INDOZONE.ID - Di dunia kerja modern, tes kepribadian sering dianggap sebagai “kunci” untuk memahami kandidat. Salah satu yang paling populer adalah MBTI. Namun, di balik popularitasnya, ada fakta penting yang kerap terlewat bahkan oleh perusahaan besar sekalipun.
Lalu, seberapa akurat sebenarnya MBTI dibandingkan metode lain seperti Big Five Personality Traits?
MBTI vs Big Five: Mana Lebih “Ngena” di Dunia Kerja?
Jika MBTI dikenal luas karena membagi orang ke dalam tipe-tipe seperti introvert atau ekstrovert, model Big Five Personality Traits justru lebih banyak digunakan dalam riset ilmiah. Model ini membagi kepribadian menjadi lima dimensi utama, salah satunya adalah conscientiousness yang berkaitan dengan kedisiplinan, tanggung jawab, dan ketekunan.
Menariknya, aspek ini terbukti memiliki kaitan dengan performa kerja. Namun, perlu dipahami bahwa meskipun ada hubungan, pengaruhnya tidak terlalu besar. Artinya, kepribadian saja tidak cukup untuk menentukan apakah seseorang akan sukses dalam pekerjaan tertentu.
Baca juga: 15 Tips Manifesting Lolos Interview Kerja, Kuncinya Berawal dari Mindset Positif
Kenapa MBTI Masih Dipakai Banyak Perusahaan?
Dengan berbagai kritik soal akurasi, mengapa MBTI masih digunakan di dunia karier atau profesional?
Jawabannya cukup sederhana: branding dan persepsi positif.
MBTI telah memiliki reputasi kuat sejak puluhan tahun lalu. Banyak praktisi HR lebih nyaman menggunakan alat yang sudah dikenal luas dibandingkan metode lain yang kurang familiar. Selain itu, MBTI juga populer karena pendekatannya yang cenderung positif tidak menyoroti sisi negatif individu.
Hal ini membuat hasilnya terasa lebih “aman” dan menyenangkan, baik bagi perusahaan maupun karyawan.
Apakah MBTI Bisa Menentukan Kesuksesan Kerja?
Jawabannya: tidak sepenuhnya.
Para ahli menilai bahwa hasil MBTI tidak cukup kuat untuk dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan penting, seperti rekrutmen atau promosi. Tes ini memang dapat membantu seseorang mengenal diri sendiri, tetapi tidak mampu memprediksi kinerja, etos kerja, maupun produktivitas secara akurat.
Sebaliknya, faktor seperti keterampilan nyata, pengalaman, serta minat pribadi justru lebih relevan dalam menentukan kecocokan seseorang dengan pekerjaannya.
Baca juga: 7 Tips Interview dari HRD, Biar Dilirik Perusahaan dan Gak Gagal Mulu
Jadi, Perlukah Percaya Tes Kepribadian?
Tes kepribadian seperti MBTI tetap memiliki nilai, terutama untuk refleksi diri atau memahami cara berinteraksi dengan orang lain. Namun, dalam konteks profesional, hasilnya sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya acuan.
Pada akhirnya, dunia kerja tidak hanya ditentukan oleh “tipe kepribadian”, tetapi juga oleh kemampuan, pengalaman, dan bagaimana seseorang terus berkembang.
MBTI boleh populer, tetapi bukan penentu masa depan karier. Jika kamu pernah mengikutinya, anggap saja sebagai alat untuk mengenal diri, bukan label yang membatasi potensimu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Discovermagazine.com