Minggu, 12 OKTOBER 2025 • 13:15 WIB

Bukan Cuma Berat Badan! Lemak di Perut Rupanya Bisa Picu Kanker

Author

Ilustrasi lemak di perut. (Ilustrasi/gi.md.com)

INDOZONE.ID - Selama bertahun-tahun, indeks massa tubuh (BMI) digunakan sebagai dasar dalam menentukan apakah seseorang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas.

Sementara itu,  para dokter sering menggunakan BMI untuk memperkirakan risiko kanker seseorang. Sebab, pada beberapa jenis kanker diketahui berkaitan dengan berat badan berlebih.

Namun, sebuah penelitian terbaru menunjukkan, BMI dianggap terlalu dini untuk menilai risiko kanker. 

Studi tersebut menemukan, tempat tertimbunnya lemak dalam tubuh, dinilai sama pentingnya dengan jumlah lemak itu sendiri. Terlebih dalam untuk menentukan risiko seseorang terhadap berbagai jenis kanker.

Penelitian: Lemak Perut Tingkatkan Risiko Kanker

Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of the National Cancer Institute ini, meneliti hubungan antara lemak di lima area tubuh—perut, sekitar organ dalam (viseral), bokong dan paha, hati, serta pankreas—terhadap risiko 12 jenis kanker yang berkaitan dengan obesitas.

Hasilnya, lemak di perut berkaitan dengan peningkatan risiko tiga jenis kanker yakni, kanker endometrium, kanker esofagus, dan kanker hati. 

Baca juga: Kenapa Perut Tiba-tiba Terasa Keras? Ini 7 Penyebabnya

Sebaliknya, lemak di area bokong dan paha justru dikaitkan dengan penurunan risiko kanker payudara dan meningioma (tumor otak jinak).

Menurut Ahli Onkologi dan Hematologi dari The Mesothelioma Center at Asbestos, Dr. Daniel Landau, temuan ini memperkuat bukti bahwa, bukan hanya obesitas yang berperan, melainkan juga lokasi penumpukan lemak.

Obesitas di bagian tengah tubuh atau lemak perut menjadi faktor risiko independen untuk diabetes, penyakit jantung, dan kanker. Lemak di area ini sering dikaitkan dengan pola makan buruk serta tingkat peradangan tinggi yang bisa memicu kanker,” ujarnya dikutip dari Medical News Today.

Metode Kompleks dengan Analisis Genetik

Ilustrasi lemak perut (Pixabay/Bruno/Germany)

Untuk meneliti hubungan sebab-akibat antara distribusi lemak dan risiko kanker, para peneliti menggunakan pendekatan Mendelian Randomization, yaitu teknik yang memanfaatkan data genetik untuk menilai hubungan kausal. 

Data penelitian diambil dari UK Biobank dan FinnGen, dua basis data kesehatan besar di Eropa.

Ahli Bedah Onkologi dari Providence Saint John’s Cancer Institute, Dr. Anton Bilchik, mengatakan, metode ini sangat kompleks.

Para peneliti menggunakan alat genetik untuk menilai distribusi lemak, dan kaitannya dengan berbagai jenis kanker yang berhubungan dengan obesitas,” jelasnya.

Lemak Tubuh dan Jenis Kanker yang Terpengaruh

Dari hasil penelitian, para ahli menemukan, lemak perut punya dampak paling besar terhadap risiko kanker. Lalu, diikuti lemak hati dan lemak viseral yang juga meningkatkan risiko kanker hati. 

Sementara itu, lemak di paha dan bokong justru tampak memberikan efek perlindungan terhadap kanker payudara dan meningioma. Bilchik pun mengaku, temuan tersebut mengejutkan.

Penurunan risiko kanker payudara akibat lemak di area paha dan bokong adalah temuan menarik. Ada kemungkinan sel-sel lemak tersebut menghasilkan hormon seperti estrogen yang justru memiliki efek protektif,” katanya.

Baca juga: 8 Cara Efektif Mengurangi Lemak di Wajah Secara Alami, Ampuh!

Mengapa Lemak Berlebih Bisa Sebabkan Kanker?

Menurut National Cancer Institute, ada beberapa mekanisme yang menjelaskan bagaimana kelebihan lemak dapat meningkatkan risiko kanker, di antaranya:

  • Jaringan lemak menghasilkan estrogen. Kadar estrogen tinggi, berkaitan dengan beberapa jenis kanker.
  • Penderita obesitas cenderung punya kadar insulin tinggi, yang juga terkait dengan peningkatan risiko kanker.
  • Peradangan kronis yang umum terjadi pada obesitas, dapat memicu pertumbuhan tumor.
  • Sel-sel lemak menghasilkan adipokin, hormon yang dapat merangsang pertumbuhan sel berlebih.

Penurunan berat badan terbukti mampu menurunkan risiko kanker. Sebuah penelitian terhadap hampir 60.000 wanita pascamenopause menunjukkan, mereka yang kehilangan minimal 5 persen berat badan, punya risiko lebih rendah terhadap kanker terkait obesitas.

Implikasi untuk Pencegahan Kanker

Ilustrasi penderita kanker (Freepik/prostooleh)

Para peneliti menyimpulkan, hubungan antara distribusi lemak dan risiko kanker sangat kompleks.

Perubahan distribusi lemak tubuh tampaknya berperan penting dalam pencegahan dan penanganan obesitas untuk menurunkan risiko kanker,” tulis tim peneliti.

Dr. Bilchik menambahkan, studi ini penting karena untuk pertama kalinya menunjukkan, lokasi lemak tubuh bisa menentukan jenis kanker yang mungkin berkembang.

Selama ini kita tahu obesitas adalah faktor risiko kanker, tapi lokasi lemak di tubuh ternyata jauh lebih relevan,” ujarnya.

Ia menekankan, memahami bentuk tubuh dan distribusi lemak, dapat membantu dokter dalam memberikan pendekatan pencegahan kanker yang lebih spesifik.

Penelitian ini pun menegaskan, lemak di tubuh bukan sekadar soal berat badan, tetapi juga soal di mana lemak itu berada. Lemak perut terbukti lebih berbahaya dibanding lemak di paha atau bokong. 

Oleh karena itu, menjaga pola makan sehat, rutin berolahraga, dan mengontrol distribusi lemak tubuh, menjadi langkah penting untuk mencegah kanker sejak dini.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Medical News Today

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU