Ilustrasi suka olahraga. (freepik)
INDOZONE.ID - Minuman energi atau energy drink mungkin selama ini dikenal sebagai pilihan utama untuk memulihkan tubuh setelah berolah raga.
Namun, studi terbaru menunjukkan bahwa susu cokelat justru lebih efektif sebagai minuman pemulihan pasca-latihan.
Alasannya terletak pada rasio karbohidrat dan protein yang dimilikinya, yakni sekitar 3:1.
Baca juga: 7 Cara Naikin Imun Tubuh Secara Alami, Biar Gak Gampang Tumbang!
Rasio ini dinilai ideal untuk membantu tubuh mengisi kembali cadangan glikogen sekaligus memperbaiki jaringan otot yang rusak akibat aktivitas fisik intens.
Tak hanya itu, susu cokelat juga mengandung elektrolit dan cairan yang dapat membantu menggantikan apa yang hilang melalui keringat, sehingga mampu menghidrasi tubuh secara optimal.
Beberapa penelitian bahkan menyebutkan bahwa atlet yang mengonsumsi susu cokelat setelah berolah raga menunjukkan peningkatan performa dalam sesi latihan berikutnya, dibandingkan dengan mereka yang mengonsumsi minuman pemulihan lainnya.
Baca juga: 5 Fakta Penting Mata Kering yang Harus Diwaspadai, Hati-hati Tanda Autoimun
Sementara itu, meskipun minuman olah raga dirancang untuk memberikan hidrasi dan energi cepat, kandungan proteinnya cenderung rendah dan kurang mendukung pemulihan otot secara menyeluruh.
Lebih lanjut, minuman energi umumnya mengandung kafein dan gula dalam jumlah tinggi, yang justru dapat mengganggu proses pemulihan otot dan bukan pilihan terbaik untuk rehidrasi.
Perlu diketahui, meskipun gula memang termasuk elektrolit, konsumsi gula berlebihan dapat menurunkan penyerapan magnesium dan meningkatkan ekskresinya, yang pada akhirnya dapat menyebabkan dehidrasi.
Baca juga: Begadang dan Overthinking, Ini 5 Kebiasaan Gen Z di Malam Hari yang Bisa Bikin Kesehatan Menurun
Namun, perlu diingat juga bahwa tidak semua susu cokelat baik untuk pemulihan.
Hindari produk yang mengandung sirup cokelat tinggi gula, seperti Hershey’s atau semacamnya, jika tujuan utamanya adalah pemulihan pasca-latihan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Science For Sport