INDOZONE.ID – Adenomiosis merupakan salah satu gangguan pada rahim yang kerap dialami wanita usia reproduktif. Terlebih, mereka yang berusia 40 hingga 50 tahun.
Kondisi ini dapat menyebabkan nyeri haid yang hebat, perdarahan menstruasi berlebihan, hingga pembesaran rahim.
Meski bukan penyakit kanker, adenomiosis dapat mengganggu kualitas hidup dan dalam beberapa kasus dikaitkan dengan masalah kesuburan maupun komplikasi kehamilan.
Apa Itu Adenomiosis?
Dikutip dari Mayo Clinic, adenomiosis adalah kondisi ketika jaringan endometrium, yaitu jaringan yang melapisi bagian dalam rahim, tumbuh masuk ke dalam lapisan otot rahim (miometrium).
Dalam siklus menstruasi normal, jaringan endometrium akan menebal sebagai persiapan kehamilan. Jika tidak terjadi pembuahan, jaringan tersebut akan luruh dan keluar sebagai darah menstruasi.
Baca juga: Mengenal Adenomiosis, Penyakit yang Diderita Melaney Ricardo hingga Rahimnya Diangkat
Namun, pada penderita adenomiosis, jaringan yang tumbuh di dalam otot rahim juga mengalami penebalan, peluruhan, dan perdarahan setiap kali menstruasi.
Akibatnya, rahim dapat membesar dan menimbulkan nyeri, kram hebat, serta perdarahan menstruasi yang lebih banyak dari biasanya.
Gejala Adenomiosis
Sebagian wanita dengan adenomiosis, tidak mengalami gejala sama sekali. Namun, pada sebagian lainnya, kondisi ini dapat menimbulkan berbagai keluhan, antara lain:
- Menstruasi yang sangat banyak atau berlangsung lebih lama dari biasanya.
- Nyeri haid (dismenore) yang berat.
- Nyeri tajam atau kram hebat di area panggul saat menstruasi.
- Nyeri panggul yang berlangsung terus-menerus.
- Nyeri saat berhubungan seksual.
- Rahim membesar sehingga bagian bawah perut terasa penuh, tertekan, atau nyeri saat disentuh.
Kapan Harus ke Dokter?
Segera periksakan diri ke dokter apabila mengalami:
- Perdarahan menstruasi yang sangat banyak atau berlangsung berkepanjangan.
- Nyeri haid berat hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
- Nyeri panggul yang terus berulang tanpa penyebab yang jelas.
Pemeriksaan sejak dini penting, untuk memastikan penyebab keluhan dan membedakan adenomiosis dari penyakit rahim lainnya.
Apa Penyebab Adenomiosis?
Hingga saat ini, penyebab pasti adenomiosis masih belum diketahui. Namun, para ahli memiliki beberapa teori mengenai bagaimana kondisi ini dapat terjadi, di antaranya:
- Sel-sel endometrium masuk ke dalam otot rahim, kemungkinan akibat sayatan operasi pada rahim, seperti operasi caesar atau pengangkatan miom.
- Jaringan endometrium sudah terbentuk di dalam otot rahim sejak masa perkembangan janin.
- Peradangan pada lapisan rahim setelah melahirkan yang memicu masuknya jaringan endometrium ke otot rahim.
- Sel punca (stem cell) dari sumsum tulang berubah menjadi sel yang menyerupai jaringan endometrium.
- Menstruasi retrograde, yaitu kondisi ketika darah menstruasi mengalir kembali ke rongga panggul melalui saluran tuba, yang juga diduga berperan pada endometriosis.
Terlepas dari mekanismenya, pertumbuhan jaringan adenomiosis diketahui dipengaruhi oleh hormon estrogen.
Faktor Risiko Adenomiosis
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami adenomiosis antara lain:
- Pernah menjalani operasi pada rahim, seperti operasi caesar, kuretase, atau operasi pengangkatan miom.
- Pernah melahirkan.
- Berusia paruh baya, terutama 40–50 tahun.
Meski lebih sering ditemukan pada wanita usia tersebut, penelitian terbaru menunjukkan, adenomiosis juga dapat terjadi pada wanita yang lebih muda.
Selain itu, penderita adenomiosis juga lebih berisiko mengalami gangguan rahim lain, seperti:
- Endometriosis.
- Miom rahim (fibroid uteri).
- Polip endometrium.
Kondisi-kondisi tersebut memiliki gejala yang mirip, sehingga diagnosis sering kali menjadi lebih sulit.
Baca juga: 7 Buah Pereda Nyeri Haid yang Bisa Kamu Coba Saat PMS
Komplikasi Adenomiosis
Apabila tidak ditangani, adenomiosis dapat menyebabkan berbagai komplikasi, seperti:
1. Anemia
Perdarahan menstruasi yang sangat banyak dapat menyebabkan tubuh kekurangan sel darah merah sehat sehingga memicu anemia. Kondisi ini ditandai dengan mudah lelah, lemas, pusing, hingga sesak napas.
2. Menurunnya Kualitas Hidup
Nyeri panggul dan perdarahan yang berlebihan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, pekerjaan, olahraga, hingga kehidupan sosial.
3. Gangguan Kehamilan
Beberapa penelitian menunjukkan adenomiosis dapat meningkatkan risiko:
- Keguguran.
- Persalinan prematur.
- Bayi lahir dengan berat badan lebih kecil dibanding usia kehamilan.
Adenomiosis juga diduga berkaitan dengan gangguan kesuburan. Meskipun, anggapan itu masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan hubungan tersebut.
Bagaimana Diagnosis Adenomiosis?
Lantaran gejalanya mirip dengan penyakit rahim lain, dokter biasanya akan melakukan beberapa pemeriksaan untuk memastikan diagnosis, antara lain:
1. Pemeriksaan panggul
Dokter akan memeriksa apakah rahim membesar atau terasa nyeri saat ditekan.
2. USG Transvaginal
Pemeriksaan ini menggunakan alat khusus yang dimasukkan ke dalam vagina untuk menghasilkan gambar rahim, ovarium, dan organ panggul lainnya.
3. MRI (Magnetic Resonance Imaging)
MRI dapat memberikan gambaran yang lebih detail mengenai kondisi rahim, sehingga membantu mendeteksi adenomiosis maupun kelainan rahim lainnya.
4. Biopsi Endometrium
Pada beberapa kasus, dokter dapat mengambil sedikit sampel jaringan dari lapisan rahim untuk memastikan tidak terdapat penyakit lain yang lebih serius, seperti kanker.
Namun, biopsi tidak dapat memastikan diagnosis adenomiosis.
Diagnosis yang benar-benar pasti, biasanya baru dapat ditegakkan melalui pemeriksaan jaringan rahim setelah tindakan histerektomi, atau operasi pengangkatan rahim.
Baca juga: Ini Penyebab Menstruasi Berkepanjangan dan Cara Mengatasinya
Pengobatan Adenomiosis
Pilihan terapi adenomiosis bergantung pada tingkat keparahan gejala, usia pasien, serta apakah pasien masih berencana memiliki anak. Beberapa pilihan pengobatan meliputi:
1. Obat Antinyeri
Dokter dapat meresepkan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), seperti ibuprofen, untuk membantu mengurangi nyeri haid dan mengurangi jumlah perdarahan menstruasi.
2. Terapi Hormon
Pil KB kombinasi, cincin vagina, patch hormon, maupun alat kontrasepsi dalam rahim (IUD) yang mengandung progestin dapat membantu mengurangi nyeri dan perdarahan menstruasi.
Pada sebagian wanita, terapi hormon bahkan dapat menghentikan menstruasi sementara (amenore), sehingga gejala menjadi lebih ringan.
3. Operasi Histerektomi
Bagi pasien yang mengalami nyeri hebat dan perdarahan berat yang tidak membaik dengan pengobatan lain, dokter dapat menyarankan histerektomi, yaitu operasi pengangkatan rahim.
Tindakan ini merupakan satu-satunya terapi yang dapat menyembuhkan adenomiosis secara permanen. Pada umumnya, pengangkatan ovarium tidak diperlukan.
Cara Meredakan Gejala di Rumah
Selain menjalani pengobatan dari dokter, penderita adenomiosis dapat membantu meredakan keluhan dengan beberapa langkah sederhana, seperti:
- Berendam air hangat untuk membantu mengurangi kram.
- Mengompres perut bagian bawah menggunakan bantal pemanas atau kompres hangat.
- Mengonsumsi obat antiinflamasi sesuai anjuran dokter untuk mengurangi nyeri dan peradangan.
Bisakah Adenomiosis Sembuh?
Pada banyak wanita, gejala adenomiosis cenderung membaik atau bahkan menghilang setelah memasuki menopause. Sebab, produksi hormon estrogen menurun secara alami.
Oleh karena itu, penanganan adenomiosis akan disesuaikan dengan usia, tingkat keparahan gejala, serta rencana kehamilan pasien.
Jika mengalami menstruasi yang sangat nyeri atau perdarahan berlebihan yang berlangsung terus-menerus, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis obstetri dan ginekologi (Sp.OG).
Diagnosis dan penanganan yang tepat, dapat membantu mengurangi gejala serta meningkatkan kualitas hidup.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Mayo Clinic