Sabtu, 18 APRIL 2026 • 10:05 WIB

Bukan Sial! Ini Alasan Ilmiah Kenapa Kamu Selalu Dapat Pasangan yang Toxic

Author

Ilustrasi toxic relationship. (Freepik)

INDOZONE.ID - Kamu pernah nggak sih, merasa seperti mengulang cerita cinta yang sama — hanya dengan orang yang berbeda?

Awalnya manis, penuh harapan, bikin deg-degan. Tapi lama-lama mulai muncul masalah yang itu lagi, itu lagi. 

Kamu sudah janji ke diri sendiri: “Next, aku nggak akan toleransi red flag.” Tapi kenyataannya? Kamu tetap bertahan, bahkan ketika tahu hubungan itu tidak sehat.

Tenang, kamu nggak sendirian. Dan yang lebih penting: ini bukan sekadar “nasib buruk”.

Baca juga: Tekanan Hidup Semakin Berat? Coba 10 Cara Ini Biar Mental Tetap Kuat

Ada pola psikologis yang sering bikin seseorang terus-menerus tertarik pada pasangan yang toxic — dan kebanyakan orang bahkan tidak menyadarinya.

Toxic Relationship Itu Seperti Apa, Sih?

Sekarang, kata “toxic” sering banget dipakai — kadang sampai kehilangan maknanya. Padahal, tidak semua hubungan yang penuh konflik itu otomatis toxic.

Hubungan bisa disebut toxic kalau ada pola yang terus berulang dan berdampak buruk secara emosional. Bukan cuma sekali-dua kali, tapi jadi kebiasaan.

Beberapa tanda yang sering muncul:

Baca juga: Cara Return Barang di Shopee dengan Mudah dan Cepat

  • Kamu merasa tidak didengar atau tidak dianggap penting
  • Pasangan selalu memutar-balikkan keadaan dan menyalahkan kamu
  • Kamu sering merasa lelah secara emosional setelah berinteraksi
  • Tidak ada keseimbangan — kamu terus memberi, dia terus menerima
  • Komunikasi penuh drama, asumsi, dan konflik yang tidak selesai
  • Kamu mulai kehilangan rasa percaya diri dan mempertanyakan diri sendiri

Baca juga: Merasa Diri Nggak Ada Artinya? 5 Langkah Ini Bisa Ubah Cara Pandang Kamu tentang Diri Sendiri

Yang bikin jebakan ini semakin kuat adalah: hubungan toxic tidak selalu buruk setiap waktu.

Ada momen hangat, perhatian, bahkan terasa sangat “cinta banget”. Inilah yang bikin banyak orang bertahan, berharap pasangan akan kembali seperti di awal.

Kenapa Kita Bisa “Kecantol” Hubungan Seperti Ini?

Ini bagian yang jarang dibahas: terkadang, kita memang tertarik pada pola yang tidak sehat.

Bukan karena kita suka disakiti, tapi karena otak kita lebih nyaman dengan sesuatu yang familiar — even if it hurts.

Dalam psikologi, ada konsep yang menjelaskan hal ini: kecenderungan untuk mengulang pola lama, terutama yang berkaitan dengan luka emosional masa lalu.

Baca juga: Cuti Menikah Berapa Hari? Ini Hak Karyawan dan Cara Pintar Ajukan ke HRD

Misalnya, kalau dulu kamu tumbuh dengan figur yang sulit memberikan perhatian atau validasi, ada kemungkinan kamu tanpa sadar mencari pasangan dengan karakter yang sama. Seolah-olah kamu ingin “memperbaiki cerita lama” lewat hubungan baru.

Padahal, yang terjadi justru sebaliknya: kamu terjebak dalam siklus yang sama.

Attachment Style: Pola Kedekatan yang Diam-Diam Mengatur Hidupmu

Selain pengalaman masa lalu, gaya keterikatan atau attachment style juga punya peran besar. Secara sederhana:

  • Orang dengan anxious attachment cenderung butuh kepastian dan takut ditinggalkan
  • Orang dengan avoidant attachment justru menjaga jarak dan sulit terbuka

Baca juga: 9 Cara Simpel Bangkitkan Motivasi Biar Semangat Balik Lagi!

Masalahnya, dua tipe ini sering saling tertarik.

Hasilnya? Hubungan tarik-ulur yang bikin capek:

  • Satu pihak mengejar
  • Satu pihak menjauh
  • Lalu berulang terus

Aneh memang, tapi hubungan seperti ini terasa “klik” karena sudah terasa familiar sejak awal.

Baca juga: Keren! Perusahaan Tekstil Ini Sediakan Lahan Pertanian untuk Karyawan yang akan Pensiun

Hati-Hati: Kamu Bisa Kehilangan Diri Sendiri

Salah satu dampak paling berbahaya dari hubungan toxic adalah hilangnya koneksi dengan diri sendiri. Kamu mulai:

  • Mengabaikan intuisi
  • Menurunkan standar
  • Mengorbankan kebutuhan pribadi
  • Merasa “aku terlalu banyak” hanya karena ingin dihargai

Lama-lama, kamu bukan lagi versi dirimu yang utuh — tapi versi yang terus berusaha menyesuaikan diri demi mempertahankan hubungan.

Baca juga: Cara Alami Mengurangi Cicak di Rumah dengan Bantuan Hewan Pemangsa

Coba Jujur ke Diri Sendiri: Ini Polanya?

Kalau kamu sering mengalami hal yang sama, coba refleksi sebentar:

  • Apakah kamu selalu tertarik pada tipe orang yang mirip?
  • Apakah mereka sulit berkomitmen atau emosinya tidak stabil?
  • Apakah kamu sering berharap mereka berubah?
  • Apakah kamu tetap bertahan meski kebutuhanmu tidak terpenuhi?

Kalau jawabannya “iya” untuk beberapa poin di atas, kemungkinan besar kamu sedang berada dalam pola yang berulang.

Dan kabar baiknya: pola ini bisa diputus.

Baca juga: Tips Menghadapi Kemarau Panjang agar Keluarga Tetap Sehat dan Aman

Cara Keluar dari Siklus Hubungan Toxic

Perubahan tidak instan, tapi sangat mungkin dilakukan. Berikut langkah yang bisa kamu mulai:

1. Percaya sama intuisi kamu

Kalau dari awal sudah terasa “ada yang nggak beres”, jangan diabaikan. Intuisi itu bukan drama — itu alarm.

2. Jangan cuma cari “chemistry”, cari kualitas

Chemistry bisa menipu. Fokuslah pada hal yang lebih penting: konsistensi, kejujuran, empati, dan kedewasaan.

Baca juga: Pulang Naik Angkot, Wanita ini Menangis Menyaksikan Sopir Membawa Anak Perempuannya yang Tertidur

3. Berani keluar dari “tipe lama”

Kadang orang yang baik itu tidak langsung bikin deg-degan. Tapi justru itu tanda hubungan yang lebih stabil.

4. Tetapkan batasan (boundaries)

Kamu berhak dihargai. Kalau seseorang tidak bisa memenuhi standar dasar itu, tidak perlu dipaksakan.

Baca juga: Niat Bikin Konten Suara Hujan, Cewek ini Malah Kaget karena Laptopnya Hampir Tersambar Petir

5. Tulis dan evaluasi pengalaman kamu

Journaling bisa membantu kamu melihat pola dengan lebih jelas — tanpa bias perasaan.

Kunci Terbesarnya: Self-Awareness + Self-Compassion

Momen paling penting dalam perjalanan ini adalah saat kamu sadar:

“Selama ini aku ikut berperan dalam pola ini.”

Bukan untuk menyalahkan diri, tapi untuk mengambil kendali.

Baca juga: 10 Contoh Teks Prosedur Sederhana dan Kompleks, Lengkap dengan Struktur

Dan di saat yang sama, penting untuk tetap berbaik hati pada diri sendiri. Kamu tidak bodoh karena pernah bertahan. Kamu hanya belum tahu.

Sekarang kamu tahu — dan itu sudah langkah besar.

Kamu Berhak Dapat Cinta yang Sehat

Setiap hubungan, bahkan yang paling menyakitkan sekalipun, selalu membawa pelajaran. Itu bukan cerminan nilai dirimu. Itu hanya tanda bahwa ada bagian dalam dirimu yang butuh disembuhkan.

Baca juga: Apa Itu Ijtihad? Ini Pengertian, Syarat Mujtahid, dan Fungsinya di Era Modern

Ketika kamu mulai mengenali pola, memperbaiki diri, dan berani memilih yang lebih baik, perlahan kamu akan menarik hubungan yang juga lebih sehat. Bukan lagi yang penuh drama, tapi yang penuh rasa aman, saling menghargai, dan tumbuh bersama.

Dan percayalah — hubungan seperti itu benar-benar ada.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Verywellmind.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU