INDOZONE.ID - Pernah merasa hari kamu langsung berantakan cuma karena pesan dibalas singkat, teman mendadak berubah dingin, atau ada komentar kecil yang terus terngiang di kepala?
Awalnya mungkin terlihat sepele. Tapi entah kenapa, pikiran langsung bergerak kemana-mana. Mulai dari merasa nggak disukai, takut dibenci, sampai menganggap diri sendiri melakukan kesalahan besar.
Situasi seperti ini ternyata sangat umum terjadi. Banyak orang tanpa sadar terlalu cepat bereaksi terhadap hal-hal kecil karena lebih mengikuti emosi dibanding melihat kenyataan secara utuh.
Akibatnya, masalah sederhana bisa terasa jauh lebih berat dari yang sebenarnya.
Baca juga: Panduan Penulisan Huruf Kapital yang Benar Sesuai Aturan Bahasa Indonesia Lengkap
Bereaksi Berlebihan (Overreacting) Sering Berasal dari Pikiran yang Terlalu Aktif
Saat emosi sedang sensitif, otak cenderung membuat berbagai asumsi negatif secara otomatis. Masalahnya, asumsi itu sering langsung dipercaya begitu saja tanpa dipikir ulang.
Contohnya, ketika seseorang membalas chat hanya dengan satu kata, sebagian orang langsung merasa diabaikan.
Ada juga yang langsung berpikir hubungannya sedang bermasalah hanya karena pasangan terlihat lebih diam dari biasanya. Padahal kenyataannya belum tentu seperti itu.
Bisa saja orang tersebut sedang sibuk bekerja, kelelahan, fokus pada masalah pribadi, atau memang sedang tidak ingin banyak berbicara.
Baca juga: Pedagang Ini Punya Alasan Unik Mengapa Kambingnya Belum Terjual Saat Idul Adha
Namun karena pikiran sudah lebih dulu dipenuhi ketakutan dan overthinking, situasi biasa akhirnya terlihat seperti ancaman besar.
Di sinilah pentingnya: belajar berpikir lebih rasional sebelum bereaksi.
Jangan Langsung Percaya pada Emosi Sesaat
Emosi memang nyata, tetapi tidak semua emosi menggambarkan fakta yang sebenarnya terjadi.
Saat sedang marah, sedih, kecewa, atau cemas, seseorang biasanya lebih sulit melihat situasi secara objektif. Semua hal terasa personal dan menyerang diri sendiri.
Baca juga: Jelang Idul Adha, Sapi Kurban Bikin Tenda Pernikahan di Banyumas Porak-Poranda
Karena itu, sebelum mengambil kesimpulan, coba beri jeda beberapa menit untuk menenangkan pikiran. Tanyakan pada diri sendiri:
“Apakah aku benar-benar tahu apa yang sebenarnya terjadi?”
“Apakah ada kemungkinan lain selain pikiran negatifku?”
“Apakah ini masalah besar atau aku hanya sedang terlalu sensitif?”
Pertanyaan sederhana seperti ini bisa membantu menghentikan kebiasaan bereaksi berlebihan.
Baca juga: Panduan Lengkap dan Contoh Kalimat Saran dalam Bahasa Inggris (Giving Suggestions atau Advice)
Belajar Melihat Situasi Secara Objektif
Salah satu cara paling efektif untuk mengurangi overreacting adalah mencoba melihat situasi dari sudut pandang yang lebih netral.
Tidak semua hal harus dimasukkan ke hati. Tidak semua perubahan sikap orang lain berarti mereka membenci kita.
Dan tidak semua masalah harus langsung dianggap sebagai sesuatu yang buruk. Kadang yang membuat seseorang stres bukan kejadian itu sendiri, melainkan cerita yang dibuat oleh pikirannya sendiri.
Semakin sering kamu melatih diri untuk melihat fakta secara objektif, semakin mudah juga mengontrol emosi ketika menghadapi situasi yang memancing perasaan.
Baca juga: PNM Rayakan Idul Adha dengan Salurkan Hewan Kurban ke Warga dan Pelaku UMKM
Kebiasaan Mempersonalisasikan Semua Hal Bisa Bikin Mental Lelah
Banyak orang mudah overreacting karena terbiasa mengaitkan semua hal dengan dirinya sendiri. Teman terlihat cuek sedikit langsung merasa dibenci.
Atasan memberi kritik sedikit langsung merasa gagal total. Padahal belum tentu semuanya tentang diri kita.
Setiap orang punya masalah, tekanan, dan suasana hati masing-masing. Kadang sikap mereka berubah bukan karena kita, melainkan karena mereka sendiri sedang tidak baik-baik saja.
Kalau terus mempersonalisasikan semuanya, pikiran akan mudah lelah dan hubungan sosial juga bisa ikut terganggu.
Baca juga: 17 Caption Singkat tentang Idul Adha yang Estetik dan Penuh Makna buat Skenario Feed Media Sosialmu
Terlalu Sering Overreacting Bisa Menguras Energi Mental
Reaksi berlebihan mungkin terlihat biasa, tetapi jika terus terjadi bisa membuat seseorang cepat stres, mudah cemas, bahkan sulit menikmati hidup.
Energi habis hanya untuk memikirkan hal-hal yang sebenarnya belum tentu benar.
Selain itu, overreacting juga bisa memicu konflik yang sebenarnya tidak perlu. Salah paham jadi makin besar, hubungan dengan orang lain terasa melelahkan, dan suasana hati jadi mudah naik turun.
Oleh karena itu, mengontrol emosi bukan berarti memendam perasaan, melainkan belajar memahami situasi dengan lebih tenang sebelum bereaksi.
Baca juga: Bacaan Tahlil Lengkap dan Doa Tahlil Arwah: Teks Arab, Latin, Arti, serta Urutannya
Tenang Bukan Berarti Tidak Peduli
Menjadi lebih rasional bukan berarti kamu harus dingin atau tidak punya perasaan. Justru dengan berpikir lebih tenang, kamu bisa mengambil keputusan yang lebih baik dan tidak mudah dikuasai emosi sesaat.
Mulailah dengan memberi jeda sebelum merespons sesuatu yang memancing emosi. Tarik napas, tenangkan pikiran, lalu coba lihat situasinya secara lebih realistis.
Kadang, masalah yang terlihat besar di kepala ternyata tidak sebesar itu dalam kenyataan. Dan ketika kamu berhasil berhenti overthinking terhadap hal-hal kecil, hidup biasanya terasa jauh lebih ringan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Psychologytoday.com