INDOZONE.ID - Kol goreng memang jadi teman setia di banyak hidangan, apalagi saat makan pecel lele atau nasi uduk.
Tapi, di balik rasanya yang nagih, ternyata ada risiko kesehatan yang sering nggak disadari jika dikonsumsi terlalu sering.
Secara sederhana, kol goreng adalah kol yang digoreng sampai kering. Proses ini memang membuat teksturnya lebih ringan dan crispy, tapi sayangnya juga mengubah kandungan gizinya secara drastis.
Baca juga: Bolehkah Mandi saat Cacar Air? Ini Tips Aman dan Penjelasan Lengkapnya
Jadi, meskipun asalnya sayuran sehat, versi gorengnya justru bisa jadi boomerang bagi tubuh jika terlalu banyak.
Kol Goreng Tidak Bernutrisi
Kol sebenarnya termasuk sayuran yang kaya nutrisi. Di dalamnya ada serat, vitamin C, vitamin K, hingga mineral penting seperti kalium dan magnesium yang bagus untuk tubuh.
Tapi, semua manfaat itu bisa hilang saat kol digoreng dengan minyak panas.
Proses penggorengan suhu tinggi bisa merusak bahkan menghilangkan sebagian besar nutrisi dalam kol.
Hasil akhirnya, kol goreng jadi tinggi kalori dan lemak, tapi minim manfaat. Jadi, jangan samakan kol goreng dengan kol rebus, kukus, atau lalapan, karena kandungan gizinya sudah sangat berbeda.
Baca juga: Jangan Keliru, Simak Cara Membedakan Cacar Air dan Cacar Api dengan Mudah
Bahaya Kesehatan dari Kol Goreng
Saat kol goreng terlalu sering dikonsumsi, bisa memicu berbagai masalah kesehatan berikut ini.
1. Melonjaknya Berat Badan
Kol goreng menyerap banyak minyak saat dimasak, sehingga kalorinya jadi tinggi.
Apalagi jika dimakan bersama gorengan lain seperti ayam atau tempe, total kalori yang masuk bisa berlipat. Jika dibiarkan, berat badan bisa naik drastis dan berujung obesitas.
2. Memicu Serangan Jantung atau Stroke
Kebiasaan makan gorengan, termasuk kol goreng, bisa meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL).
Kolesterol ini bisa menumpuk di pembuluh darah dan membentuk plak. Jika sudah parah, risiko serangan jantung dan stroke pun ikut naik.
3. Meningkatkan Risiko Terkena Diabetes Tipe 2
Kol goreng biasanya dimasak dengan minyak yang mengandung lemak jenuh dan konsumsi lemak jenuh berlebihan bisa mengganggu kerja insulin dalam tubuh.
Akibatnya, risiko terkena diabetes tipe 2 jadi lebih tinggi, apalagi jika sering makan gorengan setiap minggu.
Baca juga: Apakah Vitiligo Bisa Sembuh atau Hanya Dikontrol? Ini Faktanya
4. Meningkatkan Risiko Munculnya Kanker
Saat kol digoreng pada suhu tinggi, bisa terbentuk zat bernama akrilamida.
Zat ini dikenal sebagai senyawa berbahaya yang berpotensi meningkatkan risiko kanker jika dikonsumsi dalam jangka panjang dan jumlah besar.
Mengonsumsi kol goreng sesekali memang masih diperbolehkan, asal tahu batasan dan nggak menimbulkan risiko masalah kesehatan.
Jika mau lebih sehat, kamu bisa olah kol dengan cara dikukus, ditumis, direbus, atau dijadikan lalapan agar nutrisinya tetap terjaga.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Alodokter