Ilustrasi holiday blues. (Freepik)
INDOZONE.ID - Psikolog klinis Virginia Hanny menjelaskan bahwa post holiday blues, kondisi emosional sementara pasca-libur berakhir, dapat dialami siapa saja, mulai dari pekerja hingga pelajar.
“Penelitian menunjukkan bahwa kondisi ini berkaitan dengan peralihan dari aktivitas menyenangkan ke tuntutan sehari-hari, dan betul bisa dihadapi oleh siapa saja termasuk anak sekolah, mahasiswa maupun pekerja kantoran,” kata Virginia.
Psikolog lulusan Universitas Padjadjaran itu menyebutkan sejumlah gejala post holiday blues meliputi:
Baca juga: Post Holiday Blues Bisa Datang Usai Liburan Akhir Tahun, Begini 6 Cara Mengantisipasinya
"Mudah lelah, lesu atau sulit konsentrasi, gangguan tidur; mudah tersinggung atau merasa cemas ketika dihadapkan oleh kewajiban, serta perasaan 'tidak siap' untuk menghadapi rutinitas kembali,” tuturnya.
Virginia menegaskan bahwa post holiday blues bukan gangguan mental, melainkan respons adaptif normal terhadap perubahan rutinitas.
Kondisi ini umumnya berlangsung beberapa hari hingga 1-2 minggu, di mana mood dan energi akan menyesuaikan diri seiring berjalannya waktu.
Baca juga: Sering Dianggap Sama, Ini Perbedaan Burnout dan Post Holiday Blues
Namun, ia mengingatkan perlunya waspada jika gejala bertahan lebih dari dua minggu.
“Tidak ada waktu yang pasti untuk menentukan kapan post holiday blues akan bertahan," ujar psikolog yang berpraktik di Personal Growth itu.
“Kita perlu waspada apabila mereka bertahan lebih dari dua minggu, gejalanya semakin berat atau sudah mengganggu keberfungsian individu di akademik atau pekerjaan, karena bisa jadi mereka bukan lagi post holiday blues,” tambahnya.
Dalam kasus tersebut, Virginia menyarankan untuk segera mencari bantuan dari psikolog klinis, psikiater, atau profesional kesehatan mental lainnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA