Ilustrasi whey protein (Freepik)
INDOZONE.ID - Whey protein menjadi salah satu suplemen yang paling populer di kalangan orang yang rutin berolahraga. Namun, banyak orang masih mengonsumsinya tanpa memahami cara kerja dan aturan dasarnya.
Padahal, whey protein bukan suplemen yang bisa digunakan sembarangan. Setiap orang memiliki kebutuhan dan kondisi tubuh yang berbeda, sehingga manfaatnya pun bisa bervariasi.
Sebelum mulai mengonsumsinya, penting untuk memahami beberapa hal dasar agar hasilnya lebih optimal dan tetap aman bagi tubuh. Berikut diantaranya.
Baca juga: 7 Minuman Tinggi Protein Selain Protein Shake, Cocok Buat Bantu Jaga Otot
Ilustrasi protein shake. (freepik.com)
Whey protein hanya berfungsi sebagai pelengkap kebutuhan protein, bukan pengganti makanan sehari-hari. Nutrisi penting seperti vitamin, mineral, serat, dan zat bioaktif tetap lebih banyak diperoleh dari makanan utuh.
Karena itu, pola makan seimbang tetap menjadi fondasi utama dalam menjaga kesehatan dan kebugaran. Whey protein hanya membantu menutupi kekurangan asupan protein ketika makanan harian belum mencukupi.
Setiap individu memiliki kebutuhan protein yang berbeda-beda. Faktor seperti usia, berat badan, tingkat aktivitas fisik, hingga tujuan kebugaran sangat memengaruhi jumlah protein yang dibutuhkan.
Misalnya, orang yang rutin melakukan latihan beban umumnya membutuhkan protein lebih tinggi dibandingkan orang yang tidak aktif berolahraga. Mengetahui kebutuhan tubuh sendiri sangat penting agar konsumsi whey protein lebih tepat sasaran dan tidak berlebihan.
Baca juga: Protein Tidak Boleh Asal Dikonsumsi, Ini 3 Waktu yang Paling Tepat dalam Sehari
Whey protein tidak hanya satu jenis, tetapi terbagi menjadi beberapa varian seperti whey concentrate, whey isolate, dan whey hydrolysate. Masing-masing memiliki perbedaan dalam kadar protein, kandungan laktosa, lemak, serta tingkat pemrosesan.
Sebagai contoh, whey isolate memiliki kandungan protein lebih tinggi dan laktosa lebih rendah dibandingkan whey concentrate. Memahami perbedaan ini membantu dalam memilih produk yang paling sesuai dengan kebutuhan tubuh, bukan hanya berdasarkan harga atau merek.
Karena berasal dari susu, whey protein bisa saja tidak cocok untuk sebagian orang, terutama yang memiliki sensitivitas terhadap laktosa. Reaksi yang muncul bisa berupa gangguan pencernaan atau rasa tidak nyaman di perut.
Jika mengalami gejala seperti ini, sebaiknya hentikan sementara konsumsi dan pertimbangkan jenis whey dengan kadar laktosa lebih rendah atau sumber protein alternatif lain yang lebih sesuai dengan kondisi tubuh.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Fortishealthcare.com