Selasa, 09 SEPTEMBER 2025 • 15:45 WIB

Bongkar Stigma Bipolar: Cara Mengelola Hidup dan Lawan Stereotipe Negatif

Author

Ilustrasi Gangguan Bipolar (sumber: Freepik)

INDOZONE.ID - Gangguan bipolar adalah kondisi kesehatan mental yang membuat suasana hati, energi, hingga aktivitas sehari-hari berubah secara ekstrem dan tidak biasa. Biasanya, gangguan ini mulai terdeteksi saat seseorang memasuki akhir masa remaja atau awal dewasa muda.

Walau penanganan profesional dengan diagnosis tepat dan pengobatan teratur sangat penting agar bisa hidup baik bersama bipolar, tantangan terbesarnya sering kali justru datang dari stigma yang masih melekat di masyarakat.

Apa itu stigma?

Sebuah studi kualitatif menemukan bahwa orang dengan gangguan bipolar sering berhadapan dengan stigma publik. Stigma ada tiga macam, yaitu:

  • Stereotipe: anggapan negatif bahwa penderita gangguan mental berbahaya, lemah, atau tidak kompeten.
  • Prasangka: ketika stereotipe itu diterima lalu memicu reaksi emosional terhadap kelompok yang distigmatisasi.
  • Diskriminasi: berupa perlakuan tidak adil atau penghindaran hanya karena label gangguan mental.

Penelitian lain tahun 2021 juga menyoroti stigma diri (self-stigma), yaitu saat seseorang mulai percaya pada pandangan negatif tentang dirinya sendiri. Akibatnya, mereka merasa sulit mengekspresikan identitas pribadi seperti sebelum menerima label “gangguan mental”.

Literatur menunjukkan bahwa semakin kuat stigma diri, semakin buruk pula kondisi klinis dan kemampuan fungsional penderita. Lebih parah lagi, stigma ini membuat banyak orang ragu mencari bantuan atau tidak konsisten menjalani perawatan. Dampaknya sama seriusnya dengan stigma publik, karena keduanya bisa memperburuk keadaan.

Baca juga: 6 Tanda Depresi itu Bukan Malas, tapi Gangguan Mental Serius!

Dampak stigma pada gangguan mental

Menurut Mood Disorder Survey 2021 dari The Harris Poll dan NAMI, 84% responden merasa stigma menjadi hambatan utama untuk mencari pengobatan. Bahkan, 61% mengaku diperlakukan berbeda setelah orang lain tahu mereka punya gangguan suasana hati.

Stigma ini bukan cuma berdampak pada penderita, tapi juga keluarga. Banyak keluarga ikut merasakan penolakan sosial dan isolasi, sehingga beban emosional jadi makin berat.

Penelitian menunjukkan stigma bisa memperburuk kondisi mental: memicu pikiran bunuh diri, menurunkan harga diri, menambah gejala depresi, hingga membuat kualitas hidup menurun drastis.

Beberapa gejala umum bipolar antara lain:

  • Mudah tersulut emosi (iritabilitas)
  • Depresi berkepanjangan
  • Sulit berkonsentrasi
  • Kehilangan minat pada aktivitas atau hal-hal yang sebelumnya menyenangkan atau disukai

Gejala-gejala ini membuat penderita kesulitan menjaga hubungan, baik secara sosial maupun profesional. Kalau stigma membuat mereka enggan mencari pertolongan, hubungan dengan orang lain bisa makin renggang.

Selain itu, episode mania kadang mendorong perilaku ekstrem, seperti konsumsi alkohol atau narkoba, aktivitas seksual berlebihan, sampai self-medicating tanpa pengawasan medis. Sayangnya, hal ini justru bisa memperparah kondisi.

Hidup dengan bipolar: pentingnya kesadaran dan pengurangan stigma

Ilustrasi Bipolar (sumber: Freepik)

Orang dengan bipolar bisa saja menjalani masa bebas gejala dalam jangka panjang. Namun, karena kondisi ini bersifat seumur hidup, episode mania atau depresi tetap bisa kambuh. Itu sebabnya, pengobatan berkelanjutan adalah cara terbaik untuk mengelola bipolar.

Semakin banyak orang memahami realitas hidup dengan bipolar, semakin kecil kemungkinan mereka percaya pada stereotipe yang keliru. Jika stereotipe bisa dipatahkan, stigma pun akan berkurang. Menariknya, sebuah studi tahun 2015 di Inggris yang melibatkan 753 responden menemukan bahwa sebagian besar peserta justru punya sikap positif terhadap bipolar dan tingkat penolakan sosial yang rendah.

Menyebarkan pengetahuan dari penelitian semacam ini sangat penting. Selain membantu penderita mengurangi stigma internal maupun rasa takut pada stigma publik, hal ini juga mendorong mereka lebih terbuka dengan diagnosisnya. Dengan begitu, peluang untuk rutin menjalani perawatan medis dan mengikuti anjuran dokter jadi lebih besar.

Beberapa strategi untuk mengurangi stigma antara lain:

  • Bicara terbuka soal tantangan kesehatan mental.
  • Gunakan bahasa yang tepat, misalnya “orang dengan bipolar” alih-alih “orang bipolar”, serta hindari istilah yang merendahkan seperti “gila”.
  • Jangan membuat asumsi tentang kondisi yang belum dipahami, dan berikan dukungan pada proses pemulihan orang lain.

Media juga punya peran besar. Representasi yang akurat bisa meningkatkan kesadaran sekaligus mengurangi stigma, sementara gambaran yang salah justru memperkuat stereotipe.

Baca juga: Benarkah Gangguan Bipolar Karena Genetik? Ini Penjelasannya

Hidup dengan bipolar memang tidak mudah, apalagi bila tanpa dukungan profesional. Stigma publik maupun stigma internal sering kali menjadi penghalang, membuat banyak penderita enggan mencari bantuan atau tidak konsisten menjalani pengobatan.

Cara paling efektif untuk melawan stigma adalah melalui edukasi, menggunakan bahasa yang lebih menghargai, tidak melabeli orang dengan istilah merendahkan, serta memberikan dukungan agar mereka merasa aman untuk mencari pertolongan. Dengan membongkar stereotipe keliru dan membuka ruang diskusi sehat, stigma bisa dipatahkan. Di sisi lain, penderita juga bisa mulai menyembuhkan stigma internal dengan mencari dukungan dan berani bicara terbuka soal kesehatan mental. Langkah ini bukan hanya membantu pemulihan pribadi, tapi juga perlahan mengubah cara pandang masyarakat terhadap bipolar.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Healthline

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU