas obat-obatan GLP-1.

Baca juga: Benarkah Green Coffee Ampuh Turunkan Berat Badan? Ini Faktanya yang Jarang Dibahas!

Era Baru Pengobatan Diabetes

Temuan Stanford menjadi salah satu langkah penting, menuju era pengobatan diabetes yang lebih personal dan berbasis genetika.

Selama ini, variasi respons terhadap terapi GLP-1 memang telah diakui oleh para ahli, tetapi alasan biologis di balik perbedaan tersebut belum diketahui secara pasti.

Kini, penelitian mengenai gen PAM memberikan petunjuk kuat bahwa faktor genetik memainkan peran besar dalam menentukan keberhasilan terapi.

Bagi pasien diabetes tipe 2 yang tidak memperoleh hasil optimal dari Ozempic, Wegovy, atau obat GLP-1 lainnya, temuan ini membuka peluang baru untuk mendapatkan pengobatan yang lebih tepat sasaran di masa mendatang.

Seiring berkembangnya teknologi farmakogenomik dan pemeriksaan genetik, pendekatan pengobatan yang disesuaikan dengan profil genetik pasien diperkirakan akan menjadi bagian penting dalam penanganan diabetes modern.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Medical Daily

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU