Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, M.K.K., F.R.S.P.H. (Indozone/Dewi)
INDOZONE.ID - Gen z sering banget ngeluh cemas, stres, hingga merasa gelisah karena kesehatan mentalnya terganggu alias anxiety. Padahal gak cuma dari kalangan gen z saja, karena pada umumnya semua umur merasakannya.
Pakar Kedokteran Komunitas yang banyak meneliti perilaku komunitas atau community behaviour, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, M.K.K., F.R.S.P.H., menjelaskan, anxiety itu adalah menjadi bagian dari kehidupan kita. Namun kondisi ini bisa dikontrol agar tak berdampak buruk.
“Anxiety tuh gak salah-salah banget. Kita boleh cemas dan harus cemas. Karena ada konsep yang namanya anxiety, life hygiene, dan healthy gut,” kata dr Ray dalam acara Talkshow Menjelang Mental Health Day oleh Lions Club Jakarta Pusat Centennial Terra bertajuk Anxiety: From Awareness to Sustainable Self-Healing di Jakarta.
Talkshow Menjelang Mental Health Day oleh Lions Club Jakarta Pusat Centennial Terra bertajuk Anxiety: From Awareness to Sustainable Self-Healing di Jakarta. (Indozone/Dewi)
dr Ray menyebut, Tuhan memberikan manusia kesempatan untuk mengolah atau me-manage anxiety dengan self-defense mechanism. Tapi ternyata banyak orang tidak mengetahuinya.
Bahkan menurut studi Health Collaborative Center, 2 dari 5 orang mengalami anxiety. Jika dibandingkan baby boomers, menurut dr Ray, gen z adalah orang yang paling rentan mengalami anxiety dalam kehidupan sehari-hari.
“Yang lebih rentan sekarang karena teknologi dan skriningnya lebih masif pada gen z. Jadi datanya itu menunjukkan memang gen z yang paling rentan dan paling banyak prevalensi anxiety atau kecemasan,” kata dia.
Bahkan pada usia remaja, berarti gen z yang sekarang itu bukan cuma 2 dari 5. Hampir di atas 60% gen z itu punya keluhan kecemasan paling tidak dalam 3 bulan terakhir.
Tapi ada banyak penelitian dan kajian bilang bahwa bisa karena memang skrining itu lebih masif sekarang, kemudian akses terhadap pemeriksaan itu lebih gampang didapat dari sosial media, dari Google, digital.
Di samping itu, gen z juga open alias sering bicara soal mental health dibanding zaman baby boomers sama generasi X dulu. Sehingga karena awareness-nya naik, otomatis tingkat deteksinya juga jadi lebih tinggi pada anak muda sekarang yang berdampak positif dan negatif.
“Bagusnya adalah karena mitigasi awal bisa dilakukan secepat mungkin, jadi bisa mencegah supaya nanti dia depresi.Kalau dia depresi tidak self harm. Jadi anxiety-nya dicegah.”
“Tapi tidak bagusnya adalah nanti malah ini bisa menjadi semacam social trend. Karena kita ingat anxiety itu menular,” sambungnya.
Baca juga: Dikejar Bikin Dia Menjauh, Dijauhi Bikin Kamu Cemas: Welcome to Anxious–Avoidant Trap!
dr Ray juga menegaskan bahwa kecemasan bisa “menular” dari orang lain loh. Terutama ketika kita sering terpapar ekspresi atau ceritacemas, baik secara langsung maupun melalui media sosial.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan