Ilustrasi alat periksa mata. (Dok. Optik Tunggal)
INDOZONE.ID - Mengetahui kapan harus ke dokter optometri atau spesialis mata, kerap kali dianggap sepele. Banyak orang baru memeriksakan mata ketika penglihatan sudah terasa terganggu.
Padahal, keluhan seperti mata cepat lelah, pandangan buram, mata merah, hingga rasa tidak nyaman, bisa menjadi sinyal awal bahwa kesehatan mata perlu diperiksa.
Sebagian orang juga masih beranggapan, selama tidak mengalami gangguan penglihatan, mereka tidak perlu datang ke dokter mata. Padahaln, anggapan tersebut tentu saja keliru.
Pemeriksaan mata komprehensif secara rutin, setidaknya setahun sekali, penting dilakukan. Hal ini bukan hanya menjaga kualitas penglihatan, tetapi juga untuk memastikan kesehatan mata secara keseluruhan, dan mencegah risiko masalah yang lebih serius.
Berikut, penjelasan dari para dokter optometri mengenai tanda-tanda dan kondisi yang perlu diwaspadai, dikutip dari American Optometric Association.
Baca juga: Waspadai Perubahan Penglihatan Usia 41–60 Tahun: Mata Mulai Kehilangan Fokus
Ada sejumlah gejala yang dapat mengindikasikan adanya gangguan penglihatan, antara lain:
Kebiasaan membaca atau bekerja dengan pencahayaan yang kurang memadai, dapat membuat mata bekerja lebih keras. Sehingga, hal itu memicu kelelahan mata.
Selain pencahayaan yang buruk, posisi duduk yang tidak nyaman, sudut pandang yang salah, serta jarak membaca atau bekerja yang tidak ideal, juga dapat menambah tekanan visual.
Ilustrasi gangguan penglihatan. (Freepik)
Aktivitas seperti mengemudi juga menuntut kerja mata yang intens. Mata harus terus bergerak, dan memfokuskan ulang pandangan saat objek mendekat.
Selain itu, mata juga harus menghadapi gangguan seperti lampu kendaraan dari arah berlawanan, atau silau matahari saat terbenam.
Kondisi ini dapat menyebabkan mata menjadi tegang dan cepat lelah.
Beberapa gangguan mata yang umum dialami masyarakat meliputi:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: American Optometric Association