Sabtu, 21 FEBRUARI 2026 • 15:34 WIB

Dokter Ini Sebut Indonesia Masuk Negara dengan Risiko Tinggi Batu Ginjal akibat Dehidrasi

Author

DR. dr. Widi Atmoko,Sp.U (K), FECSM, FACS. (Eliani Kusnedi)

INDOZONE.ID - Batu ginjal salah satu penyakit yang banyak diidap oleh masyarakat sejak dulu. Seiring waktu, penanganan batu ginjal di Indonesia mudah teratasi. 

DR. dr. Widi Atmoko,Sp.U (K), FECSM, FACS dari Eka Hospital menjelaskan, batu ginjal adalah pengendapan mineral atau garam dalam urin yang mengkristal dan membentuk batu di ginjal. Orang Indonesia sangat rentan mengalami karena berada di lingkungan tropis.

“Batu ginjal itu asalnya dari zat-zat yang sebenarnya tersisa, kita makan, kita minum. Itu seandainya nanti ada ion-ion yang bisa membentuk menjadi kristal. Sehingga nanti dia akan mengandap di dalam ginjal,” terang dr Widi dalam acara Summit Robotic & Endourology Institute.

Baca juga: Tips Mengatur Pola Tidur Selama Puasa, Bikin Tubuh Tetap Produktif

Penyebab Batu Ginjal: Dehidrasi

Prevalensi batu ginjal di Indonesia lebih besar angkanya daripada negara lain seperti Eropa. Di Indonesia prevalensinya bisa 10-15 persen, jika dibandingkan Eropa hanya 5-9 persen.

“Indonesia mungkin negaranya termasuk geografisnya lebih tinggi, sehingga memang kecenderungan orang itu gampang dehidrasi, kurang minum dan kristalnya makin gampang terbentuk,” imbuhnya. 

Seseorang akan mengalami dehidrasi jika setiap hari minum kurang dari 1 liter. Apalagi kalau kerjanya di lingkungan panas atau di lapangan yang memicu seseorang cepat dehidrasi.

Kenali Faktor Risiko Batu Ginjal

Faktor risiko baru ginjal juga tergantung pada riwayat genetik. Jika ada keluarga yang pernah mengalami batu ginjal, faktor risikonya naik 2-5 kali lipat.

“Atau misalnya pernah ada riwayat pas anak-anak pernah punya batu ginjal, maka saat dewasa nanti 15 persen juga berisiko,” paparnya. 

Baca juga: 6 Kebiasaan Buruk Ini Bisa Merusak Kesehatan Mulut

Kemudian pada laki-laki juga lebih rentan mengalami batu ginjal. Terlebih pada mereka yang juga memiliki riwayat hipertensi, diabetes, obesitas, hingga asam urat juga bisa menjadi faktor risiko batu ginjal.

Gejala Batu Ginjal

Diungkapkan dr Widi, di awal terdeteksi batu ginjal umumnya tidak bergejala. Namun lama-lama akan muncul gejala lanjutan saat kondisinya cukup parah.

“Gejalanya paling sering adalah nyeri pinggang yang hebat. Kadang kencingnya itu bisa ada pasirnya atau bisa keluar kerikil. Sayangnya orang mengira kalau kamar mandinya kotor, padahal bukan,” ucap dr Widi.

Cara Mengatasi Batu Ginjal

Ilustrasi mengatasi batu ginjal. (Eliani Kusnedi)

dr Widi mengatakan, penanganan batu ginjal kompleks saat ini dapat diatasi dengan teknologi robotik. Ia menyarankan empat jenis penanganan berbasis teknologi yang minim invasif.

1. Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL)

Dijelaskan dr Widi, ESWL adalah tindakan medis untuk menghancurkan batu menggunakan gelombang kejut. Tindakan ini diharapkan batu yang sudah hancur akan keluar bersama urine. 

“Kelebihannya tidak akan ada sayatan karena tidak ada alat yang dimasukkan ke dalam tubuh. ESWL disebut-sebut sebagai terapi non-invasif yang ideal untuk batu ginjal berukuran kecil dan batu belum keras,” paparnya.

2. Ureteroscopy (URS) dan Retrograde Intrarenal Surgery (RIRS)

dr Widi menambahkan, URS dilakukan dengan cara memasukkan alat berbentuk selang elastis dilengkapi kamera pada ujungnya untuk mencari dan mengambil batu ginjal. Prosedur ini tidak memerlukan sayatan pada kulit. 

“Pada batu berukuran besar biasanya terlebih dulu dihancurkan menggunakan laser. Kemudian stent dipasang dengan tujuan membantu aliran urine,” terangnya.

Baca juga: Sisi Gelap Penggunaan AI di Dunia Medis: Dari Kasus yang Memicu Stroke hingga Salah Identifikasi Organ Tubuh

3. Percutaneous Nephrolithotomy (PCNL)


Tindakan ini untuk batu ginjal yang berukuran besar yakni lebih dari 2 cm. Dilakukan dengan memasukkan teropong lewat sayatan kurang dari 1 cm pada pinggang sisi samping. Tujuannya untuk memecah dan mengeluarkan batu.
Kelebihannya memiliki tingkat keberhasilan sampai 95 persen dan masa pemulihan pasien selama 1-2 hari saja. 

4. Operasi terbuka

Untuk kasus batu ginjal besar dan sudah sangat komplek, salah satu cara penanganannya adalah operasi terbuka. Hanya saja ini sudah jarang digunakan karena biasanya pengobatan sudah melalui tindakan minimal invasif.

Pencegahan Batu Ginjal

Cara terbaik untuk mencegah batu ginjal adalah memastikan diri minum banyak air putih setiap hari untuk menghindari dehidrasi. 

dr Widi menyarankan agar kamu rajin minum air sebanyak 2,5-3 liter sehari. Menariknya, kamu bisa menambahkan lemon atau jeruk ke air putih.

Baca juga: Pengertian Jalan Cepat, Beserta Sejarah dan Manfaatnya Bagi Kesehatan

“Konsumsi citrat berupa ion untuk mencegah terbentuknya batu, minum lemon dan jeruk sehari sekali. Selain itu, batasi konsumsi garam, hindari makan jeroan, batasi konsumsi kalsium berlebihan, itulah cara paling bagus mencegah batu ginjal,” tutupnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Press Release

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU