INDOZONE.ID - Menganggur sering dianggap “fase hidup” yang wajar. Tapi, siapa sangka, dampaknya ternyata tidak cuma terasa di rekening atau kesehatan mental, melainkan bisa sampai ke tingkat sel tubuh.
Sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal PLOS ONE mengungkap fakta mengejutkan: pria yang tidak bekerja dalam jangka waktu lama berpotensi mengalami penuaan biologis lebih cepat dibandingkan mereka yang aktif bekerja.
Tekanan Hidup Modern, Bukan Sekadar Soal Finansial
Di masa lalu pria identik dengan peran sebagai pencari nafkah utama, berburu dan mengumpulkan makanan demi bertahan hidup. Meski zaman sudah berubah, tekanan untuk “terus produktif” masih melekat kuat hingga sekarang.
Ketika seseorang kehilangan pekerjaan, efeknya tidak hanya soal kehilangan penghasilan. Banyak orang yang menganggur mengalami peningkatan stres, rasa tidak berdaya, hingga depresi. Bahkan, rasa tidak puas terhadap hidup cenderung meningkat seiring lamanya masa menganggur.
Namun, dampaknya ternyata tidak berhenti di situ!
Baca juga: Nggak Cuma Bikin Capek Hati, Orang Toxic Ternyata Bisa Mempercepat Penuaan Dini
Dari Stres ke DNA: Ini yang Terjadi di Dalam Tubuh
Penelitian dari Imperial College London menemukan bahwa pengangguran jangka panjang bisa memengaruhi telomer, yaitu bagian di ujung kromosom yang melindungi DNA.
Telomer sering disebut sebagai “jam biologis”. Seiring usia, telomer memang akan memendek. Namun, jika proses ini terjadi lebih cepat, risiko penyakit terkait penuaan hingga kematian dini juga meningkat.
Menurut peneliti Jessica Buxton, berbagai tekanan hidup sudah lama diketahui bisa mempercepat pemendekan telomer dan kini, pengangguran jangka panjang termasuk salah satunya.
Data Bicara: Risiko Bisa Dua Kali Lipat
Studi ini melibatkan lebih dari 5.600 partisipan yang diteliti oleh tim dari University of Oulu di Finlandia. Data DNA mereka dikumpulkan saat para peserta berusia 31 tahun.
Hasilnya cukup mencolok. Pria yang menganggur lebih dari dua tahun dalam periode tiga tahun terakhir memiliki kemungkinan dua kali lebih besar mengalami pemendekan telomer dibandingkan pria yang bekerja secara stabil.
Artinya, bukan hanya usia kronologis yang bertambah tapi tubuh mereka secara biologis juga “menjadi lebih tua” lebih cepat.
Kenapa Lebih Terlihat pada Pria?
Menariknya, efek ini tidak terlihat signifikan pada perempuan. Namun, bukan berarti perempuan lebih kebal. Bisa jadi karena jumlah perempuan yang menganggur lama dalam studi ini lebih sedikit sehingga datanya belum cukup kuat. Penelitian lanjutan masih dibutuhkan untuk memastikan hal tersebut.
Peneliti Leena Ala-Mursula pun mengingatkan bahwa temuan ini jadi alarm serius, terutama bagi mereka yang menganggur di usia produktif.
Baca juga: Studi Ungkap HIV Bisa Percepat Penuaan dalam Hitungan Tahun
Lebih dari Sekadar Pekerjaan
Selama ini, pekerjaan sering dilihat hanya sebagai sumber penghasilan. Padahal, bekerja juga memberikan struktur hidup, rasa tujuan, hingga koneksi sosial, semua hal yang berperan besar dalam menjaga kesehatan mental dan fisik.
Ketika itu hilang, tubuh tidak hanya merespons secara emosional, tapi juga secara biologis.
Temuan ini memperkuat pentingnya upaya menjaga produktivitas, baik melalui pekerjaan tetap, freelance, maupun aktivitas lain yang memberi makna dan rutinitas.
Jadi, Harus Gimana?
Menganggur memang tidak selalu bisa dihindari, apalagi di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu. Tapi, yang perlu diwaspadai adalah dampak jangka panjangnya.
Menjaga pola hidup sehat, tetap aktif, membangun rutinitas, dan mencari aktivitas yang produktif bisa menjadi langkah penting untuk meminimalkan efek negatif tersebut.
Menganggur bukan cuma soal tidak punya pekerjaan tapi juga bisa diam-diam memengaruhi seberapa cepat tubuh kita menua.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Helathline