Minggu, 15 FEBRUARI 2026 • 15:40 WIB

BRIN Ingatkan Risiko Kesehatan Kronis akibat Pencemaran Sungai Cisadane

Author

Kementerian Lingkungan Hidup menyegel gudang pestisida yang diduga menjadi penyebab tercemarnya Sungai Jaletreng dan Sungai Cisadane. (ANTARA FOTO/Putra M. Akbar)

INDOZONE.ID - Periset Pusat Riset Limnologi dan Sumberdaya Air Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ignasius Sutapa, mengingatkan bahwa pencemaran Sungai Cisadane akibat tumpahan zat kimia, berpotensi menimbulkan dampak kesehatan jangka panjang.

Ignasius menjelaskan adanya potensi bioakumulasi dan biomagnifikasi, dari residu pestisida atau metabolit yang terserap dalam jaringan organisme air. Zat tersebut kemudian dapat berpindah ke predator tingkat lebih tinggi, termasuk manusia yang mengonsumsi ikan dari sungai tercemar.

“Risiko ini membuat pencemaran tidak hanya berdampak jangka pendek, tetapi juga berpotensi menimbulkan efek kesehatan kronis,” ujarnya dalam keterangan di Jakarta, Minggu (15/2/2026).

Ia menambahkan, kontaminasi tidak hanya berada di permukaan air, tetapi juga dapat mengendap di dasar sungai. Sedimen yang tercemar berpotensi menjadi sumber pelepasan racun sekunder dalam jangka panjang.

Dengan demikian, meskipun air terlihat kembali jernih, ancaman zat beracun masih dapat tersimpan di lapisan sedimen dan terlepas kembali ke kolom air dalam kondisi tertentu.

Baca juga: Disinyalir Tercemar Pestisida, Polisi Imbau Warga Tak Konsumsi Ikan di Sungai Cisadane Tangerang

Dari sisi kesehatan masyarakat, paparan pestisida dapat terjadi melalui kontak langsung, seperti saat mandi atau mencuci, maupun secara tidak langsung melalui konsumsi air baku dan ikan yang telah terkontaminasi.

Ignasius menjelaskan bahwa beberapa jenis pestisida, khususnya yang bersifat neurotoksik, dapat memicu gejala akut seperti mual, pusing, gangguan saraf, hingga kematian tergantung tingkat paparan.

“Dalam jangka panjang, paparan kronis berpotensi memicu gangguan endokrin, kerusakan organ, bahkan risiko karsinogenik,” ungkapnya.

Untuk penanganan jangka pendek, ia merekomendasikan penghentian sementara pengambilan air baku PDAM di wilayah terdampak, peningkatan pemantauan kualitas air secara real-time, serta penyampaian informasi cepat kepada masyarakat agar tidak menggunakan air sungai hingga dinyatakan aman.

Jika sumber pencemaran masih teridentifikasi, upaya netralisasi atau remediasi langsung di lokasi juga perlu dilakukan.

Baca juga: Pria Meragang Nyawa di Sungai Cisadane Tangerang, Sempat Ditolong Tapi Tak Selamat

Dalam jangka panjang, Ignasius menekankan perlunya penguatan pengawasan dan penegakan hukum terhadap pelaku pencemaran bahan berbahaya dan beracun (B3). 

Selain itu, pembangunan sistem peringatan dini berbasis sensor kualitas air serta diversifikasi sumber air baku dinilai penting untuk meningkatkan ketahanan saat terjadi krisis.

Ia juga menyoroti pentingnya restorasi ekosistem sungai melalui rehabilitasi zona riparian guna memperkuat kemampuan alami sungai dalam menyaring polutan.

“Kepada masyarakat, kami mengimbau agar tidak panik, tetapi tetap waspada dan mengikuti instruksi resmi pemerintah dan PDAM,” tuturnya.

Masyarakat diminta tidak menggunakan air sungai untuk memasak, minum, mencuci, atau mandi, serta menghindari konsumsi ikan dari wilayah terdampak hingga ada pernyataan resmi bahwa kondisi air telah aman.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: ANTARA

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU