INDOZONE.ID - Pernah merasa hari jadi berantakan cuma gara-gara chat dibalas “Oke”? Atau tiba-tiba kepikiran semalaman hanya karena teman terlihat cuek?
Hal-hal kecil seperti ini sering dianggap sepele, padahal bisa jadi tanda seseorang terlalu mudah overreacting alias bereaksi berlebihan.
Tanpa disadari, bereaksi berlebihan terhadap masalah kecil bisa menguras energi mental. Pikiran jadi gampang lelah, suasana hati naik turun, bahkan hubungan dengan orang sekitar ikut terkena dampaknya.
Yang lebih mengejutkan, banyak orang sebenarnya tahu dirinya gampang emosi, tapi bingung bagaimana cara mengendalikannya.
Baca juga: Hati-hati, Stres Berkepanjangan Bisa Merembet Jadi Masalah Pencernaan!
Di era sekarang, tekanan hidup, overthinking, dan ekspektasi tinggi membuat banyak orang lebih sensitif dari biasanya. Akibatnya, masalah kecil pun bisa terasa seperti bencana besar di kepala.
Lalu, kenapa seseorang bisa gampang overreacting? Dan bagaimana cara mengatasinya supaya hidup nggak terasa penuh drama setiap hari?
Overreacting Sering Berawal dari Luka Emosi yang Tidak Disadari
Banyak orang mengira overreacting terjadi karena seseorang terlalu lebay atau sensitif. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.
Reaksi berlebihan sering muncul dari emosi yang sudah menumpuk lama. Misalnya pernah merasa sering diabaikan, terlalu sering dikritik, mengalami penolakan, atau tumbuh di lingkungan yang membuat seseorang selalu merasa harus waspada.
Baca juga: Kamu Sering Sakit Kepala? Mungkin Stres yang Jadi Penyebabnya!
Akibatnya, otak jadi lebih mudah menganggap hal kecil sebagai ancaman emosional.
Contohnya, ketika pasangan membalas chat lebih singkat dari biasanya, orang lain mungkin menganggap itu biasa saja.
Tapi bagi seseorang yang punya rasa takut ditinggalkan, hal kecil itu bisa langsung memicu kecemasan berlebihan.
Inilah alasan kenapa setiap orang punya trigger yang berbeda-beda.
Baca juga: Sering Masuk Angin? Hati-Hati, Bisa Jadi Itu Tanda Kamu Lagi Stres Berat
Kenali Pemicu yang Sering Membuat Emosi Meledak
Kalau ingin berhenti bersikap berlebihan, langkah pertama yang penting dilakukan adalah mengenali apa yang sebenarnya memicu emosi kamu.
Coba ingat beberapa kejadian dalam seminggu terakhir yang membuat mood langsung berubah. Apakah kamu marah karena merasa tidak dihargai? Kesal karena tidak diperhatikan? Atau sedih karena merasa ditolak?
Kadang masalah utamanya bukan situasinya, tetapi makna yang kita berikan pada situasi tersebut. Misalnya:
Dapat kritik kecil? Merasa diri gagal total
Baca juga: Sering Masuk Angin? Hati-Hati, Bisa Jadi Itu Tanda Kamu Lagi Stres Berat
Teman lupa membalas pesan? Langsung merasa diabaikan
Pasangan terlihat cuek? Langsung berpikir hubungan sedang bermasalah
Semakin kamu memahami pola emosimu sendiri, semakin mudah juga untuk mengontrol reaksi sebelum semuanya meledak.
Overthinking Bisa Membuat Masalah Kecil Terlihat Besar
Salah satu “bahan bakar” terbesar dari overreacting adalah overthinking.
Baca juga: Bukan Salah Shampo! Rambut Rontok Parah Bisa Jadi Tanda Kamu Lagi Stres
Ketika sesuatu terjadi, pikiran langsung bekerja terlalu jauh. Hal yang sebenarnya belum tentu benar malah berkembang menjadi berbagai asumsi negatif.
Baru dibaca tanpa dibalas beberapa menit saja sudah merasa dibenci. Baru mendengar nada bicara sedikit berbeda langsung berpikir orang lain sedang marah. Padahal kenyataannya sering kali tidak seburuk itu.
Masalahnya, saat overthinking muncul, emosi ikut mengambil alih logika. Akibatnya kita jadi bereaksi berdasarkan asumsi, bukan fakta. Semakin sering hal ini terjadi, semakin capek juga mental kita sendiri.
Terlalu Fokus pada Diri Sendiri Bisa Memicu Emosi Berlebihan
Saat emosi sedang tinggi, manusia cenderung melihat semuanya dari sudut pandangnya sendiri. Kita merasa tersinggung, kecewa, atau marah tanpa mencoba memahami kondisi orang lain terlebih dahulu.
Baca juga: Muncul Jerawat dan Ruam di Kulit? Bisa Jadi Stres Penyebabnya!
Padahal belum tentu semua hal terjadi karena orang lain ingin menyakiti kita.
Bisa saja teman belum membalas karena sibuk, pasangan terlihat dingin karena sedang banyak pikiran, atau rekan kerja bicara singkat karena sedang stres.
Namun karena terlalu fokus pada perasaan sendiri, kita jadi cepat mengambil kesimpulan negatif.
Mencoba melihat situasi dari perspektif lain bisa membantu pikiran lebih tenang dan tidak mudah terpancing emosi.
Baca juga: Stres Berat Bisa Merusak Kesehatan Gigi! Ini Tanda-Tanda yang Sering Diabaikan
Ekspektasi Tinggi Sering Jadi Biang Kerok Kekecewaan
Banyak reaksi berlebihan muncul karena ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap orang lain maupun kehidupan.
Kita berharap semua berjalan sesuai keinginan. Ingin selalu dimengerti, selalu diprioritaskan, atau selalu diperlakukan dengan sempurna.
Sayangnya, dunia nyata tidak selalu berjalan seperti itu. Orang lain bisa melakukan kesalahan. Situasi bisa berubah di luar rencana. Bahkan orang terdekat pun kadang tidak selalu bisa memenuhi harapan kita.
Semakin tinggi ekspektasi yang dipasang, semakin besar juga kemungkinan merasa kecewa. Belajar menerima bahwa hidup memang penuh ketidaksempurnaan bisa membantu emosi jadi lebih stabil.
Baca juga: Efek Stres Ternyata Bisa Bikin Badan Pegal Terus!
Jangan Langsung Bereaksi Saat Emosi Sedang Tinggi
Kesalahan terbesar saat emosi memuncak adalah langsung bereaksi tanpa berpikir panjang, seperti mengirim chat panjang saat marah, berbicara di telpon dengan nada tinggi, atau langsung mengambil keputusan sering kali justru memperkeruh keadaan.
Karena itu, penting untuk memberi jeda sebelum merespons sesuatu. Saat emosi mulai naik, coba lakukan ini:
- Tarik napas perlahan
- Diam beberapa menit
- Hindari langsung membalas pesan
Baca juga: Kapan LASIK Bisa Dilakukan? Ini Syarat untuk Calon Pasien
- Alihkan perhatian sebentar
- Pikirkan apakah masalah ini benar-benar sebesar yang dirasakan
Kadang, setelah emosi mereda, kita baru sadar kalau reaksinya tadi sebenarnya berlebihan.
Orang yang Tenang Bukan Berarti Tidak Pernah Kesal
Banyak orang terlihat sabar bukan karena hidupnya tanpa masalah. Mereka tetap merasa kecewa, marah, dan sedih seperti orang lain.
Bedanya, mereka tidak langsung membiarkan emosi mengendalikan tindakan. Mereka tahu kapan harus bicara, kapan harus diam, dan kapan harus menenangkan diri terlebih dahulu.
Mengontrol emosi memang tidak instan. Butuh latihan dan kesadaran diri yang terus dibangun. Namun semakin sering dilatih, kamu akan lebih terbiasa menghadapi masalah dengan kepala dingin.
Baca juga: Otot Kaku setelah Aktivitas? Coba Lakukan Cara Ini
Dan percayalah, hidup terasa jauh lebih ringan ketika tidak semua hal kecil harus dibesar-besarkan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Psychologytoday.com