Ilustrasi penderita diabetes. (freepik.com)
INDOZONE.ID - Diabetes sering disebut sebagai "pembunuh diam-diam" karena dapat berkembang tanpa disadari hingga akhirnya menyebabkan komplikasi serius.
Di Indonesia, diabetes menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi setelah penyakit jantung dan stroke.
Lebih dari 70 persen pengidap diabetes tidak menyadari kondisi mereka karena gejala awalnya sering kali diabaikan.
Banyak gejala diabetes yang tidak disadari, seperti perubahan warna kulit atau gangguan pendengaran.
Lalu, apa saja tanda-tanda awal diabetes yang harus diwaspadai? Berikut diantaranya.
Salah satu tanda awal diabetes yang kerap diabaikan adalah perubahan warna kulit. Munculnya bercak hitam di area lipatan tubuh seperti leher, siku, atau ketiak bisa menjadi indikasi kadar gula darah yang terlalu tinggi.
Kondisi ini dikenal sebagai Acanthosis nigricans dan sering kali menjadi peringatan awal terhadap diabetes. Namun, tidak semua perubahan warna kulit menandakan diabetes, sehingga diperlukan tes gula darah untuk memastikan kondisi ini lebih lanjut.
Baca Juga: 6 Manfaat Squat bagi Penderita Diabetes, Benarkah Bisa Turunkan Gula Darah?
Diabetes dapat mempengaruhi kadar cairan dalam tubuh, termasuk di mata. Hal ini bisa menyebabkan perubahan pada penglihatan, baik berupa penurunan maupun peningkatan tajamnya penglihatan.
Banyak orang menganggap gangguan penglihatan hanya berkaitan dengan usia atau kelelahan, padahal perubahan mendadak dalam penglihatan bisa menjadi tanda awal diabetes tipe 2.
Untuk memastikan apakah gangguan penglihatan ini berkaitan dengan diabetes, penting untuk rutin melakukan tes gula darah sebagai langkah deteksi dini.
Jika anda sering mengalami rasa gatal yang tak kunjung hilang, ini bisa menjadi salah satu tanda diabetes.
Gatal yang terus-menerus terjadi akibat gangguan sirkulasi darah yang menyebabkan kulit menjadi lebih kering dan sensitif.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Health.harvard.edu