Potret lansia yang mengalami gejala penyakit glaukoma (paireyewear.com)
INDOZONE.ID - Setiap tahunnya, dunia memperingati Pekan Glaukoma Sedunia (World Glaucoma Week) untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penyakit mata yang sering berkembang tanpa disadari ini.
Glaukoma merupakan salah satu penyakit mata yang kerap berkembang tanpa disadari oleh penderitanya. Kerusakan pada mata dapat berlangsung perlahan dalam waktu lama hingga akhirnya mempengaruhi kemampuan melihat. Karena itulah penyakit ini kerap disebut sebagai “pencuri penglihatan.”
Secara global, jumlah penderita glaukoma juga terus meningkat. Pada tahun 2020 diperkirakan terdapat sekitar 76 juta orang di dunia yang hidup dengan glaukoma, dan angka tersebut diproyeksikan dapat mencapai lebih dari 100 juta pada tahun 2040. Penyakit ini juga menjadi salah satu penyebab kebutaan terbesar setelah katarak.
Glaukoma adalah kondisi ketika saraf optik mengalami kerusakan sehingga dapat menyebabkan penurunan penglihatan hingga kebutaan. Saraf optik berfungsi mengirimkan informasi visual dari mata ke otak sehingga perannya sangat penting dalam proses melihat.
Menurut Mayo Clinic, kerusakan saraf optik pada glaukoma seringkali berkaitan dengan meningkatnya tekanan di dalam bola mata. Namun, pada beberapa kasus, glaukoma juga dapat terjadi meskipun tekanan mata masih berada dalam kisaran normal.
Glaukoma dapat terjadi pada siapa saja, tetapi lebih sering ditemukan pada kelompok usia lanjut. Penyakit ini juga menjadi salah satu penyebab kebutaan yang paling umum pada orang berusia di atas 60 tahun.
Dokter Mata Subspesialis Glaukoma dr. Zeiras Eka Djamal dari Jakarta Eye Center menjelaskan bahwa glaukoma berkaitan dengan kerusakan saraf optik yang berfungsi membawa informasi visual dari mata menuju otak.
“Glaukoma adalah penyakit saraf mata yang menyebabkan gangguan penglihatan yang bersifat progresif, kronis, dan permanen, biasanya disertai tekanan bola mata yang tinggi,” ujarnya.
Kerusakan pada saraf optik menjadi hal yang sangat penting diperhatikan karena saraf mata termasuk jaringan yang sangat sulit pulih jika sudah mengalami kerusakan. Akibatnya, gangguan penglihatan yang sudah terjadi umumnya tidak dapat kembali seperti semula.
Di dalam mata terdapat cairan yang diproduksi secara terus-menerus. Cairan tersebut mengalir melalui bilik mata dan keluar melalui saluran drainase tertentu. Jika keseimbangan antara produksi dan pengeluaran cairan terganggu, cairan dapat menumpuk dan meningkatkan tekanan di dalam bola mata.
Tekanan yang meningkat inilah yang kemudian dapat menekan dan merusak saraf optik secara perlahan.
Menurut dr. Zeiras, tekanan bola mata normal biasanya berada pada kisaran 10 hingga 21 mmHg. Namun, peningkatan tekanan yang berlangsung lama dapat memicu kerusakan saraf mata.
Kerusakan ini sering terjadi secara perlahan sehingga banyak penderita tidak menyadarinya. Pada tahap awal, gangguan biasanya terjadi pada lapang pandang tepi sehingga penglihatan tengah masih terasa normal.
“Pasien sering tidak menyadari karena lapang pandang yang hilang biasanya di bagian tepi. Penglihatan tengah masih baik sehingga terasa seperti tidak ada masalah,” jelasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Mayo Clinic