Ilustrasi kesehatan jantung. (Eliani Kusnedi)
INDOZONE.ID - Sindrom Koroner Akut (SKA) merupakan istilah medis yang digunakan, untuk menggambarkan berbagai kondisi akibat berkurangnya aliran darah secara tiba-tiba ke jantung.
Kondisi ini mencakup serangan jantung (infark miokard), dan angina tidak stabil, yaitu jenis nyeri dada yang berbahaya.
Ketika aliran darah ke jantung menurun, otot jantung tidak mendapatkan cukup oksigen. Jika sel-sel jaringan jantung rusak atau mati, maka terjadilah serangan jantung.
Sementara itu, pada angina tidak stabil, penurunan aliran darah belum cukup parah untuk menyebabkan kematian sel, tetapi tetap meningkatkan risiko serangan jantung.
Sindrom koroner akut merupakan kondisi darurat medis, yang membutuhkan penanganan segera. Tujuan utama pengobatan adalah, memperbaiki aliran darah, meredakan gejala, serta mencegah komplikasi serius.
Baca juga: Bukan Diet Ketat! Ini 9 Cara Mudah Jaga Jantung Tetap Sehat
Dikutip dari Mayo Clinic, gejala biasanya muncul secara tiba-tiba, dan dapat bervariasi pada setiap orang. Beberapa tanda yang paling umum meliputi:
Nyeri dada merupakan gejala paling umum. Namun, pada wanita, lansia, dan penderita diabetes, gejala bisa muncul tanpa nyeri dada, sehingga sering tidak disadari.
Serangan jantung. (Photo/Ilustrasi/Pixabay)
Sindrom koroner akut adalah kondisi darurat. Nyeri dada bisa menjadi tanda penyakit yang mengancam jiwa. Segera cari bantuan medis, jika mengalami gejala tersebut. Jangan mengemudi sendiri ke rumah sakit.
Penyebab utama sindrom koroner akut adalah, penumpukan lemak (plak) di dinding pembuluh darah jantung. Ketika plak pecah, dapat terbentuk bekuan darah yang menghambat aliran darah ke jantung.
Kekurangan oksigen akibat sumbatan ini, dapat menyebabkan kerusakan atau kematian sel otot jantung, yang berujung pada serangan jantung.
Beberapa faktor yang meningkatkan risiko sindrom koroner akut antara lain:
Sindrom koroner akut biasanya didiagnosis di rumah sakit, melalui pemeriksaan medis dan serangkaian tes, seperti:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Mayo Clinic