Ilustrasi bayi menghisap jempol (freepik).
INDOZONE.ID - Melihat bayi atau balita menghisap jempolnya seringkali terlihat menggemaskan.
Tapi di balik itu, tahukah Anda bahwa kebiasaan ini bisa mempengaruhi pertumbuhan gigi dan mulut si kecil jika berlangsung terlalu lama?
Menghisap jempol, jari, dot, atau benda lain sebenarnya adalah refleks alami pada anak.
Aktivitas ini membuat mereka merasa aman, nyaman, dan bahagia.
Tak heran, banyak anak melakukannya untuk menenangkan diri, terutama saat lelah atau menjelang tidur.
Baca juga: MyINDAH Diet: Solusi Digital untuk Pola Makan Sehat dan Berkelanjutan Kolaborasi Indonesia-Australia
Masalah gigi akibat menghisap jempol sangat bergantung pada intensitasnya. Jika anak hanya meletakkan jempol secara pasif di mulut, risikonya lebih kecil.
Sebaliknya, mereka yang menghisap dengan kuat dan agresif berisiko mengalami masalah, bahkan pada gigi susu.
Setelah gigi permanen anak mulai tumbuh (biasanya sekitar usia 4-5 tahun), kebiasaan ini dapat menyebabkan masalah serius, seperti:
Baca juga: Jangan Salah Langkah, Ini Pertolongan Pertama Luka Bakar Sesuai Anjuran Medis
Namun, kebiasaan menggunakan dot biasanya lebih mudah dihentikan daripada menghisap jempol.
Umumnya, anak akan berhenti menghisap jempol secara alami antara usia 2 hingga 4 tahun, atau saat gigi depan permanen mereka siap tumbuh.
Jika Anda melihat perubahan pada gigi susu anak atau merasa khawatir, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter gigi.
Baca juga: Jangan Salah Langkah, Ini Pertolongan Pertama Luka Bakar Sesuai Anjuran Medis
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Mouthhealthy.org