INDOZONE.ID - Kelihatannya santai, tapi efek duduk terlalu lama nggak bisa diremehkan! Banyak orang mungkin nggak sadar kalau sebagian besar aktivitas sehari-hari sekarang dilakukan sambil duduk.
Mulai dari kerja di depan laptop, kuliah online, main game, nonton bioskop, sampai nongkrong sama teman-teman, dan banyak aktivitas lainnya.
Sekilas memang terlihat biasa saja. Bahkan terasa nyaman karena tubuh tidak banyak bergerak. Namun dibalik kebiasaan itu, ada dampak yang perlahan bisa mempengaruhi kesehatan fisik sekaligus mental.
Belakangan, semakin banyak penelitian yang mengaitkan gaya hidup sedentary atau terlalu pasif dengan meningkatnya risiko depresi.
Baca juga: Perbedaan Rasa Mulas Kontraksi dan Ingin BAB, Jangan sampai Keliru
Jadi masalahnya bukan cuma soal badan pegal atau berat badan naik, tetapi juga bagaimana kebiasaan duduk terlalu lama bisa mempengaruhi suasana hati dan kondisi psikologis seseorang.
Yang lebih mengejutkan lagi, efeknya bisa tetap muncul meski seseorang rutin berolahraga.
Rajin Workout Tapi Seharian Duduk? Tetap Bisa Berisiko
Selama ini banyak orang berpikir olahraga pagi atau pergi ke gym sudah cukup untuk menjaga tubuh tetap sehat.
Padahal, menurut sejumlah penelitian, olahraga saja belum tentu mampu “menetralkan” efek buruk dari kebiasaan duduk terlalu lama setiap hari.
Baca juga: Kenapa Perut Terasa Panas setelah Makan Pedas? Ini Cara Mengatasinya
Misalnya, seseorang rutin jogging selama satu jam di pagi hari, tetapi setelah itu duduk bekerja selama 8–10 jam tanpa banyak bergerak.
Kondisi seperti ini tetap dianggap kurang baik untuk tubuh maupun kesehatan mental.
Para ahli menyebut tubuh manusia sebenarnya dirancang untuk aktif bergerak. Ketika tubuh terlalu lama diam dalam posisi yang sama, ada banyak fungsi tubuh yang ikut melambat.
Mulai dari sirkulasi darah, metabolisme, hingga aktivitas hormon tertentu yang berkaitan dengan mood dan stres.
Baca juga: Apa Itu Zero Fluoroscopy yang Jadi Terobosan untuk Pasien Kelainan Jantung?
Akibatnya, tubuh jadi lebih cepat lelah, konsentrasi menurun, pikiran terasa penuh, dan suasana hati lebih mudah berubah.
Kenapa Duduk Terlalu Lama Bisa Berkaitan dengan Depresi?
Meski terdengar sederhana, terlalu lama duduk ternyata dapat memberi efek berantai pada tubuh dan otak. Saat seseorang duduk tanpa jeda dalam waktu panjang, aliran darah menjadi kurang optimal.
Tubuh juga membakar energi lebih sedikit. Di saat yang sama, otot-otot menjadi lebih tegang dan tubuh terasa kaku.
Tidak hanya itu, kebiasaan terus menatap layar tanpa istirahat juga bisa membuat otak bekerja terus-menerus tanpa jeda yang cukup. Lama-kelamaan kondisi ini dapat memicu kelelahan mental.
Baca juga: Gejala Peradangan Amandel yang Sering Muncul, Perlu Diwaspadai sejak Awal
Kurangnya aktivitas fisik juga diketahui berkaitan dengan produksi hormon seperti serotonin dan endorfin, yaitu hormon yang membantu menjaga perasaan tetap stabil dan bahagia.
Ketika tubuh jarang bergerak, produksi hormon tersebut bisa ikut terpengaruh.
Inilah alasan kenapa orang yang terlalu lama duduk sering merasa lebih mudah stres, cepat lelah secara emosional, atau kehilangan semangat tanpa alasan yang jelas.
Ada Kebiasaan Simpel yang Ternyata Punya Dampak Besar
Kabar baiknya, solusi untuk mengurangi dampak buruk ini ternyata tidak serumit yang dibayangkan.
Baca juga: Berapa Batas Konsumsi Gula per Hari? Simak Aturannya
Para peneliti menemukan bahwa kebiasaan sederhana seperti berdiri sejenak, berjalan kecil, atau mengambil jeda dari layar gadget secara rutin dapat membantu menurunkan risiko depresi.
Bahkan, rutin mengambil break singkat dari aktivitas duduk disebut bisa mengurangi kemungkinan depresi hingga sekitar 13 persen.
Meski angkanya terdengar kecil, efeknya bisa sangat berarti jika dilakukan secara konsisten setiap hari.
Hal sederhana seperti berdiri setiap 30–60 menit, stretching ringan, berjalan mengambil air minum, naik turun tangga, atau sekadar menjauh dari layar beberapa menit – ternyata bisa membantu tubuh dan otak “bernapas” kembali.
Baca juga: Tinggi Badan Anak Tak Bertambah? Waspadai Sindrom Turner
Bukan Berarti Harus Langsung Olahraga Berat
Banyak orang sering menunda hidup sehat karena merasa harus langsung olahraga ekstrem atau punya rutinitas gym yang berat. Padahal, perubahan kecil justru lebih mudah dilakukan secara konsisten.
Memulai kebiasaan aktif bergerak bisa dilakukan dari hal-hal sederhana di rumah maupun kantor. Misalnya memilih berdiri saat menerima telepon, berjalan sebentar setelah makan, atau memasang alarm pengingat untuk stretching.
Aktivitas kecil seperti ini mungkin terlihat sepele, tetapi jika dilakukan terus-menerus, dampaknya bisa terasa besar untuk kesehatan tubuh dan mental dalam jangka panjang.
Baca juga: Orang Indonesia Bisa Kena Katarak Lebih Cepat, Kok Bisa? Ini Kata Dokter
Generasi Sekarang Memang Makin Sulit Lepas dari Layar
Tidak bisa dipungkiri, kehidupan modern membuat banyak orang hampir selalu terhubung dengan gadget dan layar digital. Apalagi sejak tren work from home (WFH) dan hiburan online semakin meningkat.
Tanpa sadar, waktu duduk pun jadi jauh lebih panjang dibanding dulu. Bahkan banyak orang baru sadar sudah duduk berjam-jam setelah tubuh mulai terasa pegal atau mata terasa berat.
Karena itu, penting untuk mulai lebih sadar terhadap kebiasaan sehari-hari. Tubuh sebenarnya sering memberi “sinyal” ketika sudah terlalu lama diam, hanya saja sering diabaikan.
Baca juga: Kenali Kebiasaan yang Jadi Pemicu Saraf Kejepit, Apa Saja?
Sesekali Berdiri Bisa Jadi Bentuk Self-Care Paling Simpel
Kadang orang mengira menjaga kesehatan mental selalu harus dimulai dari hal besar. Padahal, kebiasaan kecil seperti memberi waktu tubuh untuk bergerak juga bisa menjadi bentuk self-care yang sederhana.
Jadi kalau setelah membaca ini kamu sadar sudah duduk terlalu lama, mungkin sekarang waktu yang tepat untuk berdiri sebentar. Tarik napas, regangkan badan, jalan kecil beberapa langkah, lalu kembali beraktivitas.
Kelihatannya sederhana, tapi siapa sangka kebiasaan kecil itu bisa membantu menjaga pikiran tetap lebih sehat setiap hari.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Psychologytoday.com