Ilustrasi sakit perut. (Pexels/Sora Shimazaki)
INDOZONE.ID - Bagi sebagian orang, gangguan pencernaan kerap memburuk ketika mengalami stres berkepanjangan atau kecemasan. Hal ini menunjukkan betapa eratnya hubungan antara otak dan sistem pencernaan.
Dalam dunia medis, hubungan ini dikenal sebagai gut-brain axis, yaitu jalur komunikasi antara otak dan usus. Kondisi tersebut menghubungkan pengaturan emosi dengan pergerakan usus, aktivitas sistem imun, serta keseimbangan mikrobioma.
Dikutip dari Medical Daily, ketika stres berlangsung secara kronis, berbagai gejala pencernaan dapat muncul atau semakin parah, seperti sakit perut, perut kembung, diare, hingga sembelit.
Kondisi ini sering terlihat pada penderita irritable bowel syndrome (IBS). Gejalanya cenderung kambuh saat seseorang mengalami tekanan emosional, trauma, atau kecemasan berkepanjangan.
Memahami mekanisme biologis di balik hubungan antara stres dan kesehatan pencernaan, dapat membantu menjelaskan kenapa pengelolaan stres menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan sistem pencernaan.
Baca juga: 7 Minuman Herbal untuk Sakit Perut: Alami, Murah, dan Gampang Banget Dibikin!
Keterkaitan antara stres dan kesehatan pencernaan terjadi melalui gut-brain axis, sebuah sistem komunikasi dua arah yang melibatkan saraf vagus, sistem saraf enterik, serta sumbu hipotalamus–pituitari–adrenal (HPA).
Menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), stres tidak secara langsung menyebabkan IBS. Namun, stres dapat memperburuk gejala IBS, dan meningkatkan sensitivitas usus.
Ilustrasi stres (Pexels/Nathan Cowley)
Interaksi ini dapat memengaruhi beberapa fungsi penting pada saluran pencernaan, seperti:
Aktivasi kronis sumbu HPA, dapat meningkatkan produksi hormon stres seperti kortisol dan corticotropin-releasing hormone (CRH).
Kondisi ini dapat mengubah permeabilitas usus, atau yang sering disebut sebagai 'kebocoran usus', serta memicu aktivasi sel imun tertentu.
Perubahan tersebut juga memengaruhi sinyal serotonin, yaitu neurotransmiter yang sebagian besar, yakni sekitar 95 persen diproduksi di usus.
Serotonin berperan dalam mengatur pergerakan usus, suasana hati, nafsu makan, dan kualitas tidur.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Medical Daily