Ilustrasi reaksi berlebihan atau overreacting. (freepik)
INDOZONE.ID - Pernah merasa hari kamu langsung berantakan cuma karena pesan dibalas singkat, teman mendadak berubah dingin, atau ada komentar kecil yang terus terngiang di kepala?
Awalnya mungkin terlihat sepele. Tapi entah kenapa, pikiran langsung bergerak kemana-mana. Mulai dari merasa nggak disukai, takut dibenci, sampai menganggap diri sendiri melakukan kesalahan besar.
Situasi seperti ini ternyata sangat umum terjadi. Banyak orang tanpa sadar terlalu cepat bereaksi terhadap hal-hal kecil karena lebih mengikuti emosi dibanding melihat kenyataan secara utuh.
Akibatnya, masalah sederhana bisa terasa jauh lebih berat dari yang sebenarnya.
Baca juga: Panduan Penulisan Huruf Kapital yang Benar Sesuai Aturan Bahasa Indonesia Lengkap
Saat emosi sedang sensitif, otak cenderung membuat berbagai asumsi negatif secara otomatis. Masalahnya, asumsi itu sering langsung dipercaya begitu saja tanpa dipikir ulang.
Contohnya, ketika seseorang membalas chat hanya dengan satu kata, sebagian orang langsung merasa diabaikan.
Ada juga yang langsung berpikir hubungannya sedang bermasalah hanya karena pasangan terlihat lebih diam dari biasanya. Padahal kenyataannya belum tentu seperti itu.
Bisa saja orang tersebut sedang sibuk bekerja, kelelahan, fokus pada masalah pribadi, atau memang sedang tidak ingin banyak berbicara.
Baca juga: Pedagang Ini Punya Alasan Unik Mengapa Kambingnya Belum Terjual Saat Idul Adha
Namun karena pikiran sudah lebih dulu dipenuhi ketakutan dan overthinking, situasi biasa akhirnya terlihat seperti ancaman besar.
Di sinilah pentingnya: belajar berpikir lebih rasional sebelum bereaksi.
Emosi memang nyata, tetapi tidak semua emosi menggambarkan fakta yang sebenarnya terjadi.
Saat sedang marah, sedih, kecewa, atau cemas, seseorang biasanya lebih sulit melihat situasi secara objektif. Semua hal terasa personal dan menyerang diri sendiri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Psychologytoday.com