Jumat, 24 APRIL 2026 • 14:15 WIB

Penyebab Anak Sering Jalan Jinjit dan Cara Tepat Mengatasinya

Author

Ilustrasi anak jalan jinjit. (freepik)

INDOZONE.ID - Melihat anak mulai belajar berjalan, merupakan momen yang membahagiakan bagi setiap orang tua.

Namun, tidak sedikit yang merasa cemas ketika anak berjalan dengan posisi jinjit, atau hanya bertumpu pada ujung kaki.

Apakah hal tersebut normal? Atau justru menjadi tanda adanya gangguan tertentu? Berikut penjelasannya.

Apakah Anak Jalan Jinjit Termasuk Normal?

Ilustrasi jinjit. (freepik)

Pada tahap awal belajar berjalan, anak sering mencoba berbagai cara untuk menyeimbangkan tubuhnya. Salah satunya adalah berjalan dengan jinjit.

Kondisi ini biasanya terjadi pada anak di bawah usia 2 tahun, dan masih tergolong wajar.

Di usia tersebut, otot dan koordinasi tubuh anak masih berkembang. Mereka belum sepenuhnya mampu mengontrol gerakan kaki dengan sempurna, sehingga berjalan jinjit bisa menjadi salah satu bentuk eksplorasi gerakan.

Seiring waktu, anak akan mulai berjalan dengan pola yang lebih stabil, yaitu menapak dengan seluruh telapak kaki.

Namun, jika anak masih terus berjalan jinjit setelah usia 2 tahun, hal ini tidak boleh diabaikan. Meskipun bisa saja hanya menjadi kebiasaan, kondisi tersebut juga dapat menandakan adanya gangguan tertentu, baik pada otot, saraf, maupun perkembangan sensorik anak.

Baca juga: Cara Naikkan Berat Badan Anak yang Sehat, Ini Nutrisinya

Penyebab Anak Berjalan Jinjit

1. Tendon Achilles yang Kaku atau Memendek

Salah satu penyebab yang cukup umum adalah, masalah pada tendon Achilles. Tendon ini menghubungkan otot betis dengan tulang tumit, dan berperan penting dalam pergerakan kaki.

Jika tendon Achilles terlalu kaku atau memendek, anak akan mengalami kesulitan untuk menapak dengan sempurna. 

Ketika mencoba menurunkan tumit, anak mungkin merasa tidak nyaman atau bahkan nyeri. Akibatnya, mereka cenderung berjalan dengan jinjit karena posisi tersebut terasa lebih mudah dan tidak menyakitkan.

Kondisi ini bisa terjadi sejak lahir atau berkembang seiring waktu akibat kebiasaan tertentu.

Baca juga: Ahli Soroti Pentingnya Pembelajaran Joyful untuk Anak di Era Digital

2. Gangguan Saraf seperti Cerebral Palsy

Cerebral palsy merupakan gangguan pada sistem saraf yang memengaruhi kemampuan motorik anak. Kondisi ini terjadi akibat kerusakan pada otak, biasanya sejak dalam kandungan atau saat proses persalinan.

Anak dengan cerebral palsy sering mengalami kesulitan dalam mengontrol gerakan otot. Hal ini dapat menyebabkan kekakuan otot, gangguan koordinasi, hingga keterbatasan dalam berjalan. 

Jalan jinjit menjadi salah satu tanda yang sering muncul, terutama jika disertai dengan gerakan yang kaku atau tidak seimbang.

Gejala cerebral palsy bisa bervariasi, mulai dari ringan hingga berat, tergantung tingkat kerusakan otak yang dialami.

3. Distrofi Otot

Distrofi otot adalah kelainan genetik yang menyebabkan otot mengalami kelemahan secara bertahap.

Pada awalnya, anak mungkin terlihat normal dan mampu berjalan seperti biasa. Namun, seiring waktu, kekuatan otot akan menurun.

Ketika otot kaki melemah, anak akan mengubah cara berjalan untuk menyesuaikan kondisi tubuhnya. Salah satu perubahan yang sering terlihat adalah berjalan jinjit.

Ini terjadi karena otot tidak cukup kuat untuk menopang tubuh dalam posisi normal.

Distrofi otot merupakan kondisi yang perlu penanganan medis jangka panjang, sehingga deteksi dini sangat penting.

4. Gangguan Spektrum Autisme

Anak dengan autisme juga sering menunjukkan kebiasaan berjalan jinjit. Meskipun belum ada penjelasan pasti mengenai hubungan keduanya, banyak ahli mengaitkannya dengan gangguan sensorik.

Anak dengan autisme sering mengalami kesulitan dalam memproses rangsangan dari lingkungan.

Sistem vestibular, yang berfungsi untuk mengatur keseimbangan dan orientasi tubuh, bisa mengalami gangguan. Hal ini membuat anak merasa lebih nyaman berjalan dengan jinjit dibandingkan menapak penuh.

Selain itu, berjalan jinjit pada anak autisme juga bisa menjadi bagian dari perilaku repetitif, atau kebiasaan tertentu yang memberikan rasa nyaman bagi mereka.

5. Kebiasaan yang Terbentuk Sejak Dini

Tidak semua kasus berjalan jinjit disebabkan oleh gangguan medis. Pada beberapa anak, kebiasaan ini bisa terbentuk tanpa adanya masalah kesehatan.

Misalnya, anak yang terbiasa berjalan menggunakan alat bantu tertentu atau sering meniru gerakan tertentu. Jika tidak dikoreksi sejak awal, kebiasaan ini bisa terbawa hingga usia yang lebih besar.

Meskipun terlihat sepele, kebiasaan ini tetap perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi perkembangan otot dan pola berjalan anak.

Dampak Jika Jalan Jinjit Dibiarkan

Jika kebiasaan berjalan jinjit tidak segera ditangani, ada beberapa risiko yang dapat terjadi, antara lain:

  • Otot dan tendon menjadi semakin kaku atau memendek
  • Gangguan keseimbangan dan koordinasi tubuh
  • Anak lebih sering terjatuh
  • Kesulitan menggunakan sepatu dengan nyaman
  • Keterbatasan dalam beraktivitas fisik
  • Nyeri pada kaki atau betis

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi kualitas hidup anak, terutama dalam aktivitas sehari-hari.

Cara Mengatasi Anak yang Berjalan Jinjit

Penanganan berjalan jinjit harus disesuaikan dengan penyebabnya. Berikut beberapa metode yang umum dilakukan:

1. Fisioterapi

Fisioterapi menjadi salah satu penanganan utama, terutama jika penyebabnya berkaitan dengan otot atau tendon. Terapi ini melibatkan latihan peregangan untuk meningkatkan fleksibilitas otot.

Dengan latihan yang rutin, otot yang kaku dapat menjadi lebih rileks, sehingga anak dapat berjalan dengan posisi normal. Selain itu, fisioterapi juga membantu meningkatkan kekuatan otot dan koordinasi gerakan.

2. Penggunaan Alat Penyangga (Brace)

Alat penyangga kaki digunakan untuk membantu menjaga posisi kaki tetap menapak dengan sempurna. Biasanya, alat ini dirancang agar kaki berada pada sudut 90 derajat.

Selain membantu memperbaiki posisi berjalan, penggunaan brace juga dapat membantu memperpanjang tendon secara bertahap. Penggunaan alat ini biasanya disarankan oleh dokter sesuai kebutuhan anak.

3. Suntikan Botulinum Toxin

Dalam beberapa kasus, dokter mungkin merekomendasikan suntikan botulinum toxin atau Botox. Suntikan ini bertujuan untuk melemaskan otot yang terlalu tegang.

Dengan otot yang lebih rileks, proses terapi peregangan menjadi lebih efektif. Metode ini biasanya digunakan pada kondisi tertentu dan harus dilakukan oleh tenaga medis profesional.

4. Tindakan Operasi

Jika metode non-bedah tidak memberikan hasil yang optimal, operasi bisa menjadi pilihan terakhir. Prosedur ini dilakukan untuk memperpanjang tendon atau memperbaiki struktur otot yang bermasalah.

Operasi biasanya hanya dilakukan pada kasus yang cukup serius dan setelah melalui evaluasi menyeluruh oleh dokter spesialis.

Kapan Harus Membawa Anak ke Dokter?

Orang tua sebaiknya tidak menunda konsultasi ke dokter jika menemukan tanda-tanda berikut:

  • Anak masih berjalan jinjit setelah usia 2 tahun
  • Pola berjalan berubah dari normal menjadi jinjit
  • Anak sering kehilangan keseimbangan atau mudah jatuh
  • Mengalami kesulitan saat memakai sepatu
  • Mengeluhkan nyeri pada kaki
  • Tidak aktif dalam aktivitas fisik seperti anak seusianya

Pemeriksaan sejak dini sangat penting untuk mengetahui penyebab pasti dan menentukan penanganan yang tepat.

Peran Orang Tua dalam Mengatasi Jalan Jinjit

Selain penanganan medis, peran orang tua juga sangat penting dalam membantu anak mengatasi kebiasaan ini.

Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain:

  • Mengajak anak berjalan dengan benar secara perlahan
  • Memberikan stimulasi latihan sederhana di rumah
  • Menghindari penggunaan alat bantu jalan yang tidak diperlukan
  • Memberikan dukungan dan motivasi kepada anak

Pendekatan yang tepat dapat membantu anak memperbaiki pola berjalan secara bertahap.

Pentingnya Deteksi dan Penanganan Dini

Semakin cepat masalah dikenali, semakin besar peluang untuk mendapatkan hasil yang optimal. Deteksi dini memungkinkan penanganan dilakukan sebelum kondisi menjadi lebih serius.

Selain itu, intervensi yang tepat juga dapat membantu mencegah komplikasi jangka panjang, seperti gangguan postur tubuh atau keterbatasan aktivitas.

Berjalan jinjit pada anak memang sering kali merupakan bagian dari proses belajar berjalan. 

Namun, jika kebiasaan ini berlangsung lebih lama dari seharusnya, orang tua perlu lebih peka dan tidak menganggapnya sebagai hal sepele.

Berbagai faktor, mulai dari kebiasaan hingga kondisi medis tertentu, dapat menjadi penyebabnya.

Dengan memahami penyebab, dampak, serta cara penanganannya, orang tua dapat mengambil langkah yang tepat untuk mendukung tumbuh kembang anak. 

Lakukan konsultasi dengan tenaga medis jika merasa ada yang tidak wajar. Penanganan yang tepat sejak dini akan membantu anak tumbuh dengan lebih optimal dan menjalani aktivitas sehari-hari dengan nyaman.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Fortishealthcare.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU