INDOZONE.ID - Mengalami serangan jantung bukan berarti seseorang harus mengucapkan selamat tinggal pada hobi berolahraga, termasuk lari.
Banyak penyintas yang bertanya-tanya, apakah mereka masih bisa kembali menapaki lintasan atau mengikuti lomba seperti sebelumnya. Berikut penjelasannya.
Memahami Kondisi Jantung Setelah Mengalami Serangan
Serangan jantung terjadi ketika aliran darah menuju otot jantung terhambat, sehingga sebagian jaringan mengalami kerusakan akibat kekurangan oksigen. Tingkat kerusakan setiap orang berbeda-beda.
Ada yang hanya mengalami cedera ringan dan pulih dengan baik setelah tindakan medis seperti pemasangan stent, tetapi ada pula yang mengalami gangguan fungsi pompa jantung yang lebih serius.
Karena itu, keputusan untuk kembali berlari tidak hanya ditentukan oleh berapa lama waktu yang telah berlalu sejak serangan terjadi.
Dokter akan mempertimbangkan berbagai aspek, seperti tingkat kerusakan jantung, kondisi pembuluh darah, fungsi pompa jantung, adanya gangguan irama jantung, hingga muncul atau tidaknya keluhan saat beraktivitas.
Baca juga: 8 Cara Tetap Konsisten Lari Meski Sedang Malas dan Tidak Bersemangat
Aktivitas Fisik Justru Mendukung Proses Pemulihan
Dulu, pasien jantung lebih banyak dianjurkan untuk beristirahat total. Namun, kini pandangan tersebut telah berubah.
Berbagai penelitian menunjukkan, olahraga yang dilakukan secara terstruktur, mampu meningkatkan kualitas hidup, memperbaiki kebugaran, sekaligus menurunkan risiko komplikasi di masa depan.
Karena itu, rehabilitasi jantung menjadi bagian penting dari proses pemulihan.
Program ini umumnya mencakup latihan fisik yang diawasi tenaga medis, edukasi mengenai kesehatan jantung, pengaturan pola makan, pengendalian faktor risiko, hingga dukungan psikologis agar pasien lebih percaya diri menjalani aktivitas sehari-hari.
Baca juga: 6 Tips Mengikuti Event Lari untuk Pemula, Biar Kuat Sampai Garis Finish!
Kapan Waktu yang Tepat untuk Mulai Berlari Lagi?
Tidak ada patokan waktu yang berlaku sama bagi semua orang. Sebelum kembali melakukan olahraga dengan intensitas sedang hingga tinggi, pasien perlu menjalani pemeriksaan menyeluruh.
Dokter biasanya akan mengevaluasi apakah masih ada gejala seperti nyeri dada, sesak napas, jantung berdebar, atau mudah lelah.
Selain itu, pasien dapat menjalani tes latihan untuk melihat respons jantung terhadap aktivitas fisik serta pemeriksaan ekokardiografi guna menilai kemampuan pompa jantung setelah serangan.
Hasil evaluasi inilah yang menjadi dasar apakah seseorang sudah siap untuk mulai berlari kembali.
Tahapan Aman Kembali Berlari Setelah Serangan Jantung
1. Awali dengan Jalan Kaki
Langkah pertama yang paling dianjurkan adalah membiasakan diri berjalan kaki secara rutin. Aktivitas sederhana ini membantu meningkatkan kapasitas aerobik sekaligus melatih sistem kardiovaskular secara bertahap.
2. Tingkatkan Menjadi Jalan Cepat
Jika tubuh sudah mampu beradaptasi tanpa muncul keluhan, intensitas dapat dinaikkan menjadi jalan cepat. Fokus utamanya adalah menjaga konsistensi, bukan mengejar kecepatan.
3. Kombinasikan Jalan dan Lari Ringan
Setelah mendapatkan izin dari dokter, pasien bisa mencoba metode run-walk, misalnya berjalan selama beberapa menit lalu diselingi lari ringan selama satu hingga dua menit. Durasi lari dapat ditambah perlahan sesuai kemampuan tubuh.
4. Berlari Santai Secara Berkelanjutan
Ketika tubuh telah menunjukkan toleransi yang baik terhadap latihan sebelumnya, lari santai tanpa jeda bisa mulai dilakukan.
Namun, intensitas ringan hingga sedang tetap menjadi pilihan yang lebih aman dibanding memaksakan diri berlari cepat.
Apakah Boleh Kembali Mengikuti Lomba Lari?
Sebagian penyintas serangan jantung bahkan mampu kembali mengikuti kompetisi lari setelah menjalani evaluasi menyeluruh. Namun, ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi.
Kondisi penyakit jantung harus stabil, tidak ada gejala saat berolahraga, tidak ditemukan gangguan irama jantung yang berbahaya, fungsi jantung masih baik, dan tentu saja telah memperoleh persetujuan dari dokter yang menangani.
Semakin berat target olahraga yang ingin dilakukan, seperti maraton atau ultramaraton, maka semakin ketat pula proses penilaian medis yang diperlukan.
Waspadai Gejala yang Menjadi Sinyal Bahaya
Saat mulai aktif berolahraga kembali, penting untuk mengenali tanda-tanda yang tidak boleh diabaikan.
Jika muncul nyeri dada, rasa tertekan di dada, sesak napas yang tidak sesuai dengan intensitas latihan, pusing, hampir pingsan, detak jantung tidak teratur, atau kelelahan yang berlebihan, segera hentikan aktivitas dan cari pertolongan medis.
Gejala tersebut dapat menjadi indikasi bahwa jantung belum siap menerima beban latihan yang lebih tinggi.
Mengatasi Rasa Takut untuk Berlari Lagi
Tidak sedikit penyintas serangan jantung yang merasa cemas ketika detak jantung meningkat saat berolahraga. Kekhawatiran ini merupakan hal yang wajar dan banyak dialami pasien setelah mengalami kejadian kardiovaskular.
Melalui rehabilitasi jantung dan latihan yang dilakukan secara bertahap di bawah pengawasan tenaga medis, rasa takut tersebut biasanya akan berkurang.
Seiring waktu, pasien dapat kembali mempercayai kemampuan tubuhnya untuk beraktivitas dengan aman.
Berlari setelah serangan jantung bukanlah hal yang mustahil. Dengan evaluasi medis yang tepat, mengikuti program rehabilitasi, serta meningkatkan intensitas latihan secara bertahap, banyak penyintas dapat kembali menikmati aktivitas favoritnya tanpa mengorbankan kesehatan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Totalwellnesshealth.com