INDOZONE.ID - Tidak semua luka meninggalkan bekas yang terlihat. Ada kalanya seseorang justru kehilangan kemampuan untuk merasakan emosi setelah mengalami kejadian yang sangat menyakitkan.
Alih-alih menangis atau marah, ia merasa hampa, kosong, dan seolah tidak merasakan apapun. Kondisi ini dikenal sebagai emotional numbness atau mati rasa secara emosional.
Dalam dunia psikologi, kondisi tersebut merupakan salah satu mekanisme pertahanan diri ketika seseorang menghadapi pengalaman yang terlalu berat untuk diproses sekaligus.
Temuan yang dipublikasikan dalam Journal of Traumatic Stress menjelaskan bahwa emotional numbness merupakan bagian dari respons disosiatif (dissociation), yaitu mekanisme psikologis yang muncul ketika seseorang mengalami peristiwa yang sangat membebani kemampuan otaknya untuk mengatasi stres.
Baca juga: Dada Sering Nyeri Tanpa Sebab Medis? Bisa Jadi Ini Alarm dari Luka Hati yang Belum Sembuh!
Melalui mekanisme ini, otak “memutus sementara” hubungan dengan emosi atau pengalaman tertentu sebagai cara untuk melindungi diri dari tekanan yang berlebihan.
Trauma Tidak Selalu Berasal dari Peristiwa yang Mengancam Nyawa
Banyak orang mengira trauma hanya muncul setelah mengalami kecelakaan, bencana alam, atau tindak kekerasan yang ekstrim. Padahal, penyebab trauma bisa jauh lebih luas dari itu.
Perasaan terancam, pengalaman yang membuat seseorang merasa tidak aman, hingga kejadian yang hanya dianggap sebagai ancaman oleh pikiran juga dapat meninggalkan dampak psikologis yang mendalam.
Selain itu, pengalaman masa kecil seperti pengabaian emosional atau kekerasan juga termasuk faktor yang dapat memicu trauma.
Baca juga: Perut Sering Mulas Ketika Berada di Situasi Tegang? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Karena itu, dua orang yang mengalami peristiwa serupa belum tentu memberikan respons yang sama. Pengalaman traumatis sangat dipengaruhi oleh bagaimana seseorang memaknai dan merasakan peristiwa tersebut.
Trauma yang Tidak Diproses Bisa Terus Membekas
Trauma bukan sesuatu yang otomatis hilang seiring berjalannya waktu. Jika tidak pernah diproses, pengalaman tersebut dapat terus mempengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan emosi, hingga bereaksi terhadap lingkungan di sekitarnya.
Akibatnya, seseorang mungkin terbiasa menekan emosinya setiap kali merasa rentan. Lama-kelamaan, ia kesulitan mengenali apa yang sebenarnya sedang dirasakan karena tubuh telah terbiasa menggunakan mati rasa sebagai bentuk perlindungan.
Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Traumatic Stress oleh psikiater trauma Bessel A. van der Kolk dan Rita Fisler, ingatan traumatis tidak selalu tersimpan sebagai memori yang utuh.
Baca juga: Sering Sakit Punggung Bawah? Bisa Jadi Amarah yang Selama Ini Kamu Pendam Penyebabnya!
Sebaliknya, pengalaman tersebut sering muncul kembali dalam bentuk potongan sensasi, emosi, atau reaksi tubuh yang muncul secara otomatis ketika seseorang menghadapi situasi yang mengingatkannya pada trauma di masa lalu.
Sulit Percaya pada Orang Lain hingga Kehilangan Keintiman
Dampak trauma yang belum selesai tidak hanya dirasakan oleh diri sendiri, tetapi juga dapat mempengaruhi hubungan dengan orang lain.
Ketika tubuh terus berada dalam mode waspada, mempercayai orang lain menjadi hal yang sulit dilakukan. Seseorang mungkin merasa takut untuk membuka diri karena khawatir akan kembali disakiti.
Akibatnya, hubungan yang seharusnya dipenuhi kedekatan emosional justru terasa berjarak dan sulit berkembang. Temuan lain dalam Journal of Traumatic Stress menunjukkan bahwa emotional numbness berkaitan erat dengan gejala PTSD.
Baca juga: 7 Manfaat Luar Biasa Ikan Toman untuk Kesehatan Tubuh
Penelitian tersebut menemukan bahwa individu yang mengalami mati rasa emosional setelah peristiwa traumatis cenderung memiliki gejala PTSD yang lebih berat dan lebih berisiko mengalami kesulitan dalam mengatur emosi maupun membangun hubungan interpersonal.
Saat Merasa Terancam, Tubuh Bisa Langsung “Membeku”
Salah satu respons yang sering dialami penyintas trauma adalah freeze atau membeku.
Saat menghadapi situasi yang mengingatkan pada pengalaman buruk di masa lalu, tubuh dapat bereaksi secara otomatis. Pikiran mendadak kosong, sulit berkonsentrasi, bingung harus bertindak, bahkan tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
Respons ini bukan berarti seseorang lemah atau berlebihan. Sebaliknya, tubuh sedang mengaktifkan sistem perlindungan yang dulu membantunya bertahan saat menghadapi ancaman.
Baca juga: 7 Manfaat Biji Nangka untuk Kesehatan yang Jarang Diketahui
Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa respons disosiatif seperti membeku, mati rasa, atau merasa terlepas dari diri sendiri merupakan bagian dari mekanisme bertahan hidup yang umum ditemukan pada penyintas trauma.
Respons tersebut muncul karena otak berusaha mengurangi dampak emosional dari situasi yang dianggap berbahaya, meskipun ancaman sebenarnya sudah berlalu.
Mengenali Trauma Adalah Awal dari Proses Pemulihan
Mati rasa akibat trauma bukanlah sesuatu yang harus dipendam sendirian. Langkah pertama yang paling penting adalah menyadari bahwa pengalaman masa lalu mungkin masih mempengaruhi kehidupan saat ini.
Kesadaran tersebut menjadi pintu awal untuk mulai memproses trauma secara lebih sehat. Dengan bantuan yang tepat, seseorang dapat belajar menghadapi pengalaman tersebut tanpa terus-menerus dikendalikan oleh rasa takut atau mekanisme bertahan yang sudah tidak lagi dibutuhkan.
Baca juga: 7 Penyakit yang Menyerang Sistem Gerak yang Perlu Diwaspadai
Meminta bantuan kepada psikolog atau tenaga profesional juga bukan tanda kelemahan. Sebaliknya, itu merupakan bentuk keberanian untuk memahami diri sendiri sekaligus memberi kesempatan bagi tubuh dan pikiran agar benar-benar pulih dari luka yang selama ini disimpan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber