Rabu, 03 SEPTEMBER 2025 • 15:10 WIB

Jungkook BTS Ngaku Idap ADHD, Berikut Penyebab hingga Gejalanya

Author

Jungkook BTS ngaku idap ADHD. (Weverse, Freepik)

INDOZONE.ID - Jungkook BTS mencuri perhatian publik dengan pengakuan mengejutkan saat melakukan live di akun Weverse pribadinya. 

Dalam live tersebut, Jungkook mengaku menderita ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) yang merupakan gangguan mental yang membuat penderitanya sulit berkonsentrasi.

Awalnya, ada seorang penggemar yang menuliskan komentar bahwa Jungkook tidak henti-hentinya bergerak.

"Aku terus bergerak? Tapi, aku benar-benar tidak bisa menahannya. Aku penderita ADHD dewasa. Aku mengalaminya, itulah kenapa aku terus bergerak seperti ini," ungkap Jungkook dalam live-nya, seperti dikutip Soompi, Rabu (3/9/2025).

Lantas, apa sebenarnya ADHD? Yuk simak penjelasannya berikut.

Baca juga: 7 Makanan yang Wajib Dihindari Anak ADHD: Mengelola Hiperaktivitas dengan Pola Makan Sehat

Apa Itu ADHD?

Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah suatu gangguan perkembangan saraf yang paling sering terjadi dan cukup banyak diteliti. 

Kondisi ini terjadi sejak masih anak-anak dan akan menetap seumur hidup penderitanya. 

ADHD akan menyebabkan penderitanya mengalami kesulitan dalam mengontrol emosi, berpikir, maupun bertindak. 

Sebab sering dinormalkan sebagai kenakalan anak-anak, pasien ADHD tidak terdiagnosis dan ditangani dengan tepat sedini mungkin. 

Padahal, ada beberapa penanganan yang bisa meringankan gejala penyakit ADHD, sehingga tidak menjadi komplikasi pada kehidupan penderitanya. 

Gejala ADHD

Gejala ADHD umumnya muncul saat anak berusia 3 tahun, atau sebelum anak berusia 12 tahun, yang akan makin parah saat penderitanya memasuki masa pubertas. 

ADHD pada anak umumnya didominasi dengan gejala hiperaktif. Sedangkan pada orang dewasa, penyakit ADHD akan lebih didominasi dengan gejala kesulitan memusatkan perhatian. 

Berikut beberapa gejala ADHD secara umum:

  • Impulsif
  • Sulit menentukan prioritas
  • Tidak terorganisir, dan sering kehilangan barang
  • Kurang bisa mengelola waktu dengan efektif
  • Kesulitan memusatkan perhatian atau berkonsentrasi
  • Tidak bisa mengerjakan beberapa tugas sekaligus (multitasking)
  • Tidak bisa diam atau memiliki kegiatan yang sangat banyak
  • Tidak bisa merencanakan suatu hal dengan baik
  • Mood swing atau mengalami perubahan suasana hati yang sangat drastis dengan cepat
  • Kurang bisa menoleransi kondisi yang tidak nyaman
  • Mudah marah
  • Kesulitan mengikuti arahan dan menyelesaikan tugas
  • Tidak sabaran, termasuk tidak bisa menunggu giliran
  • Tidak bisa mengelola stres dengan baik

Penderita ADHD umumnya mengalami kesulitan dalam berkonsentrasi dan menentukan prioritas, sehingga sekolah maupun pekerjaannya akan mengalami masalah.

Orang dengan penyakit ADHD juga akan menemukan masalah dalam membangun relasi, baik dengan teman maupun pasangan, karena sifat mereka yang mudah emosi atau sumbu pendek.

Penyebab ADHD

Sebagai salah satu kondisi yang terjadi akibat gangguan perkembangan saraf, penyebab ADHD adalah adanya kelainan struktur dan aktivitas otak bagian depan (lobus frontal). 

Penyebab pastinya belum diketahui, tetapi diduga terjadi karena kombinasi beberapa faktor (multifaktorial), meliputi:

1. Faktor Genetik

Faktor genetik, atau keturunan, termasuk memiliki ibu, ayah, atau saudara kandung yang menderita ADHD atau gangguan mental lain.

2. Gangguan Tumbuh Kembang

Gangguan tumbuh kembang termasuk kerusakan pada otak yang terjadi sewaktu bayi masih dalam kandungan.

3. Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan, terutama paparan timbal, maupun zat beracun lain, dari lingkungan sewaktu masa kanak-kanak.

Baca juga: Bukan Nakal, tapi Berbeda! Ini Cara Penanganan yang Tepat untuk Anak ADHD

Faktor Risiko ADHD

Meski belum diketahui pasti penyebabnya, ada beberapa kondisi yang bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami ADHD. Berikut ini adalah beberapa faktor risiko ADHD yang dimaksud:

  • Ibu mengonsumsi alkohol maupun menyalahgunakan narkoba atau memiliki kebiasaan merokok selama hamil. 
  • Bayi lahir secara prematur, atau sebelum usia kehamilan 37 minggu.
  • Keluarga, termasuk saudara kandung, yang juga mengalami ADHD maupun kondisi kesehatan mental lainnya.

Yang jelas, penyakit ADHD pada anak tidak disebabkan oleh alergi, imunisasi, konsumsi gula berlebih, terlalu lama bermain atau menggunakan gadget, pola asuh yang salah, dan status ekonomi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Soompi, RS Pondok Indah

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU