INDOZONE.ID - Kamu sebagai orang tua pasti pernah galau saat bayi yang baru mulai makan MPASI tiba-tiba susah BAB atau sembelit. Sembelit pada bayi adalah kondisi saat si kecil jarang buang air besar, atau tinjanya keras dan sulit keluar, sehingga membuat bayi rewel atau bahkan menangis saat mencoba BAB. Sebenarnya, ini bukan cuma soal frekuensi, tetapi juga soal konsistensi tinja yang terlalu keras dan tubuh yang kesulitan mendorongnya keluar.
Ada banyak faktor yang bisa membuat bayi sembelit, mulai dari perubahan pola makan, kurang cairan, sampai jenis makanan yang diperkenalkan saat MPASI. Nah, artikel ini akan mengupas tuntas daftar makanan yang bisa menyebabkan bayi sembelit dan alasan mengapa makanan-makanan tersebut dapat membuat pencernaan bayi menjadi kurang lancar.
Kenapa Bayi Bisa Sembelit Saat MPASI?
Sebelum membahas makanan apa saja, kita perlu memahami dulu kenapa bayi bisa sembelit setelah mulai makan MPASI. Sistem pencernaan bayi masih dalam tahap belajar. Saat bayi baru mengenal makanan padat setelah sebelumnya hanya mengonsumsi ASI atau susu formula, ususnya membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri.
Peralihan dari makanan cair ke padat membuat tekstur tinja menjadi lebih keras. Jika usus belum terbiasa, gerakan pencernaan bisa menjadi lebih lambat dan akhirnya membuat bayi susah BAB.
Baca juga: Toodler Rentan Alami Sembelit, Kenali Penyebabnya yang Jarang Dipahami
Selain itu, ada juga makanan tertentu yang rendah serat atau agak sulit dicerna oleh bayi sehingga dapat memperparah sembelit. Ditambah lagi jika asupan cairannya kurang, misalnya kurang minum setelah mulai MPASI, tinja bisa semakin keras dan sulit dikeluarkan.
1. Bubur Sereal Beras atau Rice Cereal
Salah satu makanan yang paling sering masuk daftar penyebab sembelit pada bayi adalah bubur sereal beras atau rice cereal. Banyak orang tua memberikan rice cereal sebagai makanan MPASI pertama karena rasanya netral dan mudah dikunyah. Sayangnya, rice cereal rendah serat sehingga tinja bisa menjadi lebih keras dan sulit dikeluarkan.
Karena rendah serat, rice cereal dapat memperlambat kerja usus bayi yang masih belajar mencerna makanan padat. Itulah sebabnya beberapa ahli menyarankan untuk mengganti atau mencampur rice cereal dengan sereal lain yang lebih tinggi serat, seperti oat atau barley, jika bayi mengalami sembelit.
2. Pisang, Terutama yang Belum Matang
Pisang memang kaya nutrisi dan sering menjadi pilihan buah MPASI. Namun, pisang—terutama yang belum matang—justru bisa menyebabkan sembelit. Pisang mentah mengandung lebih banyak pati yang sulit dicerna, sehingga tekstur tinja bisa menjadi lebih keras dan membuat bayi susah BAB.
Banyak orang tua baru menyadari setelah si kecil mulai mengonsumsi pisang yang dihaluskan, frekuensi BAB menurun dan tinjanya lebih padat dari biasanya. Dalam jumlah kecil mungkin masih aman, tetapi jika sering dan berlebihan, pisang bisa menjadi salah satu penyebab sembelit.
3. Apel atau Puree Applesauce
Apel memang dikenal sehat, tetapi tidak semua olahan apel baik untuk pencernaan bayi. Justru yang sering menyebabkan sembelit adalah applesauce atau apel yang dihaluskan tanpa kulit. Kulit apel merupakan sumber serat, sedangkan applesauce biasanya sudah dibuang kulitnya sehingga kandungan seratnya jauh lebih sedikit. Akibatnya, pencernaan bisa menjadi lebih lambat.
Prinsip ini sebenarnya berlaku untuk banyak buah. Semakin tinggi seratnya, semakin lancar pencernaan. Karena itu, apel utuh yang dikukus lalu dihaluskan bersama kulitnya jauh lebih baik untuk membantu BAB dibandingkan apel tanpa kulit atau applesauce siap pakai.
4. Produk Susu Berlebih seperti Keju atau Yoghurt
Produk susu seperti keju atau yoghurt juga bisa berkontribusi pada sembelit pada beberapa bayi. Susu sapi dan produk olahannya cenderung rendah serat dan lebih berat dicerna, terutama jika dikonsumsi dalam jumlah besar.
Selain itu, susu sapi sebaiknya tidak diperkenalkan sebelum bayi berusia satu tahun karena sistem pencernaan mereka belum siap menangani protein kompleks dari susu sapi. Susu formula berbasis susu sapi juga dapat membuat tinja bayi lebih padat dibandingkan bayi yang hanya mendapat ASI, meski bukan berarti formula selalu menyebabkan sembelit.
5. Roti Putih atau Produk Tepung Olahan
Saat bayi mulai makan padat, beberapa orang tua juga memperkenalkan roti putih atau makanan berbasis tepung olahan seperti pasta putih. Sayangnya, makanan ini kaya karbohidrat halus tetapi rendah serat sehingga dapat memperlambat kerja usus.
Karena fungsi utama serat adalah menjaga tinja tetap lunak dan mendorongnya melalui usus, makanan rendah serat seperti roti putih bisa menjadi salah satu penyebab sembelit, terutama jika dikonsumsi lebih banyak dibandingkan makanan berserat.
6. Kentang Putih dan Makanan Olahan Serupa
Kentang putih yang dimasak hingga lembek memang sering dijadikan makanan MPASI karena teksturnya lembut. Namun, kentang putih memiliki kandungan karbohidrat tinggi dan serat rendah, yang dapat memperlambat pergerakan usus bayi dan berkontribusi pada sembelit.
Hal ini juga berlaku untuk makanan bayi lain yang terlalu diproses atau dihaluskan tanpa tambahan serat, seperti beberapa jenis finger food instan, crackers rendah serat, atau camilan bayi dengan kandungan gizi minim.
7. Jumlah Makanan yang Terlalu Banyak Terlalu Cepat
Tidak hanya jenis makanan, porsi dan cara memperkenalkan makanan padat juga sangat berpengaruh terhadap sembelit. Jika bayi langsung diberikan makanan padat dalam jumlah banyak atau transisinya terlalu cepat dari ASI atau susu ke makanan padat, pencernaannya bisa “kaget” karena sistem cerna bayi masih berkembang.
Perubahan mendadak ini tidak hanya menyebabkan sembelit, tetapi juga bisa membuat bayi rewel atau kehilangan nafsu makan. Karena itu, makanan padat sebaiknya dikenalkan secara bertahap sambil memastikan bayi tetap cukup minum dan tetap mendapatkan ASI atau susu formula.
8. Terlalu Sedikit Cairan
Walaupun bukan termasuk makanan, kekurangan cairan sering menjadi penyebab sembelit pada bayi, terutama saat mulai makan makanan padat. Cairan membantu menjaga tinja tetap lembut sehingga lebih mudah dikeluarkan. Jika bayi kurang minum ASI, susu formula, atau air (sesuai usia), tinja bisa menjadi keras dan sulit BAB.
Baca juga: Gak Perlu Obat! Pepaya Ternyata Punya 3 Cara Ampuh Atasi Sembelit
Saatnya Hati-Hati: Kapan Perlu Konsultasi Dokter?
Jika bayi terlihat susah BAB selama beberapa hari, menangis saat mengejan, perut kembung, atau tinjanya sangat keras seperti kerikil, kondisi ini perlu mendapat perhatian. Dokter dapat membantu mengevaluasi apakah sembelit dipicu oleh pola makan, alergi, atau intoleransi tertentu, seperti protein susu sapi.
Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter anak jika pola BAB bayi berubah drastis atau sembelit sering berulang. Setiap bayi memiliki kondisi yang berbeda, sehingga penanganannya pun bisa berbeda.
Sembelit pada bayi merupakan kondisi yang cukup umum, terutama saat masa MPASI. Tinja yang keras dan jarang keluar dapat membuat bayi tidak nyaman dan membuat orang tua khawatir.
Selain jenis makanan, perubahan pola makan, porsi yang diberikan, serta kurangnya cairan juga dapat memperparah sembelit pada bayi.
Moms dan Dads bisa mulai menyesuaikan variasi makanan dengan memperkenalkan makanan tinggi serat seperti pir, prune, atau sayuran puree, sambil tetap memantau tanda-tanda sembelit dan tentu saja berkonsultasi dengan dokter anak agar solusi yang diberikan sesuai dengan kondisi si kecil.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Healthline