INDOZONE.ID - Ada hari di mana semuanya terasa baik-baik saja, sampai satu hal kecil datang dan langsung bikin mood jatuh bebas.
Chat yang singkat, ekspresi orang yang “terlihat sedikit beda” terhadap kita, atau situasi sepele yang tiba-tiba terasa sangat menyebalkan.
Masalahnya, yang kelihatannya kecil itu sering bukan masalah utamanya. Yang sebenarnya terjadi adalah emosi kita sudah penuh duluan, jadi tinggal nunggu “pemantik” sedikit saja untuk meledak.
Kalau ini sering kejadian, bisa jadi kamu sedang masuk ke pola overreact tanpa sadar. Dan kabar baiknya, ini bisa dikendalikan — asal tahu caranya.
Baca juga: Ini Alasan Kamu Gampang Overreacting
Jangan Langsung Bereaksi, Coba Kenali Dulu Pemicunya
Saat emosi mulai naik, kebanyakan orang langsung meluapkan semuanya tanpa berpikir panjang.
Padahal, langkah paling penting justru berhenti sejenak dan memahami apa yang sebenarnya memicu perasaan tersebut.
Coba perhatikan tanda-tanda kecil dalam tubuh. Misalnya napas mulai terasa cepat, dada sesak, pikiran jadi negatif, atau nada bicara perlahan meninggi.
Kalau sudah mulai terpancing emosi, jangan buru-buru membalas ucapan orang lain atau mengambil keputusan saat emosi masih berantakan.
Baca juga: Panduan Penulisan Huruf Kapital yang Benar Sesuai Aturan Bahasa Indonesia Lengkap
Tarik Napas dan Paksa Diri Berpikir Lebih “Waras”
Terdengar klise, tapi menarik napas dalam-dalam memang bisa membantu tubuh dan pikiran lebih tenang.
Memberi jeda beberapa detik sebelum bereaksi sering kali menyelamatkan kita dari penyesalan panjang. Karena saat emosi sedang tinggi, otak cenderung membuat semuanya terasa lebih buruk dari kenyataan.
Daripada langsung berpikir, “Dia pasti sengaja nyakitin gue,” coba ubah sudut pandang menjadi lebih realistis agar kamu tetap “waras”.
Gunakan Kalimat “Aku Merasa…” Bukan Langsung Menyalahkan
Salah satu kesalahan paling sering terjadi saat emosi memuncak adalah menyerang orang lain dengan nada menyudutkan.
Baca juga: Pedagang Ini Punya Alasan Unik Mengapa Kambingnya Belum Terjual Saat Idul Adha
Padahal, menyampaikan perasaan dengan kalimat seperti “Aku merasa kecewa” atau “Aku merasa kurang nyaman” biasanya jauh lebih efektif dibanding langsung menyalahkan.
Cara komunikasi seperti ini bisa mengurangi konflik dan membuat lawan bicara lebih mau mendengarkan tanpa merasa diserang.
Kalau Emosi Belum Stabil, Menjauh Sebentar Itu Nggak Salah
Nggak semua masalah harus diselesaikan saat itu juga!
Kalau kepala masih penuh emosi, mengambil jarak sementara justru bisa jadi keputusan paling dewasa.
Baca juga: Panduan Lengkap dan Contoh Kalimat Saran dalam Bahasa Inggris (Giving Suggestions atau Advice)
Pergi sebentar, menenangkan diri, mendengarkan musik, olahraga, atau melakukan hal yang disukai bisa membantu mengalihkan emosi negatif.
Daripada memaksakan diri terus berdebat sampai akhirnya berkata kasar dan menyesal belakangan, lebih baik beri waktu untuk diri sendiri sampai suasana hati membaik.
Belajar Tenang Itu Skill yang Nggak Semua Orang Punya
Mengendalikan emosi bukan berarti memendam semuanya sendirian. Tapi belajar supaya nggak semua hal kecil langsung meledak jadi drama besar.
Semakin sering melatih diri untuk berpikir tenang sebelum bereaksi, semakin mudah juga menghadapi masalah tanpa overthinking berlebihan.
Baca juga: PNM Rayakan Idul Adha dengan Salurkan Hewan Kurban ke Warga dan Pelaku UMKM
Karena ketenangan adalah salah satu bentuk kedewasaan yang paling sulit dimiliki banyak orang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Psychologytoday.com